(0275) 2974 127
Setelah mengunggah Instagram Stories, seseorang mungkin kembali melihat konten tersebut untuk mengecek bagaimana penampilan atau isi unggahannya terlihat. Misalnya, pengguna ingin memastikan ekspresi wajah, kualitas gambar, suara, tulisan, atau keseluruhan video sudah sesuai dengan yang diharapkan.
Salah satu konsep yang relevan untuk memahami perilaku tersebut adalah self-presentation, yaitu proses ketika seseorang berusaha menampilkan dirinya kepada orang lain dengan cara tertentu. Penelitian mengenai Instagram menunjukkan bahwa platform tersebut dapat menjadi ruang untuk melakukan presentasi diri melalui konten visual. Studi mengenai Instagram Stories juga menemukan bahwa pengguna memanfaatkan fitur tersebut untuk menampilkan gaya hidup, minat, nilai, serta aspek identitas tertentu kepada audiens. Namun, penelitian tersebut belum secara khusus membuktikan bahwa orang yang menonton Stories sendiri berulang kali melakukannya untuk mengevaluasi penampilan.
Ketika seseorang melihat kembali Stories miliknya, salah satu kemungkinan adalah melakukan evaluasi terhadap bagaimana dirinya terlihat dalam unggahan tersebut. Pengguna dapat memperhatikan hal-hal seperti ekspresi wajah, posisi kamera, pencahayaan, pakaian, atau kualitas gambar yang sebelumnya tidak terlalu diperhatikan.
Hal ini berkaitan dengan penelitian mengenai presentasi diri di Instagram. Sebuah penelitian terhadap 212 pengguna Instagram berusia 18–24 tahun menemukan adanya berbagai strategi presentasi diri, termasuk ingratiation, supplication, dan enhancement. Penelitian tersebut juga menemukan adanya perbedaan penggunaan strategi presentasi diri berdasarkan tipe kepribadian tertentu. Namun, penelitian ini menggunakan non-probability accidental sampling, sehingga hasilnya tidak dapat langsung digeneralisasikan kepada seluruh pengguna Instagram.
Penelitian lain mengenai profil Instagram menunjukkan bahwa elemen visual seperti selfie, wajah, dan layout profil dapat berperan dalam bagaimana orang lain membentuk persepsi terhadap pemilik akun. Penelitian tersebut mengamati bagaimana pengamat menilai kepribadian pemilik akun berdasarkan tampilan Instagram, sehingga mendukung gagasan bahwa tampilan visual di Instagram dapat berhubungan dengan proses pembentukan kesan.
Karena itu, seseorang yang melihat kembali Stories sendiri mungkin saja sedang mengevaluasi apakah tampilan dirinya sudah sesuai dengan kesan yang ingin ditampilkan. Namun, hubungan tersebut sebaiknya dipahami sebagai kemungkinan berdasarkan konsep self-presentation, bukan sebagai kesimpulan bahwa setiap orang yang menonton ulang Stories pasti sedang mengevaluasi penampilan.
Selain penampilan, pengguna juga dapat memperhatikan kembali isi Stories yang telah dibuat. Misalnya, seseorang mengunggah video sambil berbicara dan kemudian melihatnya kembali untuk memastikan pesan yang disampaikan terdengar jelas atau tampilan videonya sesuai dengan yang diharapkan.
Dalam konteks media sosial, pengguna memang memiliki kesempatan untuk mengatur bagaimana dirinya ditampilkan kepada audiens. Literature review mengenai presentasi diri di Instagram dan Facebook menemukan bahwa penelitian sebelumnya telah menghubungkan self-presentation dengan sejumlah faktor, termasuk kepribadian, harga diri, narsisme, demografi, dan faktor sosial atau budaya.
