HOTLINE

(0275) 2974 127

CHAT WA 24/7
0859-60000-390 (Sales)
0852-8969-9009 (Support)
Blog

Data Fabric: Pengertian, Cara Kerja, Fungsi, dan Manfaat

Apa Itu Data Fabric? Pengertian, Fungsi, Cara Kerja, dan Manfaatnya

Di era digital, organisasi semakin bergantung pada data untuk menjalankan operasional, memahami pelanggan, hingga mengambil keputusan bisnis. Namun, data biasanya tersebar di berbagai sumber, seperti database, aplikasi bisnis, cloud, data warehouse, data lake, hingga sistem on-premise. Kondisi tersebut membuat pengelolaan dan pemanfaatan data menjadi semakin kompleks.

Salah satu pendekatan yang dirancang untuk mengatasi tantangan tersebut adalah Data Fabric. Konsep ini menyediakan pendekatan terintegrasi untuk menghubungkan, mengelola, menemukan, mengakses, dan memanfaatkan data yang tersebar di berbagai lingkungan.

Data Fabric semakin relevan seiring meningkatnya penggunaan cloud computing, hybrid cloud, multicloud, big data, artificial intelligence (AI), dan machine learning (ML). Dengan arsitektur yang tepat, organisasi dapat memperoleh akses terhadap data yang lebih konsisten tanpa harus memindahkan seluruh data ke satu lokasi.

Lalu, apa itu Data Fabric, bagaimana cara kerjanya, apa saja komponennya, dan apa manfaatnya bagi perusahaan? Berikut pembahasannya.

Apa Itu Data Fabric?

Data Fabric adalah pendekatan arsitektur data yang membantu menghubungkan berbagai sumber dan lingkungan data agar dapat ditemukan, diakses, dikelola, dan digunakan secara lebih terintegrasi. Data Fabric bukan merupakan satu database atau aplikasi tertentu, melainkan pendekatan yang memanfaatkan berbagai teknologi seperti integrasi data, metadata, data governance, automation, dan analytics.

Sumber data yang dapat dihubungkan dalam arsitektur ini beragam, mulai dari database relasional, data warehouse, data lake, data lakehouse, aplikasi bisnis, cloud storage, sistem on-premise, API, perangkat IoT, hingga aplikasi SaaS. Dengan pendekatan tersebut, organisasi dapat mengakses dan mengelola data dari berbagai platform tanpa harus memindahkan seluruh data ke satu lokasi.

Mengapa Data Fabric Dibutuhkan?

Data Fabric dibutuhkan karena data dalam organisasi modern sering tersebar di berbagai sistem dan lingkungan, sehingga sulit dikelola dan digunakan secara konsisten. Kondisi ini dikenal sebagai data silo, misalnya ketika data pelanggan berada di CRM, transaksi tersimpan dalam database, aktivitas website berada di platform analytics, sementara data operasional dikelola melalui ERP.

Penggunaan cloud computing, aplikasi SaaS, hybrid cloud, dan multicloud juga membuat lokasi data semakin beragam. Setiap sistem dapat memiliki format, struktur, definisi, dan kualitas data yang berbeda sehingga proses integrasi menjadi lebih kompleks. Selain itu, semakin banyak sumber data membuat pengguna kesulitan menemukan lokasi data, memahami konteksnya, atau mengetahui pihak yang bertanggung jawab terhadap data tersebut.

Di sisi lain, kebutuhan terhadap analytics, business intelligence, AI, dan machine learning terus meningkat. Organisasi membutuhkan akses terhadap data yang relevan secara lebih cepat dan terkontrol. Data Fabric membantu menjawab kebutuhan tersebut dengan menyediakan pendekatan yang menghubungkan berbagai sumber data sekaligus mendukung integrasi, metadata, governance, dan akses data secara lebih terstruktur.

Cara Kerja Data Fabric

Cara kerja Data Fabric dapat dipahami sebagai proses yang menghubungkan berbagai sumber data melalui lapisan integrasi, metadata, governance, dan akses data. Secara sederhana, arsitekturnya dapat digambarkan sebagai berikut:

Data Sources
     |
     v
Data Integration
     |
     v
Metadata & Data Catalog
     |
     v
Data Governance
     |
     v
Data Access & Delivery
     |
     v
Analytics / AI / Applications

Data Fabric mengumpulkan informasi mengenai berbagai sumber data dan menggunakan metadata untuk memahami hubungan, struktur, konteks, serta karakteristik data. Ketika pengguna atau aplikasi membutuhkan data, sistem dapat membantu menemukan sumber yang relevan dan menyediakan akses berdasarkan kebijakan yang telah ditentukan. Dengan demikian, Data Fabric tidak selalu berarti semua data harus dipindahkan ke satu tempat.

Komponen Utama Data Fabric

Implementasi Data Fabric dapat berbeda antara satu organisasi dengan organisasi lainnya. Namun, terdapat beberapa kemampuan yang umumnya menjadi bagian penting dalam arsitekturnya.

1. Data Integration

Data integration digunakan untuk menghubungkan data dari berbagai sumber. Integrasi dapat dilakukan menggunakan berbagai pendekatan, seperti:

  • ETL.
  • ELT.
  • API.
  • Change Data Capture (CDC).
  • Streaming data.
  • Data virtualization.

Tujuannya adalah memungkinkan data dari berbagai sistem dapat digunakan secara terintegrasi sesuai kebutuhan.

2. Metadata Management

Metadata merupakan informasi mengenai data. Contohnya adalah nama tabel, tipe data, sumber data, pemilik data, waktu pembaruan, serta hubungan antara satu dataset dengan dataset lainnya. Dalam Data Fabric, metadata memiliki peran penting karena membantu sistem memahami konteks dan hubungan antar data.

3. Data Catalog

Data catalog menyediakan inventaris data yang tersedia dalam organisasi. Pengguna dapat menggunakannya untuk menemukan dataset tertentu tanpa harus mengetahui secara manual lokasi penyimpanannya. Misalnya, seorang analis membutuhkan data transaksi pelanggan. Data catalog dapat membantu menemukan dataset yang relevan sekaligus memberikan informasi mengenai sumber, pemilik, struktur, dan kualitas data tersebut.

4. Data Governance

Data governance digunakan untuk memastikan data dikelola sesuai kebijakan organisasi. Aspek yang dapat termasuk di dalamnya adalah:

  • Data ownership.
  • Data quality.
  • Access control.
  • Data classification.
  • Privacy.
  • Compliance.
  • Data lifecycle.

Governance menjadi semakin penting ketika data digunakan oleh banyak tim dan aplikasi.

5. Data Security

Keamanan memastikan hanya pengguna atau aplikasi yang memiliki hak akses yang dapat menggunakan data tertentu. Mekanisme keamanan dapat mencakup authentication, authorization, encryption, masking, serta auditing.

6. Data Quality

Data Fabric juga dapat dikombinasikan dengan mekanisme untuk memantau kualitas data. Kualitas data dapat dilihat dari aspek seperti:

  • Accuracy.
  • Completeness.
  • Consistency.
  • Timeliness.
  • Validity.

Data yang terintegrasi tetapi memiliki kualitas buruk tetap dapat menghasilkan keputusan yang keliru.

7. Data Orchestration

Data orchestration membantu mengatur alur pemrosesan dan perpindahan data dari berbagai sumber menuju sistem yang membutuhkan. Automasi orchestration dapat membantu mengurangi pekerjaan manual dan membuat pipeline data lebih konsisten.

Karakteristik Data Fabric

Data Fabric memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dari pendekatan pengelolaan data tradisional.

Terintegrasi

Data Fabric menghubungkan berbagai sumber data sehingga organisasi dapat mengakses data dari lingkungan yang berbeda secara lebih terkoordinasi.

Berbasis Metadata

Metadata menjadi komponen penting untuk memahami lokasi, struktur, hubungan, dan konteks data.

Mendukung Otomasi

Banyak implementasi Data Fabric memanfaatkan automation dan machine learning untuk membantu menemukan pola, hubungan, serta masalah dalam data.

Mendukung Berbagai Lingkungan

Data Fabric dapat digunakan untuk menghubungkan data yang berada di lingkungan on-premise, private cloud, public cloud, hybrid cloud, maupun multicloud.

