(0275) 2974 127
Media sosial telah menjadi bagian penting dalam aktivitas sehari-hari. Orang menggunakannya untuk mencari informasi, melihat rekomendasi produk, membandingkan pilihan, membaca pengalaman pelanggan lain, hingga berkomunikasi dengan bisnis.
Kondisi tersebut membuat media sosial tidak hanya berfungsi sebagai tempat membagikan foto atau video. Jika digunakan dengan strategi yang tepat, media sosial dapat menjadi salah satu saluran untuk mendapatkan pelanggan baru dan mempertahankan pelanggan lama.
Namun, memiliki akun media sosial dan rutin membuat postingan belum tentu menghasilkan penjualan. Banyak bisnis sudah aktif mengunggah konten, tetapi belum mendapatkan pelanggan yang sesuai. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya alur yang jelas dari konten menuju tindakan yang diharapkan, seperti mengirim pesan, mengunjungi website, meminta informasi, melakukan pemesanan, atau membeli produk.
Karena itu, cara mendapatkan pelanggan dari media sosial perlu dimulai dari pemahaman terhadap target pasar, pemilihan platform, pembuatan konten yang relevan, interaksi dengan audiens, hingga pengukuran hasil.
Media sosial memiliki keunggulan karena memungkinkan bisnis berinteraksi langsung dengan calon pelanggan. Bisnis tidak hanya menyampaikan promosi, tetapi juga dapat menjawab pertanyaan, menunjukkan produk, membagikan pengalaman pelanggan, dan membangun kepercayaan.
Bagi bisnis kecil, media sosial juga dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan usaha tanpa harus langsung mengeluarkan biaya pemasaran yang besar. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada strategi dan konsistensi dalam mengelolanya.
Secara sederhana, media sosial dapat membantu bisnis melalui beberapa tahap berikut:
Menjangkau → Menarik perhatian → Membangun kepercayaan → Berinteraksi → Mengarahkan calon pelanggan → Menghasilkan transaksi
Artinya, tidak semua orang yang melihat konten akan langsung membeli. Sebagian mungkin baru mengenal bisnis, sebagian lainnya sedang mempertimbangkan produk, dan sebagian sudah siap melakukan pembelian. Strategi media sosial yang baik perlu mampu melayani setiap tahap tersebut.
Kesalahan yang cukup sering dilakukan bisnis adalah membuat konten untuk semua orang. Padahal, semakin jelas target pelanggan, semakin mudah menentukan jenis konten, gaya komunikasi, platform, dan penawaran yang sesuai.
Misalnya, bisnis menjual makanan sehat. Target pelanggannya dapat berupa pekerja kantoran yang ingin mengatur pola makan tetapi tidak memiliki banyak waktu untuk memasak. Dari informasi tersebut, konten yang dibuat dapat lebih spesifik, seperti:
Dengan demikian, konten tidak sekadar mempromosikan produk, tetapi berbicara langsung dengan kebutuhan calon pelanggan.
Beberapa hal yang dapat dipetakan antara lain:
| Faktor | Contoh |
|---|---|
| Usia | 20–35 tahun |
| Lokasi | Yogyakarta dan sekitarnya |
| Pekerjaan | Mahasiswa, pekerja kantoran, pengusaha |
| Masalah | Tidak punya banyak waktu |
| Kebutuhan | Produk praktis dan mudah digunakan |
| Kebiasaan | Aktif mencari rekomendasi melalui media sosial |
| Kemampuan membeli | Menyesuaikan dengan harga produk |
Semakin baik bisnis memahami target pelanggan, semakin mudah membuat konten yang terasa relevan.
Tidak semua bisnis harus aktif di seluruh platform media sosial. Mencoba mengelola terlalu banyak platform sekaligus dapat membuat bisnis kesulitan mempertahankan kualitas dan konsistensi konten.
Sejumlah panduan social media marketing untuk bisnis kecil juga menyarankan untuk memprioritaskan satu atau dua platform yang paling banyak digunakan oleh target pelanggan.
