(0275) 2974 127
Perkembangan cloud computing, microservices, container, Kubernetes, dan DevOps membuat pengembangan aplikasi semakin fleksibel. Namun, semakin banyak teknologi juga meningkatkan kompleksitas yang harus dipahami developer, mulai dari infrastruktur, CI/CD, keamanan, hingga deployment.
Platform Engineering hadir untuk menyederhanakan kompleksitas tersebut melalui platform internal yang menyediakan tools, otomatisasi, dan workflow secara terstandarisasi. Dengan pendekatan ini, developer dapat lebih fokus mengembangkan aplikasi tanpa harus menangani seluruh detail infrastruktur secara manual. Lalu, apa itu Platform Engineering, bagaimana cara kerjanya, dan apa perannya dalam cloud computing?
Platform Engineering adalah praktik untuk merancang, membangun, dan mengelola platform internal yang membantu developer menjalankan proses pengembangan software secara lebih mandiri. Platform ini biasanya disebut Internal Developer Platform (IDP) dan dapat menyediakan berbagai tools, layanan, otomatisasi, serta workflow yang dibutuhkan selama proses development hingga deployment.
Dalam praktiknya, Platform Engineering menyederhanakan pekerjaan yang sebelumnya harus dilakukan developer secara manual, seperti menyiapkan infrastruktur cloud, konfigurasi environment, container, pipeline CI/CD, hingga monitoring. Berbagai proses tersebut dapat dikemas dalam template dan workflow yang terstandarisasi sehingga developer cukup memilih kebutuhan aplikasi, sementara platform menangani sebagian besar proses teknis di belakang layar.
Dengan pendekatan ini, developer dapat lebih fokus pada pengembangan fitur dan aplikasi, sedangkan pekerjaan infrastruktur yang berulang dapat dilakukan secara otomatis dan konsisten. Hal tersebut menjadi salah satu alasan Platform Engineering semakin relevan dalam lingkungan cloud computing modern.
Perkembangan aplikasi modern membuat infrastruktur yang digunakan menjadi semakin kompleks. Jika sebelumnya aplikasi mungkin hanya membutuhkan server dan database, kini developer dapat bekerja dengan cloud services, container, Kubernetes, microservices, CI/CD, Infrastructure as Code, monitoring, hingga sistem keamanan.
Banyaknya tools dan konfigurasi tersebut memang memberikan fleksibilitas, tetapi juga dapat meningkatkan cognitive load atau beban yang harus dipahami developer. Mereka tidak hanya fokus menulis kode, tetapi juga perlu memahami berbagai aspek infrastruktur dan deployment.
Platform Engineering hadir untuk mengurangi kompleksitas tersebut melalui otomatisasi, template, self-service, dan golden path. Dengan adanya platform internal, berbagai proses teknis dapat dibuat lebih sederhana sehingga developer dapat lebih fokus pada pengembangan aplikasi, sementara infrastruktur yang berulang ditangani oleh platform secara terstandarisasi.
Secara sederhana, alur Platform Engineering dapat digambarkan sebagai Developer → Internal Developer Platform → Cloud Infrastructure. Developer menggunakan interface, template, atau workflow yang tersedia pada platform, kemudian platform meneruskan kebutuhan tersebut ke berbagai tools dan layanan infrastruktur di belakangnya.
Sebagai contoh, ketika ingin membuat aplikasi baru, developer cukup memilih template yang telah disediakan. Platform kemudian dapat mengotomatisasi berbagai proses seperti menyiapkan repository dan environment, menyediakan infrastruktur, menjalankan pipeline CI/CD, melakukan deployment, serta mengatur monitoring, logging, dan kebijakan keamanan.
Dengan pendekatan ini, developer tetap memiliki kendali terhadap aplikasi tanpa harus menangani setiap detail infrastruktur secara manual. Self-service tersebut membuat proses pengembangan lebih cepat, konsisten, dan mudah diterapkan di berbagai tim.
Internal Developer Platform (IDP) adalah platform internal yang menggabungkan berbagai tools, teknologi, layanan, dan workflow untuk membantu developer menjalankan proses pengembangan hingga deployment secara lebih mandiri. IDP dapat mencakup infrastructure provisioning, Infrastructure as Code, container, CI/CD, secrets management, monitoring, logging, hingga template aplikasi.
IDP bukan sekadar dashboard atau kumpulan tools. Platform Engineering mengintegrasikan berbagai teknologi tersebut menjadi workflow yang lebih sederhana dan terstandarisasi. Salah satu penerapannya adalah golden path, yaitu jalur kerja yang telah disiapkan agar developer dapat menyelesaikan tugas tertentu dengan lebih mudah dan konsisten.
Dengan demikian, IDP dapat dipahami sebagai produk internal yang dirancang untuk meningkatkan developer experience. Developer dapat menggunakan kemampuan platform secara self-service, sementara berbagai proses teknis di belakangnya dikelola dan diotomatisasi oleh Platform Engineering.
Kedua istilah ini sering dianggap sama, padahal memiliki arti yang berbeda.
| Aspek | Platform Engineering | Internal Developer Platform |
|---|---|---|
| Pengertian | Praktik atau disiplin untuk membangun dan mengelola platform | Produk atau kumpulan kemampuan yang digunakan developer |
| Fokus | Proses, desain, pengembangan, operasi, dan evolusi platform | Tools, workflow, automation, dan layanan |
| Pelaksana | Platform Engineering Team | Digunakan oleh developer |
| Tujuan | Menciptakan pengalaman developer yang lebih baik | Menyediakan self-service dan workflow yang terstandarisasi |
| Bentuk | Pendekatan engineering dan operating model | Platform internal |
| Hubungan | Membangun dan mengembangkan IDP | Hasil atau produk yang digunakan developer |
Dengan kata lain, Platform Engineering adalah praktiknya, sedangkan IDP adalah salah satu produk utama yang dihasilkan dan dikelola melalui praktik tersebut.
Golden Path adalah workflow atau jalur kerja yang telah disiapkan dan direkomendasikan dalam Platform Engineering untuk membantu developer menyelesaikan pekerjaan dengan cara yang lebih standar dan konsisten. Misalnya, ketika membuat aplikasi web baru, platform dapat menyediakan template yang sudah mencakup struktur repository, konfigurasi CI/CD, deployment, logging, monitoring, dan kebijakan keamanan.
Developer cukup menggunakan template tersebut lalu menyesuaikannya dengan kebutuhan aplikasi. Golden Path bukan berarti developer harus selalu mengikuti satu cara, tetapi menyediakan jalur kerja yang mudah, aman, dan telah divalidasi untuk kebutuhan yang umum. Dengan begitu, developer dapat mengurangi pekerjaan konfigurasi berulang sekaligus mengikuti standar yang diterapkan organisasi.
Platform Engineering tidak memiliki satu arsitektur yang wajib digunakan oleh semua perusahaan. Implementasinya dapat berbeda berdasarkan kebutuhan organisasi. Namun, terdapat beberapa komponen yang umum ditemukan.
1. Infrastructure as Code
Infrastructure as Code atau IaC memungkinkan infrastruktur didefinisikan melalui kode atau konfigurasi. Tools seperti Terraform dapat digunakan untuk mendefinisikan resource cloud secara deklaratif.
Dalam Platform Engineering, IaC dapat menjadi salah satu fondasi untuk melakukan provisioning secara otomatis dan konsisten. Developer tidak harus membuat resource cloud secara manual. Platform dapat menyediakan workflow yang memanfaatkan IaC di belakang layar.
2. Container
Container menjadi komponen penting dalam banyak lingkungan cloud-native. Platform Engineering dapat menyediakan standar mengenai:
Dengan standar tersebut, developer tidak perlu menentukan seluruh konfigurasi dari awal untuk setiap aplikasi.
3. Kubernetes
Dalam organisasi yang menggunakan Kubernetes, platform dapat menyederhanakan berbagai aktivitas seperti:
Developer tidak harus memahami setiap detail Kubernetes untuk menjalankan aplikasi yang sudah mengikuti pola yang disediakan platform.
4. CI/CD
Platform dapat menyediakan pipeline CI/CD yang telah distandarisasi.
Contohnya, ketika developer melakukan push kode: Code → Build → Test → Security Scan → Package → Deploy
Tahapan tersebut dapat berjalan secara otomatis sesuai aturan organisasi. Platform juga dapat menyediakan template pipeline agar setiap tim tidak perlu membangun pipeline dari awal.
5. Developer Portal
Developer portal dapat menjadi interface yang digunakan developer untuk mengakses berbagai kemampuan platform. Portal dapat menyediakan:
Namun, penting dipahami bahwa developer portal tidak sama dengan IDP. Portal merupakan interface, sedangkan IDP mencakup keseluruhan kemampuan dan sistem yang berada di belakangnya.
6. Observability
Platform juga dapat mengintegrasikan observability agar aplikasi memiliki standar monitoring sejak awal. Komponennya dapat mencakup:
Dengan demikian, observability tidak harus ditambahkan secara manual setelah aplikasi selesai dibuat.
7. Security dan Governance
Platform Engineering juga dapat memasukkan security dan governance ke dalam workflow. Contohnya:
Pendekatan ini membantu membuat standar keamanan menjadi bagian dari proses development dan deployment.
Platform Engineering memiliki hubungan erat dengan cloud computing karena aplikasi modern menggunakan berbagai layanan seperti compute, storage, database, networking, container, Kubernetes, monitoring, dan security. Jika seluruh layanan tersebut harus dikonfigurasi secara manual, developer dapat menghadapi kompleksitas yang cukup tinggi.
Platform Engineering menyediakan lapisan yang menyederhanakan penggunaan berbagai layanan cloud tersebut. Misalnya, platform dapat menyediakan template deployment dengan konfigurasi infrastruktur dan keamanan yang sudah mengikuti standar organisasi. Developer cukup menggunakan template sesuai kebutuhan tanpa harus mengatur seluruh komponen cloud dari awal.
Secara sederhana, alurnya dapat digambarkan sebagai Cloud Infrastructure → Platform Layer → Developer Experience. Platform tidak menggantikan infrastruktur cloud, tetapi membantu developer memanfaatkannya dengan cara yang lebih mudah, konsisten, dan terstandarisasi.
Bayangkan sebuah perusahaan memiliki 20 tim developer. Setiap tim harus membuat aplikasi baru menggunakan cloud. Tanpa Platform Engineering, masing-masing tim mungkin harus:
Jika setiap tim mengerjakan semuanya sendiri, terdapat risiko konfigurasi yang berbeda-beda. Dengan Platform Engineering, perusahaan dapat membuat sebuah platform internal. Developer kemudian dapat memilih:
Create New Application
Kemudian mengisi:
Setelah developer mengirim permintaan, platform menjalankan workflow otomatis.
Misalnya: Template → Repository → Infrastructure → CI/CD → Security → Deployment → Monitoring
Hasilnya, developer dapat memperoleh environment aplikasi tanpa harus mengerjakan seluruh konfigurasi cloud secara manual.
Platform Engineering sering dikaitkan dengan DevOps, tetapi keduanya bukan istilah yang sama. DevOps merupakan pendekatan yang menggabungkan dan memperkuat kolaborasi antara development dan operations untuk meningkatkan proses delivery serta operasi software.
Sementara itu, Platform Engineering berfokus pada pembangunan platform internal yang membantu developer melakukan pekerjaan tersebut dengan lebih mudah dan terstandarisasi. Perbedaannya dapat dilihat pada tabel berikut.
| Aspek | DevOps | Platform Engineering |
|---|---|---|
| Fokus utama | Kolaborasi dan proses delivery software | Pembangunan dan pengelolaan platform internal |
| Tujuan | Memperbaiki alur development hingga operations | Mempermudah dan menstandarkan pengalaman developer |
| Pendekatan | Budaya, praktik, proses, dan otomatisasi | Product/platform-oriented engineering |
| Pengguna | Development dan Operations | Terutama developer dan pengguna platform lainnya |
| Output | Proses delivery yang lebih terintegrasi | Internal Developer Platform |
| Hubungan dengan cloud | Mengoptimalkan penggunaan cloud dan automation | Menyederhanakan penggunaan cloud melalui platform |
Jadi, Platform Engineering bukan pengganti DevOps. Platform Engineering justru dapat digunakan untuk membantu menerapkan prinsip DevOps pada organisasi yang memiliki lingkungan teknologi semakin kompleks.
Platform Engineering juga sering dibandingkan dengan Site Reliability Engineering (SRE). SRE berfokus pada reliability, availability, performance, dan operasional sistem. Sementara itu, Platform Engineering berfokus pada penyediaan platform dan pengalaman yang memungkinkan developer bekerja secara lebih efisien. Keduanya dapat bekerja bersama.
| Aspek | Platform Engineering | SRE |
|---|---|---|
| Fokus | Platform dan developer experience | Reliability dan operasional sistem |
| Pengguna utama | Developer atau tim engineering | Tim yang bertanggung jawab terhadap reliability |
| Tujuan | Self-service, standardisasi, automation | Availability, reliability, performance |
| Output | Platform, workflow, templates, tooling | Practices, automation, reliability mechanisms |
| Hubungan | Menyediakan capabilities untuk developer | Memastikan sistem dapat berjalan secara andal |
Dalam praktiknya, sebuah organisasi dapat memiliki Platform Engineering Team yang beranggotakan atau bekerja bersama engineer dengan pengalaman DevOps maupun SRE.
Platform Engineering juga berbeda dengan Platform as a Service (PaaS). PaaS merupakan model layanan cloud yang menyediakan platform terkelola untuk menjalankan aplikasi. Sementara itu, Platform Engineering adalah praktik membangun dan mengelola platform, terutama platform internal yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi.
| Aspek | Platform Engineering | PaaS |
|---|---|---|
| Bentuk | Praktik dan pendekatan engineering | Model layanan |
| Platform | Biasanya platform internal | Biasanya layanan yang disediakan provider |
| Pengelolaan | Dikelola oleh organisasi atau platform team | Banyak bagian dikelola provider |
| Kustomisasi | Dapat sangat disesuaikan | Bergantung pada kemampuan provider |
| Tujuan | Membuat developer platform sesuai kebutuhan organisasi | Menyediakan environment aplikasi yang terkelola |
CNCF juga membedakan IDP dengan PaaS. PaaS umumnya merupakan platform yang diadopsi dari penyedia eksternal, sedangkan IDP dibangun sebagai platform internal yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi.
Penerapan Platform Engineering dapat memberikan beberapa manfaat bagi organisasi.
1. Meningkatkan Developer Experience
Developer tidak perlu terus-menerus mempelajari detail infrastructure yang tidak berhubungan langsung dengan pekerjaan utama mereka. Platform menyediakan interface dan workflow yang lebih sederhana. Tujuannya bukan menyembunyikan seluruh teknologi, tetapi mengurangi pekerjaan yang berulang dan tidak perlu.
2. Mempercepat Software Delivery
Dengan template dan automation, berbagai tahapan yang sebelumnya dilakukan secara manual dapat berjalan lebih cepat. Misalnya, proses provisioning environment yang sebelumnya membutuhkan beberapa permintaan manual dapat diubah menjadi workflow self-service.
3. Mengurangi Pekerjaan Manual
Platform dapat mengotomatisasi pekerjaan berulang seperti:
Hal tersebut membantu mengurangi pekerjaan operasional yang bersifat repetitif.
4. Meningkatkan Konsistensi
Jika setiap tim membangun infrastruktur dengan cara berbeda, organisasi akan memiliki banyak variasi konfigurasi. Platform dapat menyediakan standar yang dapat digunakan bersama sehingga lingkungan aplikasi menjadi lebih konsisten.
5. Memperkuat Security dan Governance
Security policy dapat dimasukkan ke dalam workflow platform. Dengan demikian, security tidak hanya menjadi aktivitas yang dilakukan setelah aplikasi selesai dibuat.
6. Mempermudah Skalabilitas Organisasi
Ketika jumlah developer bertambah, perusahaan tidak harus meningkatkan effort operasional secara linear untuk setiap developer baru. Platform dapat menyediakan kemampuan yang dapat digunakan kembali oleh banyak tim.
