HOTLINE

(0275) 2974 127

CHAT WA 24/7
0859-60000-390 (Sales)
0852-8969-9009 (Support)
Blog

Ciri-Ciri Brainrot yang Sering Dirasakan

Fenomena brainrot merupakan istilah populer di internet yang sering digunakan untuk menggambarkan perasaan sulit berkonsentrasi, mudah terdistraksi, atau terlalu banyak mengonsumsi konten digital hingga sulit berhenti. Istilah ini kerap dikaitkan dengan kebiasaan menonton video pendek, membaca meme, dan melakukan scrolling media sosial dalam waktu lama.

Namun, brainrot bukan diagnosis medis resmi dan tidak memiliki kriteria gejala baku. Pengalaman yang sering diasosiasikan dengan istilah ini dapat berkaitan dengan kebiasaan digital, tetapi juga bisa dipengaruhi oleh tidur, stres, suasana hati, lingkungan, dan kondisi kesehatan seseorang.

Tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Bulletin pada September 2025 menganalisis 71 studi dengan total 98.299 partisipan. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan video pendek yang lebih tinggi berkaitan dengan indikator kognitif yang lebih buruk, terutama perhatian dan kontrol inhibisi. Namun, temuan ini menunjukkan hubungan statistik dan tidak membuktikan bahwa konsumsi video pendek secara langsung menyebabkan gangguan kognitif pada setiap orang.

1. Sulit Mempertahankan Konsentrasi

Salah satu pengalaman yang sering diasosiasikan dengan brainrot adalah kesulitan mempertahankan perhatian ketika mengerjakan kegiatan yang membutuhkan fokus, seperti membaca buku, belajar, atau menyelesaikan pekerjaan.

Sebagai contoh, seseorang sedang membaca materi pelajaran, tetapi kemudian merasa ingin membuka media sosial. Setelah menonton satu video, ia beralih ke video berikutnya hingga lupa melanjutkan kegiatan sebelumnya.

Jika terjadi berulang kali, kebiasaan berpindah perhatian dapat mengganggu kelancaran pekerjaan dan membuat tugas membutuhkan waktu lebih lama untuk diselesaikan.

Meski demikian, kesulitan berkonsentrasi tidak selalu disebabkan oleh penggunaan media sosial. Kurang tidur, stres, kecemasan, lingkungan yang bising, dan berbagai kondisi kesehatan juga dapat memengaruhi perhatian.

Meta-analisis Nguyen dan rekan-rekan yang diterbitkan pada 2025 menemukan korelasi antara penggunaan video pendek dan perhatian sebesar (r=-0{,}38). Nilai ini menunjukkan hubungan statistik negatif antara kedua variabel dalam penelitian yang dianalisis, bukan persentase penurunan konsentrasi seseorang.

Oleh karena itu, kesulitan mempertahankan konsentrasi dapat menjadi alasan untuk mengevaluasi kebiasaan digital, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami brainrot atau gangguan kognitif tertentu.

2. Sering Membuka Media Sosial Tanpa Disadari

Pengalaman lain yang dapat diasosiasikan dengan brainrot adalah kebiasaan membuka media sosial secara otomatis, meskipun tidak ada kebutuhan khusus untuk mengaksesnya.

Misalnya, seseorang membuka ponsel untuk memeriksa jam, tetapi kemudian beralih ke TikTok atau Instagram. Ia awalnya hanya ingin melihat beberapa unggahan, tetapi akhirnya menghabiskan waktu lebih lama daripada yang direncanakan.

Kebiasaan ini perlu diperhatikan apabila seseorang berulang kali kesulitan mengendalikan durasi penggunaan, mengabaikan tugas penting, atau terus menggunakan aplikasi meskipun menyadari dampak negatifnya terhadap rutinitas.

Tinjauan sistematis Li dan rekan-rekan yang diterbitkan dalam jurnal Addiction Biology pada November 2025 membahas penggunaan video pendek bermasalah, termasuk keterlibatan intens dan kesulitan mengendalikan penggunaan. Penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa konsep ini masih memiliki keterbatasan dalam definisi dan klasifikasi klinis.