Berikut gambaran sederhananya:
| Platform | Cocok untuk | Contoh konten |
|---|---|---|
| Produk visual, lifestyle, UMKM | Reels, foto produk, Stories | |
| TikTok | Video pendek, edukasi, hiburan | Tutorial, demo, tips |
| Komunitas dan bisnis lokal | Grup, posting produk, video | |
| B2B dan jasa profesional | Insight, studi kasus, artikel | |
| YouTube | Edukasi dan konten mendalam | Tutorial, review, demonstrasi |
Pemilihan platform sebaiknya tidak hanya berdasarkan platform yang sedang populer. Pertimbangkan juga tempat target pelanggan benar-benar aktif. Lebih baik mengelola satu platform dengan baik daripada memiliki banyak akun tetapi semuanya tidak terurus.
Sebelum membeli, calon pelanggan biasanya ingin mengetahui siapa bisnis tersebut, apa yang ditawarkan, dan bagaimana cara menghubunginya. Karena itu, profil media sosial harus dibuat sejelas mungkin.
Pastikan beberapa informasi penting tersedia:
Contohnya, bio yang terlalu umum seperti “Menyediakan produk berkualitas dengan harga terbaik.” kurang memberikan informasi kepada calon pelanggan.
Bio yang lebih spesifik dapat menjelaskan:
“Jasa desain website untuk UMKM | Website cepat dan profesional | Konsultasi melalui WhatsApp.”
Dengan begitu, pengunjung dapat langsung memahami bisnis tersebut dan tindakan yang harus dilakukan berikutnya.
Salah satu cara mendapatkan pelanggan dari media sosial adalah berhenti menjadikan setiap posting sebagai iklan. Calon pelanggan tidak selalu ingin melihat promosi.
Mereka juga membutuhkan informasi yang membantu menyelesaikan masalah. Misalnya, bisnis menjual skincare. Jangan hanya membuat konten seperti: “Beli sekarang, diskon 20%!”. Buat juga konten seperti:
Konten seperti ini dapat membantu bisnis membangun kepercayaan sekaligus memperkenalkan produk secara lebih alami.
Konten media sosial tidak harus selalu berupa promosi produk. Agar akun tidak terasa seperti katalog, gunakan beberapa kategori konten.
| Jenis konten | Tujuan |
|---|---|
| Edukasi | Memberikan informasi dan membangun kredibilitas |
| Hiburan | Menarik perhatian dan meningkatkan interaksi |
| Inspirasi | Mendorong audiens membayangkan manfaat produk |
| Promosi | Mendorong pembelian |
| Testimoni | Membangun kepercayaan |
| Behind the scenes | Menunjukkan sisi manusiawi bisnis |
| Interaksi | Mengajak audiens berkomunikasi |
| User-generated content | Menunjukkan pengalaman pelanggan |
Kombinasi tersebut membuat konten lebih beragam sekaligus membantu audiens melewati proses dari mengenal hingga mempertimbangkan produk.
Calon pelanggan biasanya lebih tertarik pada manfaat yang akan mereka dapatkan daripada daftar fitur produk.
Misalnya, sebuah aplikasi memiliki fitur sinkronisasi otomatis.
Daripada hanya mengatakan: “Aplikasi dilengkapi fitur sinkronisasi otomatis.”
Konten dapat menjelaskan:
“Tidak perlu memasukkan data yang sama berkali-kali. Data dapat diperbarui secara otomatis sehingga pekerjaan menjadi lebih praktis.”
Perbedaan ini terlihat sederhana, tetapi dapat membuat pesan pemasaran lebih mudah dipahami.
Gunakan pola: Masalah → Solusi → Manfaat → Bukti → Ajakan bertindak
Contohnya:
Masalah: Website lambat membuat pengunjung pergi.
Solusi: Optimalkan gambar dan caching.
Manfaat: Halaman dapat dimuat lebih efisien.
Bukti: Tampilkan hasil sebelum dan sesudah optimasi.
CTA: Ajak audiens berkonsultasi.
Konten yang menarik tidak selalu membutuhkan produksi yang rumit. Video sederhana dengan pencahayaan baik, audio jelas, dan pembahasan yang relevan dapat lebih bermanfaat daripada konten yang terlihat mewah tetapi tidak memberikan informasi.
Gunakan bahasa yang sesuai dengan target audiens. Untuk bisnis yang menyasar masyarakat umum, hindari terlalu banyak istilah teknis. Jika istilah tersebut memang diperlukan, berikan penjelasan singkat. Tujuannya adalah membuat calon pelanggan merasa bahwa bisnis memahami masalah mereka.
Video pendek menjadi salah satu format yang banyak digunakan di berbagai platform media sosial. Format ini dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, misalnya:
Misalnya bisnis menjual vacuum cleaner.
Daripada hanya menampilkan foto produk, buat video:
“3 jenis kotoran yang sulit dibersihkan dengan sapu biasa.”
Kemudian tunjukkan bagaimana produk digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Konten menjadi lebih menarik karena dimulai dari masalah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Orang cenderung lebih percaya ketika melihat pengalaman pengguna lain. Karena itu, manfaatkan testimoni pelanggan sebagai bagian dari strategi mendapatkan pelanggan dari media sosial. Testimoni dapat berupa:
Namun, pastikan testimoni yang digunakan benar-benar berasal dari pelanggan dan tidak dibuat-buat. Testimoni juga sebaiknya tidak hanya berbicara tentang “produk bagus”. Testimoni yang menjelaskan masalah, solusi, dan hasil akan lebih informatif.
Media sosial pada dasarnya merupakan ruang interaksi. Karena itu, jangan hanya mengunggah konten lalu meninggalkannya.
Balas komentar dan pesan dari calon pelanggan. Ajukan pertanyaan. Buat polling. Minta pendapat. Gunakan fitur interaksi yang tersedia.
Contohnya: “Menurut Anda, mana yang lebih sulit: membuat website atau mengelola media sosial?”
Pertanyaan sederhana dapat membuka percakapan dengan audiens. Dari percakapan tersebut, bisnis juga dapat menemukan kebutuhan dan masalah pelanggan yang dapat dijadikan ide konten maupun produk.
Ketika seseorang mengirim pesan “Kak, berapa harganya?” itu bukan sekadar pesan biasa. Bisa jadi orang tersebut sudah memiliki minat terhadap produk.
Karena itu, respons yang lambat, terlalu singkat, atau tidak jelas dapat membuat calon pelanggan berpindah ke kompetitor. Siapkan informasi dasar seperti:
Semakin mudah calon pelanggan mendapatkan informasi, semakin kecil hambatan menuju pembelian.
Konten yang bagus tetap membutuhkan arahan. Jangan membuat calon pelanggan menebak apa yang harus dilakukan setelah melihat konten. Gunakan CTA atau Call-to-Action yang sesuai dengan tujuan.
Contohnya:
CTA sebaiknya spesifik dan tidak terlalu banyak dalam satu konten.
Konten edukasi membantu membangun kepercayaan, tetapi pada tahap tertentu calon pelanggan membutuhkan alasan untuk melakukan pembelian. Penawaran dapat berupa:
Namun, jangan terus-menerus menggunakan diskon sebagai satu-satunya strategi. Jika setiap konten selalu menawarkan potongan harga, pelanggan dapat terbiasa menunggu promo.
Lebih baik menggabungkan promosi dengan edukasi, manfaat produk, dan bukti pengalaman pelanggan.
Konten yang dibuat pelanggan atau user-generated content (UGC) dapat menjadi materi pemasaran yang sangat berguna.
Misalnya pelanggan membeli produk dan kemudian mengunggah video menggunakan produk tersebut. Dengan izin pelanggan, bisnis dapat membagikan kembali konten tersebut. UGC dapat membantu karena produk terlihat digunakan dalam situasi nyata, bukan hanya ditampilkan melalui materi promosi bisnis.
Contohnya:
Untuk beberapa jenis bisnis, pelanggan tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli kepercayaan kepada orang di balik bisnis tersebut. Hal ini sangat relevan untuk:
Daripada hanya berbicara mengenai produk, pemilik bisnis dapat membagikan:
Dengan cara tersebut, audiens dapat mengenal bisnis sekaligus orang yang menjalankannya.
Hashtag masih dapat membantu mengelompokkan dan menemukan konten, tetapi jangan menggunakannya secara berlebihan. Pilih hashtag yang benar-benar berhubungan dengan topik dan target pasar. Selain hashtag, gunakan kata-kata yang memang dicari atau digunakan audiens dalam:
Namun, jangan memasukkan kata kunci secara paksa. Konten tetap harus terasa natural.
Komunitas dapat menjadi sumber pelanggan potensial, terutama untuk bisnis yang memiliki target pasar spesifik. Misalnya:
Namun, jangan masuk ke komunitas hanya untuk melakukan spam promosi. Berikan kontribusi terlebih dahulu melalui informasi, jawaban, pengalaman, atau solusi.
Ketika orang sudah mengenal dan percaya, peluang mereka tertarik terhadap produk atau layanan akan lebih besar.
Media sosial juga menyediakan iklan berbayar yang dapat digunakan untuk menjangkau audiens tertentu. Iklan dapat digunakan untuk:
Namun, iklan bukan solusi untuk semua masalah. Jika konten, penawaran, halaman produk, atau proses pemesanan belum baik, menambah anggaran iklan belum tentu menghasilkan pelanggan.
Sebaiknya tentukan terlebih dahulu:
Target → Penawaran → Konten/Iklan → Landing page atau chat → Konversi
Tidak semua orang membeli pada interaksi pertama. Seseorang mungkin sudah melihat produk tetapi belum siap membeli. Ada yang membuka website tetapi belum melakukan transaksi. Ada juga yang pernah mengirim pesan tetapi belum melanjutkan pembelian.
Kelompok tersebut dapat menjadi target retargeting jika platform dan sistem yang digunakan mendukungnya.
Tujuannya bukan sekadar menampilkan iklan berulang-ulang, tetapi mengingatkan calon pelanggan dengan pesan yang lebih relevan.
Jumlah followers memang dapat menjadi salah satu indikator perkembangan akun, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Bisnis perlu melihat apakah aktivitas media sosial benar-benar menghasilkan tindakan yang berkaitan dengan tujuan bisnis. Beberapa metrik yang dapat diperhatikan:
| Metrik | Yang Diukur |
|---|---|
| Reach | Jumlah orang yang melihat konten |
| Engagement | Interaksi terhadap konten |
| Profile visit | Kunjungan ke profil |
| Link clicks | Jumlah klik tautan |
| Leads | Calon pelanggan yang masuk |
| Conversion | Tindakan pembelian atau pendaftaran |
| Sales | Pendapatan dari aktivitas pemasaran |
| Cost per lead | Biaya untuk mendapatkan satu lead |
| Customer acquisition cost | Biaya mendapatkan pelanggan |
Dengan melihat metrik tersebut, bisnis dapat mengetahui konten mana yang hanya menghasilkan perhatian dan konten mana yang benar-benar membantu menghasilkan pelanggan.
Ketiga istilah ini sering dianggap sama, padahal berbeda.
| Tahap | Pengertian | Contoh |
|---|---|---|
| Followers | Orang yang mengikuti akun | Mengikuti Instagram bisnis |
| Leads | Orang yang menunjukkan minat | Mengisi formulir atau bertanya melalui WhatsApp |
| Pelanggan | Orang yang melakukan pembelian | Membeli produk |
| Pelanggan loyal | Pelanggan yang kembali membeli | Melakukan repeat order |
Karena itu, mendapatkan 10.000 followers belum tentu lebih baik daripada mendapatkan 1.000 followers yang benar-benar sesuai target pasar.
Fokus utama sebaiknya adalah kualitas audiens dan kemampuannya menghasilkan tindakan bisnis.
Agar konten lebih terarah, bisnis dapat membaginya berdasarkan tahap perjalanan pelanggan.
| Tahap | Kondisi Audiens | Jenis Konten |
|---|---|---|
| Awareness | Belum mengenal bisnis | Tips, edukasi, hiburan |
| Interest | Mulai tertarik | Manfaat produk, tutorial |
| Consideration | Membandingkan pilihan | Review, studi kasus, testimoni |
| Conversion | Siap membeli | Promo, penawaran, CTA |
| Retention | Sudah menjadi pelanggan | Tips penggunaan, loyalty program |
| Advocacy | Puas dan merekomendasikan | UGC, referral, review |
Dengan pendekatan ini, akun media sosial tidak hanya berisi promosi. Setiap konten memiliki fungsi yang berbeda dalam perjalanan calon pelanggan.
Misalnya sebuah UMKM menjual kue ulang tahun.
Strategi sederhananya dapat dibuat seperti berikut:
Senin — Edukasi
“5 Hal yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Memesan Kue Ulang Tahun”
Selasa — Behind the Scenes
Video proses menghias kue.
Rabu — Testimoni
Foto kue pelanggan dan ulasan mereka.
Kamis — Tips
“Bagaimana Memilih Ukuran Kue Sesuai Jumlah Tamu?”
Jumat — Produk
Menampilkan beberapa pilihan desain kue.
Sabtu — Video pendek
Video proses pembuatan kue dari awal hingga selesai.