Memperhatikan Governance

Pengelolaan data tidak hanya berfokus pada akses, tetapi juga keamanan, kualitas, ownership, privacy, dan compliance.

Manfaat Data Fabric

Penerapan Data Fabric dapat memberikan berbagai manfaat bagi organisasi yang memiliki lingkungan data kompleks.

1. Mempermudah Akses Data

Pengguna dapat menemukan dan mengakses data dari berbagai sumber melalui pendekatan yang lebih terintegrasi.

2. Mengurangi Data Silo

Data Fabric membantu menghubungkan data yang sebelumnya terisolasi di berbagai sistem.

3. Meningkatkan Efisiensi Integrasi

Pendekatan terintegrasi dapat mengurangi kebutuhan membangun koneksi data secara terpisah untuk setiap kebutuhan.

4. Meningkatkan Data Governance

Organisasi dapat menerapkan kebijakan pengelolaan data secara lebih terstruktur.

5. Mendukung Pengambilan Keputusan

Data yang lebih mudah ditemukan dan diakses dapat membantu analis dan pengambil keputusan memperoleh informasi yang dibutuhkan.

6. Mendukung AI dan Machine Learning

AI dan machine learning membutuhkan data yang relevan dan berkualitas. Data Fabric dapat membantu menyediakan akses terhadap berbagai sumber data yang dibutuhkan untuk proses tersebut.

7. Mendukung Hybrid Cloud dan Multicloud

Data Fabric dapat menjadi pendekatan untuk menghubungkan data yang tersebar di beberapa cloud maupun lingkungan on-premise.

Data Fabric dan Cloud Computing

Hubungan Data Fabric dengan cloud computing sangat erat karena organisasi modern sering memiliki data yang tersebar di berbagai lingkungan.

Misalnya:

On-Premise
    |
    +------+
           |
Public Cloud ---- Data Fabric ---- Analytics
           |
    +------+
    |
SaaS Applications

Data Fabric dapat membantu menghubungkan sumber data tersebut tanpa mengharuskan seluruh data dipindahkan ke satu platform.   Hal ini menjadi relevan bagi perusahaan yang menggunakan hybrid cloud atau multicloud.

Data Fabric untuk Big Data

Lingkungan big data biasanya memiliki volume, variasi, dan kecepatan data yang tinggi. Data dapat berasal dari:

  • Website.
  • Aplikasi mobile.
  • IoT.
  • Transaksi.
  • Media sosial.
  • Sistem perusahaan.
  • Log aplikasi.

Data Fabric dapat membantu organisasi menghubungkan berbagai sumber tersebut dan menyediakan metadata serta governance yang diperlukan agar data dapat dimanfaatkan secara lebih efektif.

Data Fabric untuk Artificial Intelligence

AI membutuhkan data dalam jumlah besar, tetapi jumlah data saja tidak cukup. Data harus relevan, berkualitas, memiliki konteks, dan dapat diakses dengan aman. Data Fabric dapat membantu menyediakan fondasi untuk kebutuhan tersebut dengan menghubungkan berbagai sumber data dan menyediakan metadata serta governance. Sebagai contoh, perusahaan ingin membangun model AI untuk memprediksi churn pelanggan. Model tersebut mungkin membutuhkan:

  • Data transaksi.
  • Data interaksi pelanggan.
  • Data penggunaan produk.
  • Data layanan pelanggan.
  • Data demografi yang relevan.

Jika data tersebut tersebar di berbagai sistem, Data Fabric dapat membantu menghubungkan sumber-sumber tersebut sehingga data dapat digunakan dalam proses analitik dan AI.

Data Fabric vs Data Warehouse

Data Fabric dan data warehouse bukan teknologi yang sama. Data warehouse merupakan sistem penyimpanan data yang dirancang terutama untuk kebutuhan analitik dan reporting. Sementara itu, Data Fabric merupakan pendekatan arsitektur untuk mengintegrasikan dan mengelola data dari berbagai sumber dan lingkungan. Dengan demikian, data warehouse dapat menjadi salah satu komponen dalam ekosistem Data Fabric. Contohnya:

Database
    |
Data Lake ----+
              |
Data Warehouse ---- Data Fabric
              |
SaaS ----------+
              |
          Analytics

Data Fabric tidak harus menggantikan data warehouse.