Penelitian yang secara khusus membahas Instagram Stories juga menunjukkan bahwa fitur tersebut dapat digunakan sebagai sarana presentasi diri. Salah satu penelitian terhadap 23 pengguna yang rutin membuat Instagram Stories menemukan bahwa mereka menggunakan Stories antara lain untuk menampilkan gaya hidup, minat, nilai, berhubungan dengan orang lain, serta mengarsipkan atau mengingat aktivitas tertentu.
Dengan demikian, pengguna dapat memiliki pertimbangan tertentu mengenai bagaimana konten yang mereka unggah akan dilihat oleh audiens. Namun, pertimbangan tersebut tidak berarti bahwa setiap tindakan melihat kembali Stories memiliki motif psikologis yang sama.
Menonton ulang Stories sendiri juga tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang sedang mencari pujian, perhatian, atau validasi dari orang lain.
Seseorang mungkin hanya ingin memastikan bahwa hasil akhirnya sesuai dengan ekspektasi pribadi. Misalnya, setelah membuat video, pengguna dapat melihat kembali hasilnya untuk memastikan ekspresi, suara, tulisan, atau visualnya terlihat seperti yang diinginkan.
Penelitian mengenai Instagram memang menunjukkan adanya hubungan antara self-presentation dan respons terhadap feedback. Salah satu studi terhadap pengguna Instagram berusia 18–30 tahun meneliti hubungan antara kepribadian, self-presentation, dan respons emosional terhadap skenario feedback positif maupun negatif di Instagram. Penelitian tersebut menemukan hubungan tertentu antara false-self presentation, self-criticism, dan respons emosional terhadap skenario feedback.
Namun, penelitian tersebut tidak secara khusus mengamati kebiasaan menonton Instagram Stories sendiri berulang kali. Karena itu, hasilnya tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa orang yang mengecek Stories berkali-kali sedang mencari validasi.
Jadi, apabila seseorang sering menonton IG Stories sendiri, salah satu penjelasan yang mungkin adalah keinginan untuk melihat kembali bagaimana dirinya atau kontennya ditampilkan. Konsep self-presentation memberikan dasar teoritis untuk kemungkinan tersebut, tetapi belum ada cukup bukti untuk mengatakan bahwa hal tersebut merupakan penyebab pasti dari kebiasaan menonton ulang Stories.
Frekuensi menonton ulang saja juga belum cukup untuk menentukan alasan psikologis seseorang. Untuk memahami perilaku tersebut secara lebih tepat, perlu dilihat konteksnya, alasan pengguna melakukannya, serta apakah kebiasaan tersebut menimbulkan dampak tertentu dalam kehidupan sehari-hari.
Ingin mempelajari lebih banyak seputar web development, cloud computing, keamanan siber, server, hingga berbagai tren teknologi terbaru? Kunjungi blog Hosteko untuk mendapatkan artikel yang informatif, mudah dipahami, dan selalu diperbarui mengikuti perkembangan dunia digital.
Jangan lewatkan berbagai panduan, tips, serta tutorial yang dapat membantu Anda mengembangkan website, meningkatkan performa bisnis online, dan memperluas wawasan di bidang teknologi. Temukan artikel menarik lainnya hanya di Hosteko Blog dan terus ikuti informasi terbaru untuk mendukung perjalanan digital Anda.
Di era digital, memiliki website bukan lagi hanya kebutuhan perusahaan besar. UMKM juga dapat memanfaatkan…
Gangguan operasional dapat terjadi kapan saja. Server mengalami kerusakan, jaringan internet terputus, bencana alam mengganggu…
Pernah mengunggah Instagram Stories, lalu beberapa saat kemudian membukanya lagi? Bahkan, bukan hanya sekali, tetapi…
Dalam jaringan komputer, router membutuhkan informasi routing untuk menentukan ke mana paket data harus diteruskan.…
Dalam lingkungan bisnis modern, data biasanya berasal dari banyak sistem yang berbeda. Perusahaan dapat memiliki…
Setelah mengetahui bahwa TeraBox merupakan layanan penyimpanan berbasis cloud, hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah…