(0275) 2974 127
Keamanan siber tidak hanya bergantung pada penggunaan antivirus, firewall, atau sistem keamanan tertentu. Sebuah organisasi membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh untuk mengetahui seberapa siap mereka dalam menghadapi ancaman, melindungi aset digital, mendeteksi aktivitas mencurigakan, merespons insiden, dan memulihkan sistem setelah serangan. Konsep yang menggambarkan kondisi keamanan tersebut dikenal sebagai security posture.
Security posture menjadi bagian penting dalam cybersecurity karena membantu organisasi melihat kondisi keamanan secara lebih menyeluruh, bukan hanya dari satu teknologi atau kontrol keamanan. NIST mendefinisikan security posture sebagai status keamanan jaringan, informasi, dan sistem organisasi berdasarkan sumber daya keamanan seperti manusia, perangkat keras, perangkat lunak, serta kebijakan dan kemampuan yang digunakan untuk mempertahankan keamanan organisasi dan merespons perubahan situasi. Dengan mengenal security posture, organisasi dapat mengetahui apakah sistem keamanan yang dimiliki sudah sesuai dengan risiko yang dihadapi atau masih terdapat celah yang perlu diperbaiki.
Security posture adalah gambaran keseluruhan mengenai kondisi keamanan suatu organisasi, termasuk kemampuan, kebijakan, teknologi, sumber daya manusia, proses, dan kontrol yang digunakan untuk melindungi aset serta merespons ancaman keamanan. Security posture tidak hanya menjawab pertanyaan “apakah organisasi memiliki sistem keamanan?”, tetapi juga melihat seberapa efektif sistem tersebut digunakan.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan mungkin sudah menggunakan firewall, endpoint protection, backup, MFA, dan SIEM. Namun, jika banyak akun masih menggunakan password lemah, software tidak diperbarui, backup tidak pernah diuji, atau karyawan tidak mendapatkan security awareness training, security posture organisasi tersebut belum tentu kuat.
Dengan kata lain, memiliki banyak security tools tidak otomatis berarti memiliki security posture yang baik. Security posture mencakup hubungan antara teknologi, manusia, proses, kebijakan, serta kemampuan organisasi dalam mengelola risiko keamanan.
NIST mendefinisikan security posture sebagai status keamanan jaringan, informasi, dan sistem berdasarkan sumber daya keamanan informasi serta kemampuan organisasi dalam mengelola pertahanan dan merespons perubahan situasi. Definisi tersebut menunjukkan bahwa security posture memiliki cakupan yang luas. Security posture dapat mencakup:
Karena ancaman siber terus berubah, security posture juga bukan sesuatu yang bersifat permanen. Kondisi keamanan organisasi dapat berubah ketika muncul kerentanan baru, sistem baru diterapkan, karyawan berganti, konfigurasi berubah, atau ancaman baru berkembang.
Security posture penting karena organisasi tidak dapat mengelola risiko keamanan secara efektif jika tidak mengetahui kondisi keamanannya sendiri. Tanpa penilaian security posture, organisasi dapat mengalami situasi seperti:
Sebaliknya, security posture yang baik membantu organisasi memahami kondisi keamanan saat ini, menentukan prioritas perbaikan, dan meningkatkan kesiapan menghadapi insiden.
Security posture tidak dibangun oleh satu komponen. Beberapa elemen utama saling berkaitan untuk membentuk kondisi keamanan organisasi.
| Komponen | Peran dalam Security Posture |
|---|---|
| People | Menjalankan proses keamanan dan mengambil keputusan |
| Policy | Menentukan aturan dan standar keamanan |
| Process | Mengatur bagaimana keamanan diterapkan dan dikelola |
| Technology | Menyediakan kontrol dan kemampuan teknis |
| Asset | Menentukan apa saja yang perlu dilindungi |
| Identity & Access | Mengontrol siapa yang dapat mengakses resource |
| Vulnerability Management | Mengidentifikasi dan menangani kelemahan |
| Monitoring | Memantau aktivitas dan mendeteksi anomali |
| Incident Response | Menangani insiden keamanan |
| Backup & Recovery | Memulihkan data dan sistem setelah gangguan |
| Third Party Management | Mengelola risiko dari vendor dan mitra |
Semua komponen tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari satu sistem keamanan yang saling terhubung.
1. People atau Sumber Daya Manusia
Manusia merupakan salah satu bagian penting dalam security posture. Karyawan, administrator, developer, security analyst, hingga manajemen memiliki peran berbeda dalam menjaga keamanan organisasi. Masalah keamanan dapat terjadi akibat:
Karena itu, security awareness training, kebijakan penggunaan perangkat, pengelolaan akun, dan prosedur pelaporan insiden perlu menjadi bagian dari program keamanan.
2. Security Policy
Security policy memberikan aturan mengenai bagaimana keamanan harus diterapkan dalam organisasi. Contohnya:
Policy yang baik harus diterapkan dan ditinjau secara berkala. Dokumen kebijakan yang hanya dibuat tetapi tidak diterapkan tidak cukup untuk membangun security posture yang kuat.
3. Security Process
Proses menentukan bagaimana kebijakan keamanan diterapkan dalam kegiatan operasional. Misalnya, organisasi memiliki kebijakan bahwa sistem harus diperbarui secara rutin. Proses kemudian menentukan:
Dengan proses yang jelas, keamanan tidak bergantung pada tindakan spontan ketika masalah sudah terjadi.
4. Security Technology
Teknologi merupakan salah satu bagian penting dari security posture, tetapi bukan satu-satunya komponen. Beberapa teknologi yang umum digunakan meliputi:
Pemilihan teknologi sebaiknya didasarkan pada risiko dan kebutuhan organisasi, bukan sekadar jumlah tools yang digunakan.
5. Asset Management
Organisasi perlu mengetahui aset apa saja yang dimiliki sebelum dapat melindunginya. Asset dapat berupa:
Jika organisasi tidak mengetahui suatu aset, aset tersebut berpotensi tidak mendapatkan perlindungan yang sesuai. Karena itu, asset inventory merupakan salah satu dasar penting dalam membangun security posture.
6. Identity and Access Management
Kontrol identitas menentukan siapa yang dapat mengakses resource tertentu. Security posture yang baik perlu memastikan bahwa pengguna hanya memperoleh akses sesuai kebutuhan. Beberapa praktik yang dapat diterapkan antara lain:
Akun dengan hak administrator perlu mendapatkan perhatian khusus karena kompromi terhadap akun tersebut dapat memberikan dampak yang lebih besar.
7. Vulnerability Management
Vulnerability management merupakan proses berkelanjutan untuk menemukan, mengevaluasi, memprioritaskan, dan menangani kerentanan. Proses ini dapat mencakup:
Tidak semua vulnerability memiliki tingkat risiko yang sama. Karena itu, organisasi perlu mempertimbangkan faktor seperti tingkat keparahan, exposure, exploitability, nilai aset, dan dampak bisnis ketika menentukan prioritas perbaikan.
8. Security Monitoring
Organisasi membutuhkan visibilitas terhadap aktivitas di dalam infrastrukturnya. Monitoring dapat mencakup:
Monitoring membantu organisasi mengetahui aktivitas yang tidak biasa dan memberikan informasi yang dibutuhkan untuk melakukan investigasi.
9. Incident Response
Security posture yang baik bukan berarti organisasi tidak akan pernah mengalami serangan. Tujuannya adalah memastikan organisasi memiliki kemampuan untuk menghadapi insiden ketika serangan terjadi. Incident response dapat mencakup:
Organisasi sebaiknya memiliki prosedur dan tanggung jawab yang jelas sebelum insiden terjadi.
10. Backup dan Recovery
Backup merupakan bagian penting dari security posture karena serangan dapat menyebabkan data menjadi tidak tersedia atau rusak. Backup yang baik perlu mempertimbangkan:
Memiliki backup tetapi tidak pernah melakukan pengujian restore dapat menimbulkan risiko karena organisasi belum mengetahui apakah backup tersebut benar-benar dapat digunakan ketika dibutuhkan.
Security posture dan security control bukan istilah yang sama.
| Aspek | Security Posture | Security Control |
|---|---|---|
| Pengertian | Gambaran keseluruhan kondisi keamanan organisasi | Mekanisme atau tindakan spesifik untuk mengurangi risiko |
| Cakupan | Luas | Lebih spesifik |
| Contoh | Kondisi keamanan organisasi secara keseluruhan | Firewall, MFA, encryption, access control |
| Fokus | Kesiapan dan kondisi keamanan | Perlindungan atau mitigasi tertentu |
| Evaluasi | Melihat banyak aspek sekaligus | Mengevaluasi efektivitas kontrol tertentu |
Contohnya, MFA merupakan sebuah security control. Sementara itu, apakah seluruh organisasi sudah memiliki autentikasi yang kuat, akun dikelola dengan benar, dan akses ditinjau secara berkala merupakan bagian dari security posture.
