(0275) 2974 127
Bystander Privacy Problem menjadi tantangan yang semakin relevan seiring meningkatnya penggunaan media sosial, perangkat pintar, kamera pengawas, dan teknologi kecerdasan buatan (AI). Aktivitas digital yang dilakukan seseorang tidak selalu hanya berdampak pada dirinya sendiri, tetapi juga dapat melibatkan informasi pribadi orang lain yang berada di sekitarnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, diperlukan kesadaran dan tanggung jawab dari setiap pengguna teknologi. Perlindungan privasi tidak cukup hanya dilakukan dengan mengamankan akun atau perangkat pribadi, tetapi juga harus memperhatikan hak individu lain yang mungkin ikut terekam, teridentifikasi, atau datanya dikumpulkan.
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi Bystander Privacy Problem, baik oleh pengguna teknologi maupun pihak yang mengelola layanan digital.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah Bystander Privacy Problem adalah meminta persetujuan sebelum mengambil atau membagikan foto dan video yang menampilkan orang lain secara jelas, terutama jika konten tersebut akan dipublikasikan secara luas atau digunakan untuk kepentingan komersial.
Kebiasaan ini penting karena seseorang belum tentu nyaman ketika wajah, aktivitas, atau identitasnya ditampilkan kepada publik. Meminta izin juga membantu memastikan bahwa individu yang bersangkutan memahami tujuan pengambilan dan penggunaan konten tersebut.
Sebagai contoh, ketika seseorang ingin mengunggah foto bersama teman atau merekam kegiatan kelompok, sebaiknya ia memastikan bahwa orang-orang yang terlihat mengetahui tujuan penggunaan konten tersebut.
Beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan antara lain:
Meminta izin bukan hanya bentuk kesopanan, tetapi juga bagian dari upaya menghormati privasi dan kendali seseorang terhadap informasi mengenai dirinya.
Meskipun demikian, persetujuan bukan satu-satunya dasar hukum untuk setiap pemrosesan data pribadi. Ketentuan yang berlaku perlu dilihat berdasarkan tujuan, konteks, dan dasar pemrosesan yang sah.
Apabila pengambilan foto atau video tidak dapat dihindari, pengguna dapat mengurangi risiko privasi dengan menyamarkan identitas individu yang tidak perlu ditampilkan.
Teknik ini dikenal sebagai blurring atau pengaburan informasi visual. Pengguna dapat mengaburkan wajah, nomor kendaraan, kartu identitas, alamat, maupun informasi lain yang berpotensi mengungkap identitas seseorang.
Sebagai contoh, seseorang ingin mengunggah video suasana pusat perbelanjaan. Jika terdapat pengunjung lain yang terlihat jelas dan bukan bagian utama dari konten, wajah mereka dapat diburamkan sebelum video dipublikasikan.
Beberapa cara yang dapat dilakukan meliputi:
Namun, penyamaran wajah saja tidak selalu cukup untuk melindungi identitas seseorang. Individu masih dapat dikenali melalui pakaian, lokasi, suara, karakteristik fisik, atau informasi kontekstual lainnya.
Oleh karena itu, pemeriksaan keseluruhan konten tetap diperlukan sebelum foto atau video dibagikan kepada publik.
Pengaturan izin aplikasi merupakan langkah penting untuk mengurangi pengumpulan data yang tidak diperlukan.
Banyak aplikasi smartphone meminta akses ke kamera, mikrofon, lokasi, kontak, dan galeri foto. Sebagian akses tersebut memang diperlukan agar fitur aplikasi dapat berfungsi, tetapi pengguna sebaiknya tidak memberikan izin secara otomatis tanpa memahami tujuannya.
Misalnya, aplikasi tertentu meminta akses ke daftar kontak. Apabila pengguna mengizinkannya, informasi orang-orang yang tersimpan dalam daftar tersebut berpotensi ikut diproses oleh layanan terkait, bergantung pada fungsi dan kebijakan aplikasi.
Untuk mengurangi risiko tersebut, pengguna dapat melakukan beberapa langkah berikut:
Pengguna Android maupun iOS dapat memanfaatkan pengaturan privasi bawaan untuk mengontrol akses aplikasi terhadap berbagai jenis informasi.