Namun, sering membuka media sosial saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami kecanduan. Penilaian perlu mempertimbangkan kemampuan mengendalikan perilaku dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

3. Mudah Terdistraksi oleh Notifikasi dan Konten Baru

Notifikasi, pesan masuk, dan rekomendasi konten dapat menarik perhatian ketika seseorang sedang melakukan aktivitas lain. Jika seseorang berulang kali memeriksa ponsel, alur pekerjaan dapat terputus dan ia perlu kembali memahami tugas yang sedang dikerjakan.

Sebagai contoh, mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas mungkin berhenti setiap kali menerima notifikasi. Setelah memeriksa pesan, ia membuka video yang direkomendasikan dan akhirnya menunda penyelesaian tugas.

Pengalaman tersebut dapat menunjukkan bahwa lingkungan digital mengganggu kemampuan seseorang mempertahankan fokus. Namun, gangguan akibat notifikasi bukan ciri khusus brainrot dan tidak dengan sendirinya membuktikan adanya gangguan perhatian jangka panjang.

Meta-analisis tahun 2025 mengenai penggunaan video pendek menemukan hubungan antara intensitas penggunaan yang lebih tinggi dan sejumlah indikator kognitif yang lebih buruk, termasuk perhatian dan kontrol inhibisi. Akan tetapi, hasil tersebut tidak membuktikan bahwa setiap notifikasi atau paparan konten baru menyebabkan penurunan kemampuan kognitif.

Untuk mengevaluasi kebiasaan ini, seseorang dapat memperhatikan seberapa sering ia memeriksa ponsel ketika bekerja, apakah tugas menjadi tertunda, dan apakah pengurangan notifikasi membantu mempertahankan fokus.

4. Merasa Bosan Ketika Tidak Mengakses Konten Digital

Sebagian pengguna terbiasa membuka ponsel ketika sedang menunggu, beristirahat, atau tidak memiliki aktivitas tertentu. Akibatnya, waktu luang tanpa layar dapat terasa membosankan, terutama ketika seseorang sudah terbiasa mengisi hampir setiap jeda dengan video atau unggahan baru.

Kebiasaan tersebut dapat mengurangi waktu yang tersedia untuk kegiatan lain, seperti membaca, berolahraga, berbincang langsung, atau beristirahat tanpa perangkat digital.

Namun, merasa bosan ketika tidak menggunakan ponsel merupakan pengalaman yang normal dan bukan bukti bahwa otak telah kehilangan kemampuan untuk menikmati kegiatan lain.

Kebosanan dapat dipengaruhi oleh suasana hati, lingkungan, kebiasaan, dan kebutuhan seseorang akan hiburan. Karena itu, pengalaman ini sebaiknya dipahami dalam konteks kebiasaan sehari-hari, bukan dijadikan indikator tunggal brainrot.

Hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah apakah seseorang merasa sulit mengendalikan penggunaan media sosial dan apakah kebiasaan tersebut mulai mengganggu aktivitas yang dianggap penting.

5. Mengalami Gangguan Tidur akibat Scrolling

Kebiasaan menggunakan ponsel menjelang tidur dapat membuat seseorang menunda waktu istirahat. Seseorang mungkin berniat menonton beberapa video sebelum tidur, tetapi terus menggulir layar hingga larut malam.

Jika kebiasaan tersebut mengurangi durasi atau kualitas tidur, dampaknya dapat berupa rasa mengantuk, berkurangnya kewaspadaan, dan kesulitan berkonsentrasi pada hari berikutnya.

Kajian naratif yang diterbitkan dalam jurnal Chronobiology International pada 2026 membahas hubungan antara paparan media digital pada malam hari, tertundanya waktu tidur, perubahan ritme sirkadian, serta gangguan perhatian dan pengaturan emosi pada hari berikutnya.

