(0275) 2974 127
Setelah membahas bagaimana poster AI dapat memengaruhi persepsi dan minat beli konsumen, muncul pertanyaan yang lebih penting: apakah penggunaan poster AI benar-benar menyebabkan daya beli terhadap produk makanan dan kuliner menurun?
Jawabannya perlu dibuat secara hati-hati.
Sampai saat ini, belum terdapat bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa penggunaan poster AI menyebabkan turunnya daya beli masyarakat terhadap produk kuliner secara umum. Poster merupakan bagian dari komunikasi pemasaran, sedangkan daya beli dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi yang lebih luas.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh 5,61% secara tahunan. Dari sisi produksi, lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tumbuh 13,14% secara tahunan dan menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi pada periode tersebut.
Data tersebut tentu tidak berarti seluruh bisnis kuliner mengalami peningkatan penjualan. Namun, data tersebut menunjukkan bahwa terlalu sederhana jika penurunan penjualan sebuah bisnis kuliner langsung dikaitkan dengan penggunaan poster AI.
Kesalahan yang cukup penting dalam membahas fenomena ini adalah menyamakan daya beli dengan minat beli.
Keduanya merupakan konsep yang berbeda.
Daya beli berkaitan dengan kemampuan konsumen atau rumah tangga untuk membeli barang dan jasa berdasarkan pendapatan, tingkat harga, dan kondisi ekonomi yang dihadapi.
Beberapa faktor yang dapat memengaruhi daya beli antara lain:
Sementara itu, minat beli berkaitan dengan kecenderungan atau keinginan konsumen untuk membeli sebuah produk.
Minat beli dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk:
Dari sini terlihat bahwa poster AI lebih relevan dianalisis sebagai bagian dari faktor pemasaran yang berpotensi memengaruhi persepsi dan minat beli daripada sebagai faktor yang secara langsung menentukan daya beli.
Poster yang kurang meyakinkan dapat membuat konsumen tidak tertarik membeli. Namun, hal tersebut tidak berarti konsumen kehilangan kemampuan finansial untuk membeli makanan.
Ketika konsumen mulai mengurangi pembelian makanan tertentu, faktor ekonomi perlu diperiksa sebelum menyimpulkan bahwa masalahnya berasal dari materi promosi.
BPS mencatat inflasi Indonesia sebesar 4,76% secara tahunan pada Februari 2026. Sementara itu, pada Desember 2025 inflasi tahunan tercatat sebesar 2,92%.
Namun, angka inflasi Februari 2026 perlu dibaca dalam konteks. BPS menjelaskan bahwa tingginya inflasi tahunan tersebut antara lain dipengaruhi oleh efek basis rendah akibat normalisasi tarif listrik setelah adanya diskon tarif listrik pada awal 2025.
Secara umum, perubahan harga dapat memengaruhi cara rumah tangga mengalokasikan pengeluaran. Ketika sebagian harga meningkat, konsumen dapat melakukan berbagai penyesuaian, misalnya:
Perubahan tersebut dapat menjadi respons terhadap kondisi ekonomi dan harga, bukan otomatis akibat perubahan desain poster.
Penurunan penjualan pada satu restoran juga tidak selalu berarti konsumen berhenti membeli produk kuliner secara keseluruhan.
Secara konseptual, konsumen dapat tetap membeli makanan tetapi mengubah:
merek → jenis makanan → frekuensi → jumlah pembelian → harga yang bersedia dibayar.
Contohnya, konsumen yang sebelumnya membeli makanan seharga Rp50.000 beberapa kali dalam seminggu mungkin tetap membeli makanan dari luar, tetapi memilih produk dengan harga Rp25.000–Rp30.000.
Dari sudut pandang restoran premium, perubahan tersebut dapat terlihat sebagai penurunan permintaan terhadap produknya.
Namun dari perspektif konsumen, yang berubah bisa jadi adalah prioritas atau pilihan produk, bukan hilangnya kemampuan membeli makanan secara keseluruhan.
Karena itu, penurunan transaksi pada satu bisnis tidak dapat digunakan sendirian untuk menyimpulkan bahwa daya beli masyarakat secara umum telah menurun.
BPS melaporkan bahwa konsumsi rumah tangga tetap menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada triwulan I 2026, konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan tertinggi dari sisi pengeluaran dengan kontribusi terhadap pertumbuhan sebesar 2,94%.
Temuan ini penting untuk membingkai pembahasan mengenai daya beli.
Jika ingin menyatakan bahwa masyarakat secara umum kehilangan daya beli karena poster AI, diperlukan bukti ekonomi yang secara khusus menunjukkan perubahan kemampuan konsumsi masyarakat serta penelitian yang menghubungkan perubahan tersebut dengan penggunaan poster AI.
Data makroekonomi seperti pertumbuhan konsumsi rumah tangga atau pertumbuhan sektor akomodasi dan makan minum juga tidak dapat digunakan untuk membuktikan bahwa setiap bisnis kuliner mengalami kondisi yang sama.
Dengan kata lain:
Penjualan restoran turun ≠ daya beli masyarakat turun.
Begitu pula:
Poster AI digunakan → penjualan turun ≠ poster AI menyebabkan daya beli turun.
Diperlukan penelitian yang mengontrol faktor lain sebelum hubungan sebab-akibat dapat disimpulkan.
Poster AI tetap dapat berperan dalam performa pemasaran dan penjualan, tetapi mekanismenya lebih dekat dengan persepsi konsumen daripada daya beli makroekonomi.
Salah satu model konseptual yang dapat digunakan adalah:
Poster AI → persepsi visual → kepercayaan/ekspektasi → minat beli → keputusan pembelian
Namun, hubungan tersebut tidak harus selalu terjadi dalam urutan yang sama dan tidak berlaku secara universal untuk setiap bisnis.
Sementara itu, kemampuan membeli lebih berkaitan dengan berbagai faktor ekonomi seperti pendapatan riil, tingkat harga, inflasi, dan kondisi ekonomi rumah tangga.
Kedua mekanisme tersebut dapat bertemu pada keputusan konsumen, tetapi tidak boleh dianggap sebagai hal yang sama.
Misalnya, seseorang sebenarnya memiliki kemampuan membeli makanan seharga Rp40.000. Namun, setelah melihat poster yang terlihat tidak meyakinkan, ia memilih tidak membeli.
Dalam kasus tersebut, daya belinya belum tentu berubah.
Yang berubah adalah keputusan pembeliannya.
Meskipun belum terbukti sebagai penyebab penurunan daya beli masyarakat secara umum, penggunaan poster AI tetap dapat menimbulkan masalah bagi bisnis kuliner.
Salah satunya adalah kesenjangan antara ekspektasi konsumen dan pengalaman terhadap produk.
Penelitian mengenai foto makanan menunjukkan bahwa gambar makanan dapat membentuk ekspektasi konsumen. Ketika kondisi produk yang diterima berbeda secara signifikan dari gambaran sebelumnya, perbedaan tersebut dapat memengaruhi evaluasi, kepuasan, kepercayaan, dan niat perilaku konsumen.
Contohnya:
Di poster:
Produk sebenarnya:
Jika perbedaannya terlalu besar, konsumen dapat merasa kecewa.
Kondisi tersebut berpotensi berdampak pada:
Dengan demikian, masalahnya bukan semata-mata karena AI. Persoalan utamanya adalah bagaimana AI digunakan dan apakah komunikasi pemasaran tetap merepresentasikan produk yang sebenarnya.
Bayangkan sebuah bisnis menggunakan poster AI yang sangat menarik.
Namun harga produknya meningkat dari Rp25.000 menjadi Rp40.000.
Pada saat yang sama, konsumen menghadapi kenaikan biaya kebutuhan lainnya.
Dalam kondisi seperti ini, penurunan pembelian tidak dapat langsung dikaitkan dengan poster.
Konsumen mungkin menyukai poster tersebut dan tetap menganggap makanannya menarik, tetapi memilih tidak membeli karena harga dianggap terlalu tinggi.
Ini menunjukkan pentingnya membedakan:
“Saya tidak tertarik membeli.”
dengan
“Saya tertarik, tetapi harga tersebut terlalu tinggi bagi saya.”
Keduanya menghasilkan transaksi yang sama-sama tidak terjadi, tetapi penyebabnya dapat berbeda.
Poster berfungsi sebagai salah satu alat untuk menarik perhatian dan menyampaikan informasi mengenai produk.
Namun setelah pembelian terjadi, konsumen akan menilai pengalaman sebenarnya.
Beberapa faktor yang dapat menjadi bagian dari evaluasi tersebut antara lain:
Karena itu, bisnis kuliner tidak seharusnya menggunakan AI untuk menutupi kelemahan produk atau menciptakan representasi yang tidak sesuai kenyataan.
Jika foto asli kurang menarik, solusi tidak harus berupa perubahan visual yang membuat makanan terlihat jauh lebih sempurna daripada kondisi sebenarnya.
Bisnis dapat memperbaiki:
AI kemudian dapat digunakan sebagai alat pendukung.
Jika bisnis ingin mengetahui apakah poster AI benar-benar memengaruhi performa pemasaran, diperlukan pengujian yang lebih terkontrol.
Salah satu metode yang dapat digunakan adalah A/B testing.
A/B testing merupakan eksperimen yang membandingkan beberapa versi kepada kelompok pengguna secara acak untuk melihat versi mana yang menghasilkan kinerja lebih baik pada tujuan tertentu.
Misalnya:
Menggunakan foto produk asli.
Menggunakan foto produk asli yang diedit dengan bantuan AI.
Menggunakan visual makanan yang sepenuhnya dibuat AI.
Kemudian bisnis dapat membandingkan metrik seperti:
Dengan metode tersebut, bisnis tidak hanya mengandalkan asumsi.
Jika versi AI mendapatkan banyak likes tetapi menghasilkan transaksi lebih sedikit, berarti visual tersebut mungkin berhasil menarik perhatian tetapi belum tentu efektif pada tahap keputusan pembelian.
Sebaliknya, jika foto asli memiliki engagement lebih rendah tetapi menghasilkan conversion rate lebih tinggi, foto asli dapat menjadi pilihan yang lebih efektif untuk tujuan tertentu.
Namun, pengujian sebaiknya dilakukan dengan pembagian audiens yang tepat dan kondisi yang relatif sebanding agar perbedaan hasil tidak disebabkan oleh faktor lain.
Makanan memiliki karakter yang berbeda dari banyak produk lainnya.
Ketika membeli pakaian, konsumen dapat melihat ukuran, bahan, warna, dan spesifikasi.
Ketika membeli perangkat elektronik, konsumen dapat melihat spesifikasi teknis.
Sementara ketika membeli makanan, sebagian pengalaman terhadap produk baru dapat dirasakan setelah pembelian.
Karena itu, visual makanan menjadi salah satu sumber informasi yang dapat membantu konsumen membentuk ekspektasi terhadap produk.
Foto yang informatif dan representatif dapat membantu konsumen memahami:
Penelitian mengenai foto makanan menunjukkan bahwa karakteristik visual dapat memengaruhi persepsi terhadap kualitas dan minat beli konsumen.
AI tetap dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas foto tersebut, tetapi perubahan sebaiknya tidak mengubah karakter produk secara menyesatkan.
Tidak ada alasan untuk menghentikan penggunaan AI sepenuhnya hanya karena terdapat risiko representasi yang tidak sesuai.
Berbagai alat AI dapat memberikan manfaat bagi bisnis, terutama dalam produksi dan pengolahan konten.
Tergantung pada alat yang digunakan, AI dapat membantu:
Yang perlu diperhatikan adalah cara penggunaannya.
Prinsip sederhananya:
Gunakan AI untuk memperkuat representasi produk, bukan menggantikan kenyataan produk.
Pendekatan tersebut memungkinkan bisnis memperoleh manfaat efisiensi teknologi tanpa mengorbankan keakuratan komunikasi pemasaran dan kepercayaan konsumen.
Untuk menghindari masalah persepsi dan representasi produk, bisnis dapat menerapkan beberapa strategi.
Foto makanan yang benar-benar dijual sebaiknya tetap menjadi referensi utama untuk visual produk.
AI dapat membantu pada elemen seperti background, pencahayaan, komposisi, dan variasi desain, selama hasil akhirnya tetap merepresentasikan produk secara wajar.
Jangan membuat porsi terlihat jauh lebih besar atau topping jauh lebih banyak daripada produk sebenarnya.
Harga, ukuran, varian, bahan, dan promo harus sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Hal ini juga penting dari sisi perlindungan konsumen. Ketentuan mengenai iklan elektronik melarang materi iklan yang mengelabui konsumen mengenai antara lain kualitas, kuantitas, bahan, kegunaan, dan harga barang atau jasa.
Jangan menilai efektivitas poster hanya berdasarkan jumlah likes atau komentar.
Gunakan metrik yang sesuai dengan tujuan kampanye, seperti klik, pesan, conversion rate, transaksi, atau pembelian ulang.
Jika pelanggan mulai mengatakan bahwa produk berbeda dari foto, masalah tersebut perlu segera dievaluasi.
Dari pembahasan di atas, terdapat satu kesimpulan penting:
Belum terdapat bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa poster AI menyebabkan turunnya daya beli masyarakat terhadap produk makanan atau kuliner secara umum.
Daya beli berkaitan dengan berbagai faktor ekonomi, termasuk pendapatan riil, tingkat harga, inflasi, dan kondisi ekonomi rumah tangga.
Sementara itu, poster AI lebih relevan dianalisis sebagai bagian dari komunikasi pemasaran yang dapat memengaruhi persepsi, ekspektasi, kepercayaan, dan minat beli.
Data BPS menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh 5,61% secara tahunan. Pada periode yang sama, sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tumbuh 13,14% secara tahunan, sedangkan konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan tertinggi dari sisi pengeluaran dengan kontribusi 2,94%.
Data tersebut tidak berarti semua bisnis kuliner mengalami peningkatan penjualan. Namun, data tersebut menunjukkan bahwa perubahan penjualan satu bisnis tidak dapat langsung digunakan sebagai bukti bahwa daya beli masyarakat secara umum menurun.
Jika sebuah bisnis kuliner mengalami penurunan transaksi setelah menggunakan poster AI, perlu dilakukan pemeriksaan yang lebih menyeluruh.
Pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan:
“Apakah AI membuat daya beli masyarakat turun?”
Melainkan:
“Apakah cara bisnis menggunakan AI memengaruhi kepercayaan, ekspektasi, persepsi terhadap produk, atau alasan konsumen untuk membeli?”
Pertanyaan kedua lebih spesifik dan dapat diuji melalui data pemasaran, eksperimen, serta penelitian perilaku konsumen.
Pada akhirnya, teknologi AI bukan musuh bisnis kuliner. AI dapat menjadi alat yang membantu produksi konten dan pemasaran apabila digunakan secara tepat.
Masalah dapat muncul ketika visual dibuat jauh lebih menarik daripada kenyataan, sementara produk dan pengalaman pelanggan tidak mampu memenuhi ekspektasi yang terbentuk.
Karena itu, strategi yang lebih aman bukan sekadar memilih antara AI atau foto asli, tetapi menggunakan keduanya secara proporsional: produk tetap autentik dan representatif, sementara AI digunakan untuk membuat komunikasi pemasaran menjadi lebih efektif tanpa menyesatkan konsumen.
Ingin mempelajari lebih banyak seputar web development, cloud computing, keamanan siber, server, hingga berbagai tren teknologi terbaru? Kunjungi blog Hosteko untuk mendapatkan artikel yang informatif, mudah dipahami, dan selalu diperbarui mengikuti perkembangan dunia digital.
Jangan lewatkan berbagai panduan, tips, serta tutorial yang dapat membantu Anda mengembangkan website, meningkatkan performa bisnis online, dan memperluas wawasan di bidang teknologi. Temukan artikel menarik lainnya hanya di Hosteko Blog dan terus ikuti informasi terbaru untuk mendukung perjalanan digital Anda.
Dalam menjalankan bisnis, mengetahui jumlah pelanggan dan nilai transaksi memang penting. Namun, kedua hal tersebut…
Penggunaan AI dalam materi promosi makanan tidak selalu berdampak negatif. AI dapat membantu bisnis membuat…
Perkembangan generative AI mengubah cara bisnis membuat materi pemasaran. Jika sebelumnya bisnis kuliner harus mengandalkan…
Dalam pengembangan software modern, proses membangun, menguji, dan merilis aplikasi dapat melibatkan banyak tahapan yang…
Dalam strategi SEO, membuat banyak artikel tanpa struktur yang jelas belum tentu menghasilkan performa organik…
Setelah memahami pengertian dan cara kerja payment gateway, hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah keamanan…