Data Fabric vs Data Lake

Data lake merupakan tempat penyimpanan yang dapat menampung data dalam berbagai format dan skala besar. Data Fabric memiliki cakupan yang lebih luas karena berfokus pada bagaimana data dari berbagai sumber dapat diintegrasikan, ditemukan, dikelola, diamankan, dan digunakan. Data lake dapat menjadi salah satu sumber atau komponen penyimpanan dalam arsitektur Data Fabric.

Perbedaan Data Fabric dan Data Mesh

Data Fabric dan Data Mesh sering dibandingkan karena keduanya membahas cara mengelola data dalam organisasi berskala besar. Namun, fokus keduanya berbeda, Data Fabric lebih berfokus pada pendekatan teknologi dan arsitektur untuk menghubungkan serta mengelola data. Sementara Data Mesh lebih menekankan pendekatan organisasi dan pengelolaan data secara terdesentralisasi berdasarkan domain bisnis. Data Mesh menempatkan tanggung jawab data pada domain yang menghasilkan atau memahami data tersebut, sedangkan Data Fabric menggunakan integrasi, metadata, automation, dan governance untuk menghubungkan lingkungan data. Keduanya juga tidak selalu harus dipilih salah satu. Dalam organisasi tertentu, konsep Data Fabric dan Data Mesh dapat digunakan secara bersamaan.

Perbedaan Data Fabric dan ETL

ETL atau Extract, Transform, Load merupakan metode untuk mengambil data dari sumber, mengubahnya, kemudian memuatnya ke sistem tujuan. Data Fabric memiliki cakupan yang lebih luas. ETL dapat menjadi salah satu mekanisme integrasi dalam arsitektur Data Fabric, tetapi Data Fabric juga dapat menggunakan ELT, streaming, API, CDC, dan teknologi integrasi lainnya. Karena itu, Data Fabric tidak dapat disamakan dengan ETL.

Contoh Penerapan Data Fabric

Bayangkan sebuah perusahaan retail memiliki beberapa sumber data:

Website
   |
Mobile App
   |
CRM --------+
            |
ERP --------+---- Data Fabric ---- Analytics
            |
Database ----+
            |
Cloud Storage

Data pelanggan berada di CRM, data transaksi terdapat dalam ERP dan database, sementara aktivitas website tersimpan pada platform analytics. Dengan pendekatan Data Fabric, berbagai sumber tersebut dapat dihubungkan sehingga pengguna dapat menemukan dan menggunakan data sesuai kebutuhan. Misalnya, tim marketing dapat menggunakan data transaksi dan interaksi pelanggan untuk membuat segmentasi. Tim data science dapat menggunakan sumber data yang sama untuk membangun model prediksi. Sementara itu, tim governance dapat menerapkan kebijakan akses dan memastikan data sensitif hanya dapat digunakan oleh pihak yang berwenang.

Tantangan Implementasi Data Fabric

Meskipun memiliki banyak manfaat, penerapan Data Fabric bukan tanpa tantangan.

  • Infrastruktur yang Kompleks
    Data Fabric dapat melibatkan banyak teknologi, mulai dari data integration, catalog, metadata management, security, governance, hingga analytics.
  • Kualitas Data
    Jika data dari sumber awal memiliki masalah kualitas, integrasi tidak otomatis membuat data tersebut menjadi lebih akurat.
  • Pengelolaan Metadata
    Metadata perlu dipelihara secara konsisten agar informasi mengenai data tetap relevan.
  • Keamanan dan Privasi
    Semakin banyak sumber data yang terhubung, semakin penting penerapan access control, encryption, auditing, dan privacy.
  • Biaya Implementasi
    Penerapan Data Fabric dapat membutuhkan investasi pada teknologi, infrastruktur, integrasi, serta sumber daya manusia.
  • Perubahan Proses Organisasi
    Data Fabric bukan hanya persoalan teknologi. Organisasi juga perlu memiliki kebijakan mengenai data ownership, governance, dan tanggung jawab pengelolaan data.

Tahapan Menerapkan Data Fabric

Implementasi Data Fabric sebaiknya dilakukan secara bertahap.