Minggu — Promo
Penawaran khusus untuk pemesanan minggu berikutnya.
Setiap konten mempunyai tujuan yang berbeda, tetapi semuanya tetap mengarah pada tujuan bisnis.
Strategi mendapatkan pelanggan dapat dibuat sederhana. Misalnya:
Konten edukasi
↓
Audiens tertarik
↓
Mengunjungi profil
↓
Melihat produk dan testimoni
↓
Klik link atau mengirim pesan
↓
Mendapatkan informasi
↓
Melakukan pembelian
↓
Mendapatkan pengalaman yang baik
↓
Memberikan review
↓
Berpotensi melakukan pembelian kembali
Inilah alasan mengapa mendapatkan pelanggan dari media sosial tidak hanya bergantung pada satu postingan. Diperlukan rangkaian aktivitas yang saling mendukung.
Beberapa kesalahan dapat membuat aktivitas media sosial kurang efektif.
Followers besar tidak selalu berarti penjualan tinggi. Yang lebih penting adalah apakah audiens tersebut sesuai dengan target pelanggan.
Jika setiap posting berisi penawaran, audiens dapat merasa akun tersebut hanya ingin menjual. Seimbangkan promosi dengan edukasi, hiburan, informasi, dan interaksi.
Tidak harus membuat konten setiap hari, tetapi jadwal yang konsisten membantu bisnis menjaga hubungan dengan audiens. Pilih frekuensi yang realistis dan dapat dipertahankan.
Calon pelanggan yang sudah tertarik tetapi tidak mendapatkan respons dapat kehilangan minat. Pastikan pesan dan komentar diperiksa secara rutin.
Tidak semua tren sesuai dengan identitas bisnis. Gunakan tren hanya jika memang relevan dengan target audiens dan produk.
Followers yang tidak relevan atau akun palsu tidak membantu meningkatkan kualitas pelanggan. Bahkan, jumlah followers yang besar tetapi tidak memiliki interaksi dapat membuat performa akun terlihat tidak sehat.
Tanpa pengukuran, bisnis sulit mengetahui apakah strategi yang dijalankan benar-benar efektif. Gunakan data untuk menentukan konten dan strategi mana yang perlu diteruskan, diperbaiki, atau dihentikan.
Jika baru mulai, tidak perlu langsung menerapkan semuanya. Gunakan langkah sederhana berikut:
Strategi ini lebih realistis daripada mencoba melakukan semua hal sekaligus.
Cara mendapatkan pelanggan dari media sosial tidak cukup hanya dengan rutin membuat postingan. Bisnis perlu memahami target pelanggan, memilih platform yang sesuai, membuat konten yang relevan, membangun kepercayaan, berinteraksi dengan audiens, dan menyediakan jalur yang jelas menuju pembelian.
Jumlah followers dan likes memang dapat menjadi indikator, tetapi keberhasilan sebenarnya terlihat dari kemampuan media sosial dalam menghasilkan interaksi yang berkualitas, leads, penjualan, dan pelanggan yang kembali membeli. Pendekatan yang berorientasi pada tujuan bisnis dan pengukuran hasil menjadi semakin penting dalam strategi social media marketing.
Dengan strategi yang konsisten dan evaluasi berdasarkan data, media sosial dapat menjadi bagian penting dari pemasaran bisnis, baik untuk UMKM, bisnis online, maupun perusahaan yang ingin menjangkau pelanggan secara lebih luas.
Untuk memahami lebih banyak tentang digital marketing, bisnis online, website, hosting, dan perkembangan teknologi digital, simak berbagai artikel informatif lainnya di Blog Hosteko.
Setelah mengetahui fitur-fiturnya, orang tua dapat mulai menggunakan Google Family Link untuk mengelola sejumlah pengaturan…
Dalam menjalankan bisnis, organisasi, maupun sebuah proyek, pencapaian tujuan perlu diukur secara jelas. Tanpa indikator…
Dalam SEO, mesin pencari tidak hanya melihat kata kunci yang terdapat di dalam sebuah halaman.…
Google Family Link menyediakan sejumlah fitur yang membantu orang tua mengatur penggunaan perangkat dan layanan…
Cloud computing memungkinkan organisasi menggunakan sumber daya komputasi seperti server, storage, dan jaringan secara lebih…
Di tengah semakin banyaknya anak menggunakan smartphone dan layanan internet, orang tua membutuhkan cara untuk…