Pada Android, pengaturan tersebut dapat ditemukan melalui menu Setelan dan Izin Aplikasi. Sementara itu, pengguna iPhone dapat mengelola akses aplikasi melalui menu Pengaturan dan Privasi & Keamanan.
Perlu diingat bahwa membatasi izin aplikasi tidak selalu menghilangkan seluruh risiko Bystander Privacy Problem. Namun, langkah tersebut dapat membantu mengurangi jumlah informasi yang dikumpulkan melalui perangkat pribadi.
Pengguna teknologi perlu berhati-hati ketika membagikan rekaman yang memuat informasi pribadi orang lain. Foto, video, dan rekaman suara yang diperoleh untuk kepentingan tertentu sebaiknya tidak digunakan kembali untuk tujuan berbeda tanpa mempertimbangkan hak individu yang terlibat.
Misalnya, seseorang merekam percakapan bersama temannya untuk dokumentasi pribadi. Rekaman tersebut sebaiknya tidak langsung diunggah ke media sosial, terutama jika memuat pembicaraan sensitif atau informasi yang dapat merugikan pihak lain.
Sebelum membagikan rekaman, pengguna perlu mempertimbangkan tujuan penggunaan, isi informasi, dan kemungkinan dampaknya terhadap individu yang terlibat.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan meliputi:
Langkah ini penting untuk mencegah informasi pribadi tersebar di luar konteks awal pengambilannya.
Selain itu, penggunaan rekaman untuk tujuan baru perlu memperhatikan kesesuaian tujuan dan dasar pemrosesan data pribadi sebagaimana diatur dalam ketentuan perlindungan data yang berlaku.
Pihak yang menggunakan kamera pengawas, kamera pintar, atau perangkat perekam lainnya perlu memperhatikan transparansi terhadap orang-orang yang berada di sekitar perangkat.
Transparansi membantu individu memahami bahwa aktivitasnya mungkin direkam dan bagaimana informasi tersebut digunakan.
Sebagai contoh, pengelola pusat perbelanjaan atau perkantoran dapat memasang pemberitahuan mengenai penggunaan CCTV di area yang diawasi. Informasi tersebut sebaiknya menjelaskan tujuan pengawasan, identitas pengelola, serta pihak yang dapat dihubungi apabila seseorang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai pengelolaan rekaman.
Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain:
Panduan dari Information Commissioner’s Office (ICO), lembaga pengawas perlindungan data di Inggris, menekankan bahwa penggunaan sistem pengawasan perlu memiliki tujuan yang jelas, didasarkan pada kebutuhan, dan proporsional terhadap risiko yang ingin ditangani.
ICO juga menekankan pentingnya pemberitahuan kepada individu, pembatasan akses rekaman, serta pengaturan masa penyimpanan berdasarkan tujuan penggunaannya.
Prinsip tersebut dapat menjadi referensi praktik pengelolaan CCTV yang lebih bertanggung jawab, meskipun ketentuan hukum ICO secara langsung berlaku dalam yurisdiksi Inggris.
Pencegahan Bystander Privacy Problem tidak hanya bergantung pada pengaturan teknologi, tetapi juga membutuhkan perubahan kebiasaan pengguna.
Setiap orang perlu memahami bahwa informasi yang berkaitan dengan individu lain tidak boleh diperlakukan sembarangan. Hal ini berlaku ketika mengambil foto, merekam video, menggunakan aplikasi, maupun membagikan konten melalui media sosial.
Kesadaran tersebut dapat dibangun melalui beberapa kebiasaan berikut:
Peningkatan literasi digital juga penting agar masyarakat memahami bahwa kemudahan menggunakan teknologi harus diimbangi dengan tanggung jawab terhadap informasi yang dikumpulkan dan dibagikan.
Dengan memahami risiko privasi, pengguna dapat lebih berhati-hati dalam memanfaatkan teknologi serta menghindari tindakan yang berpotensi merugikan orang lain.
Langkah berikutnya adalah memahami aturan hukum yang mengatur pengumpulan dan penggunaan data pribadi.
Di Indonesia, perlindungan data pribadi diatur melalui Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP). Undang-undang ini mengatur hak subjek data pribadi serta kewajiban pihak yang bertindak sebagai pengendali dan prosesor data pribadi.