Meskipun demikian, kajian tersebut tidak membuktikan bahwa brainrot merupakan penyakit tersendiri atau bahwa penggunaan media digital dalam kebiasaan sehari-hari pasti menyebabkan kerusakan otak permanen. Dampak yang dialami seseorang dapat dipengaruhi oleh waktu penggunaan, durasi paparan, pola tidur, dan faktor individu lainnya.

Oleh karena itu, gangguan tidur lebih tepat dipahami sebagai salah satu masalah yang dapat berkaitan dengan pola penggunaan perangkat digital, bukan sebagai gejala khusus brainrot.

6. Sulit Menghentikan Scrolling meskipun Sudah Berniat Berhenti

Pengalaman lain yang sering dikaitkan dengan brainrot adalah kesulitan menghentikan konsumsi konten digital meskipun seseorang sudah berniat menutup aplikasi.

Sebagai contoh, seseorang menetapkan batas waktu 15 menit untuk menonton video, tetapi akhirnya melanjutkan aktivitas hingga satu jam. Ia mungkin ingin mengetahui konten berikutnya atau merasa tertarik mengikuti unggahan yang sedang ramai dibicarakan.

Jika terjadi berulang kali, kebiasaan ini dapat mengurangi waktu untuk belajar, bekerja, beristirahat, dan melakukan aktivitas lain.

Tinjauan sistematis Li dan rekan-rekan dalam Addiction Biology pada 2025 membahas problematic use of short video, yaitu pola penggunaan video pendek yang bermasalah. Salah satu aspek yang dibahas adalah kesulitan mengendalikan penggunaan meskipun terdapat konsekuensi negatif.

Tinjauan tersebut juga menjelaskan bahwa penggunaan video pendek belum diklasifikasikan secara resmi sebagai gangguan kecanduan tersendiri dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, edisi kelima (DSM-5), maupun International Classification of Diseases, revisi ke-11 (ICD-11).

Karena itu, kesulitan menghentikan scrolling dapat menjadi alasan untuk mengevaluasi kebiasaan digital, tetapi tidak cukup untuk menetapkan diagnosis medis. Hal yang perlu diperhatikan adalah frekuensi perilaku, kemampuan mengendalikannya, dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

7. Merasa Lelah secara Mental dan Mudah Terdistraksi setelah Lama Menatap Layar

Setelah menghabiskan waktu lama berpindah dari satu konten ke konten lainnya, seseorang mungkin merasa jenuh, lelah secara mental, atau kesulitan kembali berkonsentrasi pada pekerjaan yang membutuhkan pemikiran mendalam.

Pengalaman ini dapat berkaitan dengan kelelahan mental atau mental fatigue. Istilah tersebut memiliki cakupan lebih luas daripada brainrot dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk beban kerja, stres, kurang tidur, serta kurangnya waktu istirahat.

Paparan informasi yang terus-menerus juga dapat membuat seseorang merasa kewalahan, terutama ketika mengonsumsi banyak konten tanpa jeda atau tanpa tujuan yang jelas.

Kajian Ekici dan rekan-rekan yang diterbitkan pada 2026 membahas brainrot sebagai istilah populer untuk menggambarkan keluhan seperti kelelahan kognitif, perhatian yang terfragmentasi, dan perasaan berpikir lebih lambat setelah paparan media digital yang intens. Namun, penulis memperlakukan istilah tersebut sebagai konsep penghubung untuk membahas temuan ilmiah, bukan sebagai diagnosis medis resmi.

Bukti yang tersedia juga belum menunjukkan bahwa rasa lelah setelah menggunakan media sosial dengan sendirinya merupakan tanda kerusakan otak. Pengaruh durasi penggunaan, jenis konten, kondisi psikologis sebelumnya, kualitas tidur, dan faktor lainnya masih perlu dipertimbangkan.

Kapan Kebiasaan Digital Perlu Diperhatikan?

Tidak semua orang yang menonton banyak video pendek mengalami masalah. Penggunaan media digital lebih perlu dievaluasi ketika mulai menimbulkan konsekuensi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa hal yang dapat diperhatikan meliputi:

  • Waktu tidur terus berkurang karena menggunakan media sosial.
  • Tugas sekolah atau pekerjaan berulang kali tertunda.
  • Sulit mengendalikan durasi penggunaan meskipun sudah mencoba membatasinya.
  • Interaksi sosial dan aktivitas fisik semakin terabaikan.
  • Kesulitan berkonsentrasi atau perubahan suasana hati berlangsung terus-menerus.