Security posture juga berbeda dengan cybersecurity maturity.
Security posture menggambarkan kondisi keamanan organisasi pada suatu waktu atau dalam konteks tertentu.
Cybersecurity maturity lebih berkaitan dengan tingkat kematangan kemampuan organisasi dalam mengelola keamanan secara sistematis dan berkelanjutan.
| Aspek | Security Posture | Cybersecurity Maturity |
|---|---|---|
| Fokus | Kondisi keamanan saat ini | Tingkat kematangan program keamanan |
| Pertanyaan utama | Seberapa siap kondisi keamanan kita? | Seberapa matang kemampuan keamanan kita? |
| Sifat | Dapat berubah mengikuti kondisi | Berkembang secara bertahap |
| Contoh | Banyak endpoint belum di-patch | Organisasi memiliki program patch management yang terstruktur |
Keduanya saling berhubungan. Organisasi dengan program cybersecurity yang matang cenderung memiliki kemampuan lebih baik untuk menjaga dan meningkatkan security posture.
Security posture juga tidak sama dengan security risk. Security posture menggambarkan kondisi kemampuan dan status keamanan organisasi. Security risk berkaitan dengan kemungkinan dan dampak yang dapat terjadi apabila ancaman memanfaatkan kerentanan atau kondisi tertentu.
Contohnya, organisasi memiliki server yang belum mendapatkan patch keamanan. Kondisi tersebut merupakan bagian dari security posture. Risiko yang muncul dapat berupa kemungkinan server dieksploitasi dan dampak terhadap data atau layanan apabila eksploitasi berhasil.
Security posture sangat erat kaitannya dengan cybersecurity risk management. Organisasi perlu mengetahui:
Dengan informasi tersebut, organisasi dapat menentukan tindakan keamanan berdasarkan prioritas risiko, bukan hanya berdasarkan asumsi. NIST Cybersecurity Framework (CSF) 2.0 menyediakan pendekatan untuk membantu organisasi memahami, menilai, memprioritaskan, dan mengomunikasikan upaya cybersecurity. Framework tersebut dirancang agar dapat digunakan oleh organisasi dengan berbagai ukuran, sektor, dan tingkat kematangan.
NIST Cybersecurity Framework 2.0 menggunakan enam fungsi utama. Keenam fungsi tersebut dapat digunakan sebagai kerangka untuk melihat berbagai aspek security posture organisasi. NIST menempatkan fungsi-fungsi tersebut sebagai aktivitas yang saling berkaitan dan berlangsung secara berkelanjutan.
| Fungsi NIST CSF 2.0 | Hubungan dengan Security Posture |
|---|---|
| Govern | Menetapkan strategi, kebijakan, peran, dan ekspektasi keamanan |
| Identify | Memahami aset, risiko, dan kondisi keamanan |
| Protect | Menerapkan perlindungan untuk mengelola risiko |
| Detect | Menemukan dan menganalisis indikasi serangan |
| Respond | Mengambil tindakan terhadap insiden |
| Recover | Memulihkan aset dan operasi setelah insiden |
1. Govern
Govern merupakan fungsi yang baru ditambahkan pada CSF 2.0. Fungsi ini berfokus pada tata kelola cybersecurity, termasuk strategi, kebijakan, peran, ekspektasi, dan pengawasan risiko keamanan. Govern penting karena keamanan siber tidak hanya menjadi tanggung jawab tim IT atau security. Keputusan keamanan juga berkaitan dengan manajemen risiko organisasi secara keseluruhan.
2. Identify
Fungsi Identify membantu organisasi memahami aset, risiko, dan kondisi keamanan yang perlu dikelola. Contohnya:
3. Protect
Protect berkaitan dengan penerapan safeguards untuk mengelola risiko keamanan. Contohnya:
4. Detect
Detect berfokus pada menemukan dan menganalisis kemungkinan serangan atau kompromi. Aktivitasnya dapat meliputi:
5. Respond
Respond berhubungan dengan tindakan yang dilakukan ketika insiden keamanan terdeteksi. Aktivitasnya dapat meliputi:
6. Recover
Recover berfokus pada pemulihan aset dan operasi yang terdampak insiden. Aktivitasnya dapat meliputi:
NIST menempatkan keenam fungsi tersebut sebagai bagian dari pendekatan yang komprehensif terhadap pengelolaan risiko cybersecurity.
Security posture tidak cukup dinilai berdasarkan jumlah security tools yang dimiliki. Organisasi perlu menggunakan berbagai indikator yang menunjukkan kondisi keamanan secara nyata. Beberapa metrik yang dapat dipertimbangkan antara lain:
| Metrik | Contoh Pengukuran |
|---|---|
| Patch compliance | Persentase sistem yang sudah mendapatkan patch |
| Critical vulnerability | Jumlah vulnerability kritis yang belum ditangani |
| MFA coverage | Persentase akun yang menggunakan MFA |
| Asset visibility | Persentase aset yang sudah terinventarisasi |
| Security incident | Jumlah dan tingkat keparahan insiden |
| Mean Time to Detect | Waktu rata-rata untuk mendeteksi insiden |
| Mean Time to Respond | Waktu rata-rata untuk merespons insiden |
| Backup success | Persentase backup berhasil |
| Restore success | Persentase pengujian restore berhasil |
| Security training | Persentase pengguna yang telah mengikuti pelatihan |
Metrik tersebut tidak harus digunakan semuanya. Organisasi sebaiknya memilih indikator yang sesuai dengan risiko, ukuran, dan kebutuhan bisnis.
Security posture assessment adalah proses untuk mengevaluasi kondisi keamanan organisasi guna mengetahui kekuatan, kelemahan, risiko, dan area yang perlu diperbaiki. Assessment dapat mencakup berbagai aspek seperti:
Hasil assessment dapat digunakan untuk menentukan prioritas perbaikan.
Secara umum, assessment dapat dilakukan melalui beberapa tahapan.
1. Identifikasi Aset
Pertama, organisasi perlu mengetahui aset apa saja yang dimiliki. Tanpa inventaris aset yang akurat, penilaian keamanan akan sulit dilakukan secara menyeluruh.
2. Identifikasi Risiko
Selanjutnya, identifikasi ancaman dan kondisi yang dapat menyebabkan kerugian. Contohnya:
3. Evaluasi Kontrol Keamanan
Periksa apakah kontrol keamanan yang diperlukan sudah tersedia dan diterapkan dengan benar.
4. Identifikasi Gap
Bandingkan kondisi saat ini dengan kondisi keamanan yang diharapkan. Contohnya:
Kondisi saat ini: hanya sebagian akun menggunakan MFA.
Target: seluruh akun dengan akses sensitif menggunakan MFA.
Gap tersebut kemudian menjadi salah satu prioritas perbaikan.
5. Prioritaskan Perbaikan
Tidak semua masalah harus diselesaikan sekaligus. Prioritaskan berdasarkan:
6. Monitoring Berkelanjutan
Security posture perlu dievaluasi secara berkala karena lingkungan IT dan ancaman terus berubah.
Meningkatkan security posture membutuhkan pendekatan berkelanjutan.
1. Inventarisasi Semua Aset
Pastikan organisasi mengetahui server, endpoint, aplikasi, cloud resource, database, dan aset digital lainnya.
2. Terapkan Least Privilege
Berikan akses minimum yang dibutuhkan pengguna untuk menjalankan tugasnya.
3. Gunakan Multi-Factor Authentication
MFA dapat menambahkan lapisan autentikasi selain password. Prioritaskan akun administrator dan akun yang memiliki akses ke data atau sistem sensitif.
4. Lakukan Patch Management
Perbarui sistem operasi, aplikasi, firmware, dan komponen lainnya sesuai kebutuhan. Prioritaskan kerentanan dengan risiko tinggi dan sistem yang terekspos.
5. Lakukan Vulnerability Assessment
Gunakan vulnerability scanning dan assessment secara berkala untuk menemukan kelemahan yang perlu ditangani.
6. Tingkatkan Monitoring
Pastikan aktivitas penting dapat dicatat dan dianalisis. Log dari berbagai sistem dapat membantu proses detection dan investigation.
7. Siapkan Incident Response Plan
Jangan menunggu serangan terjadi untuk menentukan siapa yang harus bertindak. Incident response plan sebaiknya mencakup:
8. Uji Backup dan Recovery
Backup harus diuji secara berkala untuk memastikan data dapat dipulihkan ketika dibutuhkan.
9. Tingkatkan Security Awareness
Karyawan perlu mengetahui cara mengenali dan melaporkan ancaman seperti phishing, social engineering, malware, dan aktivitas mencurigakan.
10. Evaluasi Vendor dan Third Party
Pihak ketiga juga dapat menjadi sumber risiko. Evaluasi dapat mencakup:
Sebuah perusahaan memiliki:
Namun, setelah dilakukan assessment ditemukan:
Dalam kondisi tersebut, organisasi memang memiliki berbagai security tools, tetapi security posture-nya masih memiliki banyak kelemahan.
Organisasi yang memiliki security posture lebih baik dapat memiliki karakteristik seperti:
Tidak ada organisasi yang benar-benar bebas risiko. Security posture yang baik lebih berkaitan dengan kemampuan organisasi mengidentifikasi, mengurangi, mendeteksi, merespons, dan memulihkan risiko secara efektif.
Beberapa tantangan yang sering dihadapi organisasi antara lain:
Kompleksitas Infrastruktur
Penggunaan cloud, hybrid environment, SaaS, remote work, IoT, dan berbagai platform membuat lingkungan IT semakin kompleks.
Keterbatasan Sumber Daya
Organisasi mungkin memiliki keterbatasan:
Shadow IT
Karyawan dapat menggunakan aplikasi atau layanan yang tidak terpantau oleh tim IT.
Perubahan Ancaman
Teknik serangan terus berkembang sehingga kontrol keamanan juga perlu dievaluasi secara berkala.
Third-Party Risk
Vendor dan mitra bisnis dapat memperluas attack surface organisasi.
Salah satu kesalahan dalam cybersecurity adalah menganggap keamanan sebagai proyek yang selesai setelah firewall, antivirus, atau sistem monitoring dipasang. Security posture bersifat dinamis. Perubahan seperti berikut dapat memengaruhinya:
Karena itu, security posture perlu dipantau dan diperbaiki secara berkelanjutan.
| Area | Pertanyaan Evaluasi |
|---|---|
| Asset Management | Apakah seluruh aset penting sudah diketahui? |
| Identity | Apakah akun penting menggunakan MFA? |
| Access Control | Apakah hak akses sesuai kebutuhan? |
| Vulnerability | Apakah vulnerability dipantau dan diprioritaskan? |
| Patch Management | Apakah sistem mendapatkan patch secara teratur? |
| Network Security | Apakah jaringan memiliki kontrol keamanan yang sesuai? |
| Endpoint | Apakah endpoint terlindungi dan terpantau? |
| Data Security | Apakah data sensitif memiliki perlindungan yang sesuai? |
| Monitoring | Apakah aktivitas keamanan dipantau? |
| Incident Response | Apakah organisasi memiliki prosedur respons insiden? |
| Backup | Apakah backup tersedia dan dapat dipulihkan? |
| Awareness | Apakah karyawan mendapatkan pelatihan keamanan? |
| Third Party | Apakah risiko vendor dievaluasi? |
| Governance | Apakah kebijakan dan tanggung jawab keamanan ditetapkan? |
Security posture yang dikelola dengan baik dapat membantu organisasi:
Security posture juga membantu organisasi membuat keputusan keamanan berdasarkan kondisi nyata, bukan sekadar asumsi.
Security posture merupakan gambaran keseluruhan kondisi keamanan organisasi yang mencakup teknologi, manusia, kebijakan, proses, aset, dan kemampuan dalam menghadapi ancaman siber. Security posture yang kuat tidak hanya bergantung pada security tools, tetapi juga pengelolaan akses, vulnerability, backup, monitoring, dan incident response. NIST Cybersecurity Framework 2.0 dapat menjadi acuan untuk mengelola keamanan melalui enam fungsi, yaitu Govern, Identify, Protect, Detect, Respond, dan Recover.
Untuk memperdalam pengetahuan seputar cybersecurity, hosting, server, dan teknologi website, Anda juga dapat membaca berbagai panduan di Blog Hosteko. Pada akhirnya, security posture yang baik membantu organisasi memiliki visibilitas, kontrol, dan kesiapan yang lebih baik dalam menghadapi risiko keamanan.
Pesan WhatsApp yang berisi file atau tautan menuju APK memang perlu diwaspadai. APK sendiri bukan…
Dalam dunia SEO, ada banyak faktor teknis yang perlu diperhatikan agar website dapat ditemukan dan…
VPN dan proxy gratis memang terlihat menarik karena pengguna tidak perlu membayar untuk menggunakan layanan…
Setelah membahas rekomendasi VPN dan proxy, pertanyaan berikutnya adalah: mana yang lebih baik, VPN atau…
Selain VPN, proxy masih digunakan untuk berbagai kebutuhan jaringan, mulai dari pengujian website, riset pasar,…
Dalam menjalankan bisnis, perusahaan tidak hanya perlu memikirkan bagaimana menghasilkan produk atau menyediakan layanan. Ada…