  • Identifikasi Sumber Data
    Langkah pertama adalah mengetahui sistem apa saja yang menyimpan data dan bagaimana data tersebut digunakan.
  • Membuat Data Catalog
    Organisasi dapat membangun katalog untuk mendokumentasikan dataset, sumber, pemilik, serta karakteristik data.
  • Menentukan Kebijakan Governance
    Tentukan aturan mengenai akses, keamanan, kualitas, klasifikasi, privacy, dan ownership data.
  • Mengintegrasikan Sumber Data
    Gunakan teknologi integrasi yang sesuai dengan karakteristik masing-masing sumber.
  • Membangun Metadata Layer
    Metadata dapat digunakan untuk memahami hubungan dan konteks dari berbagai dataset.
  • Menghubungkan dengan Analytics dan AI
    Setelah fondasi data tersedia, organisasi dapat menghubungkannya dengan business intelligence, analytics, machine learning, dan aplikasi lainnya.

Apakah Data Fabric Cocok untuk Semua Perusahaan?

Tidak semua perusahaan membutuhkan implementasi Data Fabric secara penuh. Perusahaan dengan jumlah sumber data yang sedikit dan arsitektur sederhana mungkin belum mendapatkan manfaat yang signifikan dari pendekatan ini. Sebaliknya, Data Fabric lebih relevan bagi organisasi yang memiliki:

  • Banyak sumber data.
  • Hybrid atau multicloud.
  • Data warehouse dan data lake.
  • Banyak aplikasi bisnis.
  • Kebutuhan AI dan analytics.
  • Tantangan data silo.
  • Kebutuhan governance yang tinggi.
  • Volume data yang terus berkembang.

Karena itu, organisasi sebaiknya menilai kebutuhan dan kompleksitas data sebelum menerapkan arsitektur tersebut.

Kesimpulan

Data Fabric adalah pendekatan arsitektur data yang membantu mengintegrasikan, mengelola, mengamankan, dan menyediakan akses terhadap data dari berbagai sumber dan lingkungan. Konsep ini semakin relevan dalam penggunaan cloud computing, hybrid cloud, multicloud, big data, analytics, dan AI.

Dengan memanfaatkan data integration, metadata management, data catalog, governance, security, dan automation, Data Fabric dapat membantu mengurangi data silo serta meningkatkan akses terhadap data. Namun, penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan, kompleksitas infrastruktur, keamanan, biaya, dan kesiapan tim.

Untuk memperluas wawasan tentang cloud computing, hosting, server, dan teknologi digital, Anda dapat membaca berbagai panduan di Blog Hosteko. Sementara itu, Hosteko Hosting Indonesia menyediakan layanan hosting untuk mendukung kebutuhan website dan aplikasi online.

5/5 - (1 vote)
Fitri Ana

Recent Posts

Istio dalam Cloud Computing: Pengertian, Fungsi, dan Cara Kerja

Apa Itu Istio dalam Cloud Computing? Pengertian, Fungsi, Cara Kerja, dan Manfaatnya Dalam perkembangan cloud…

2 hours ago

Apa Itu SSID? Pengertian, Fungsi, dan Cara Kerja WiFi

Ketika menghubungkan laptop atau smartphone ke jaringan WiFi, biasanya kita akan melihat daftar nama jaringan…

2 days ago

Cara Melihat dan Mengubah SSID WiFi dengan Mudah

Setelah memahami pengertian dan fungsi SSID, langkah berikutnya adalah mengetahui cara melihat serta mengatur SSID…

2 days ago

Apa Itu EDA (Event-Driven Architecture)? Mengenal Secara Lengkap

Apa Itu Event-Driven Architecture? Pengertian, Cara Kerja, Komponen, Manfaat, dan Contohnya Perkembangan aplikasi digital membuat…

2 days ago

Cara Membuat Sitemap XML untuk Meningkatkan SEO Website

Cara Membuat Sitemap XML untuk Website agar Mudah Diindeks Google Sitemap XML merupakan salah satu…

2 days ago

Digital Marketing vs Traditional Marketing: Mana yang Lebih Efektif?

Setelah memahami pengertian, perbedaan, serta kelebihan dan kekurangan masing-masing strategi pemasaran, pertanyaan yang sering muncul…

2 days ago