Daftar tersebut merupakan indikator praktis untuk mengevaluasi kebiasaan digital, bukan alat diagnosis brainrot atau gangguan kesehatan mental.

Jika masalah konsentrasi, tidur, atau suasana hati berlangsung terus-menerus dan mengganggu kehidupan sehari-hari, sebaiknya jangan langsung menganggap penyebabnya adalah brainrot. Konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu mengidentifikasi faktor yang mendasari keluhan tersebut.

Kesimpulan

Ciri-ciri yang sering diasosiasikan dengan brainrot meliputi kesulitan mempertahankan konsentrasi, kebiasaan membuka media sosial secara otomatis, mudah terdistraksi, merasa bosan tanpa konten digital, gangguan tidur, kesulitan menghentikan scrolling, dan kelelahan mental.

Penelitian tahun 2025 menunjukkan adanya hubungan statistik antara penggunaan video pendek yang lebih tinggi dan sejumlah indikator kognitif yang lebih buruk, terutama perhatian serta kontrol inhibisi. Namun, hasil tersebut tidak membuktikan hubungan sebab-akibat pada setiap individu. Brainrot juga bukan diagnosis medis resmi, sehingga pengalaman-pengalaman tersebut tidak dapat digunakan untuk memastikan seseorang mengalami gangguan tertentu.

Hal terpenting adalah mengenali kapan kebiasaan digital mulai mengganggu tidur, produktivitas, kesehatan, atau hubungan sosial. Dengan mengevaluasi pola penggunaan secara realistis, seseorang dapat menentukan kebiasaan mana yang perlu diperbaiki tanpa harus menganggap semua konten digital sebagai sesuatu yang berbahaya.

Ingin mempelajari lebih banyak seputar web development, cloud computing, keamanan siber, server, hingga berbagai tren teknologi terbaru? Kunjungi blog Hosteko untuk mendapatkan artikel yang informatif, mudah dipahami, dan selalu diperbarui mengikuti perkembangan dunia digital.

Jangan lewatkan berbagai panduan, tips, serta tutorial yang dapat membantu Anda mengembangkan website, meningkatkan performa bisnis online, dan memperluas wawasan di bidang teknologi. Temukan artikel menarik lainnya hanya di Hosteko Blog dan terus ikuti informasi terbaru untuk mendukung perjalanan digital Anda.

5/5 - (6 votes)
Mulki A. A

Recent Posts

Jangan Tunggu Followers Banyak! Begini Cara Memulai Affiliate

Memulai affiliate di media sosial menjadi salah satu cara yang bisa dicoba untuk mendapatkan penghasilan…

2 hours ago

Dampak Brainrot terhadap Kehidupan Sehari-hari

Fenomena brainrot sering dikaitkan dengan kebiasaan mengonsumsi konten digital secara berlebihan, terutama video pendek dan…

4 hours ago

Akun Online Rentan Dibajak? Ini Cara Ampuh Mengamankannya

Cara mengamankan akun online dari pembajakan perlu dipahami oleh setiap pengguna internet, terutama karena berbagai…

7 hours ago

Penyebab Brainrot dan Dampaknya pada Konsentrasi

Brainrot semakin sering dibicarakan seiring berkembangnya media sosial, video pendek, dan berbagai tren internet. Istilah…

1 day ago

Tips Membuat Konten Review Produk yang Menarik dan Mendorong Penjualan

Konten review produk menjadi salah satu strategi pemasaran digital yang dapat membantu calon pembeli memahami…

1 day ago

Cara Memilih Produk Affiliate yang Laris, Jangan Cuma Lihat Komisi!

Affiliate marketing menjadi salah satu cara mendapatkan penghasilan dari internet dengan mempromosikan produk atau layanan…

1 day ago