Beberapa ketentuan yang relevan dengan pencegahan Bystander Privacy Problem antara lain:
Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa pemrosesan data pribadi tidak selalu hanya bergantung pada persetujuan. UU PDP juga mengakui dasar pemrosesan lainnya, seperti pemenuhan kewajiban perjanjian, kewajiban hukum, perlindungan kepentingan vital, pelaksanaan tugas untuk kepentingan umum, dan kepentingan sah lainnya dengan memperhatikan keseimbangan hak para pihak.
Selain itu, UU PDP mengecualikan pemrosesan data pribadi oleh orang perseorangan dalam kegiatan pribadi atau rumah tangga sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (2). Oleh karena itu, penerapan ketentuan hukum perlu mempertimbangkan konteks kegiatan yang dilakukan.
Dengan memahami aturan tersebut, individu dapat mengetahui haknya ketika informasi pribadi dikumpulkan atau digunakan oleh pihak lain.
Apabila Bystander Privacy Problem sudah terjadi, langkah selanjutnya adalah melakukan penanganan agar dampaknya tidak semakin meluas.
Misalnya, seseorang menemukan foto atau video dirinya yang disebarkan tanpa persetujuan dan digunakan untuk mempermalukan atau merugikannya. Individu tersebut dapat mengambil beberapa langkah untuk menangani situasi tersebut.
Berikut langkah yang dapat dilakukan:
Perlu dipahami bahwa permintaan penghapusan tidak selalu berarti semua salinan informasi akan langsung hilang. Penanganannya bergantung pada jenis data, pihak yang mengelola, dasar pemrosesan, serta ketentuan hukum yang berlaku.
Oleh karena itu, penyimpanan bukti dan pelaporan melalui saluran yang tepat menjadi langkah penting untuk membantu proses penanganan penyalahgunaan informasi pribadi.
Cara mengatasi dan mencegah Bystander Privacy Problem membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pengguna teknologi, pengelola aplikasi, perusahaan penyedia perangkat, hingga pemerintah.
Pengguna dapat memulai dengan meminta izin sebelum membagikan foto orang lain, menyamarkan identitas, mengatur akses aplikasi, dan menghindari penyebaran rekaman pribadi secara sembarangan.
Sementara itu, penyedia layanan dan pengelola perangkat perlu menerapkan transparansi, membatasi pengumpulan data, serta menjaga keamanan informasi yang diproses.
Pemahaman terhadap UU Pelindungan Data Pribadi juga menjadi bagian penting dalam upaya melindungi hak individu di lingkungan digital. Dengan memahami hak subjek data dan dasar pemrosesan yang sah, masyarakat dapat lebih bijak dalam menghadapi persoalan privasi.
Ingin mempelajari lebih banyak seputar web development, cloud computing, keamanan siber, server, hingga berbagai tren teknologi terbaru? Kunjungi blog Hosteko untuk mendapatkan artikel yang informatif, mudah dipahami, dan selalu diperbarui mengikuti perkembangan dunia digital.
Jangan lewatkan berbagai panduan, tips, serta tutorial yang dapat membantu Anda mengembangkan website, meningkatkan performa bisnis online, dan memperluas wawasan di bidang teknologi. Temukan artikel menarik lainnya hanya di Hosteko Blog dan terus ikuti informasi terbaru untuk mendukung perjalanan digital Anda.
Website merupakan salah satu aset digital penting bagi bisnis, baik untuk memperkenalkan perusahaan, menawarkan produk,…
Email menjadi salah satu sarana komunikasi penting bagi bisnis, baik untuk melayani pelanggan, menerima permintaan…
Perkembangan teknologi digital memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari berkomunikasi, bekerja, berbelanja, hingga…
Email hosting penuh merupakan salah satu masalah yang dapat mengganggu aktivitas komunikasi, terutama bagi bisnis…
Perkembangan teknologi mendorong bisnis untuk menggunakan infrastruktur IT yang mampu mendukung operasional secara efisien, aman,…
Bystander Privacy Problem tidak hanya berkaitan dengan pengambilan atau penyebaran informasi pribadi tanpa persetujuan, tetapi…