7. Mengurangi Cognitive Load
Developer tidak harus memahami setiap detail dari seluruh stack teknologi yang digunakan perusahaan. Mereka cukup memahami interface dan workflow yang relevan dengan pekerjaan mereka.
Meskipun memiliki banyak manfaat, Platform Engineering bukan solusi yang otomatis berhasil hanya dengan membuat sebuah platform. Ada beberapa tantangan yang perlu diperhatikan.
1. Platform Terlalu Kompleks
Jika platform justru memiliki terlalu banyak konfigurasi, pilihan, dan tools, developer dapat mengalami masalah yang sama seperti sebelumnya. Platform seharusnya menyederhanakan pengalaman developer, bukan memindahkan kompleksitas ke tempat lain.
2. Tidak Memahami Kebutuhan Developer
Platform Engineering sebaiknya tidak dibangun hanya berdasarkan asumsi tim infrastructure. Developer merupakan pengguna platform. Karena itu, kebutuhan, pengalaman, dan feedback mereka perlu menjadi bagian dari pengembangan platform.
3. Overengineering
Tidak semua perusahaan membutuhkan platform yang sangat kompleks. Organisasi kecil dengan sedikit developer dan infrastruktur sederhana mungkin belum membutuhkan IDP dengan banyak fitur. Platform sebaiknya dikembangkan berdasarkan masalah nyata yang ingin diselesaikan.
4. Maintenance
Platform bukan proyek yang selesai sekali kemudian ditinggalkan. Cloud provider, tools, security requirements, framework, dan kebutuhan developer dapat berubah. Karena itu, platform perlu terus dipelihara dan dikembangkan.
5. Adoption
Membangun platform tidak otomatis membuat developer menggunakannya. Jika platform lebih sulit digunakan dibandingkan proses sebelumnya, developer mungkin mencari alternatif lain. Karena itu, adoption menjadi salah satu aspek penting dalam keberhasilan Platform Engineering.
6. Vendor dan Tool Sprawl
Platform yang menggabungkan terlalu banyak tools dapat menjadi sulit dikelola. Organisasi perlu menentukan tools berdasarkan kebutuhan dan bagaimana tools tersebut dapat terintegrasi dengan platform secara keseluruhan.
Perusahaan yang ingin menerapkan Platform Engineering sebaiknya tidak langsung membangun platform yang sangat besar Pendekatan bertahap biasanya lebih mudah dikelola.
1. Identifikasi Masalah Developer
Langkah pertama adalah memahami pekerjaan yang paling sering menyulitkan developer. Misalnya:
Masalah tersebut dapat menjadi prioritas awal.
2. Tentukan Use Case Utama
Pilih beberapa aktivitas yang paling sering dilakukan dan memiliki peluang besar untuk diotomatisasi.
Contohnya: Membuat aplikasi baru → provisioning → CI/CD → deployment
Jangan mencoba mengotomatisasi seluruh infrastruktur sekaligus.
3. Buat Platform Secara Bertahap
Mulailah dari fitur yang benar-benar dibutuhkan. Misalnya:
Setelah digunakan, platform dapat dikembangkan berdasarkan feedback.
4. Terapkan Self-Service
Developer sebaiknya dapat menggunakan kemampuan platform tanpa selalu membuat tiket kepada tim infrastructure. Namun, self-service tetap perlu memiliki kontrol terhadap permission, security, cost, dan governance.
5. Gunakan Golden Path
Buat workflow standar untuk kasus penggunaan yang paling umum.
Contohnya: Golden Path untuk Web Application
Template → Repository → Build → Test → Security Scan → Deploy → Monitoring
Developer dapat menggunakan jalur tersebut sebagai cara standar untuk membuat aplikasi baru.
6. Ukur Hasilnya
Platform Engineering sebaiknya memiliki metrik yang dapat menunjukkan apakah platform benar-benar memberikan manfaat. Beberapa metrik yang dapat digunakan antara lain:
Secara konseptual, arsitektur Platform Engineering dapat digambarkan sebagai berikut:
Developer
↓
Developer Portal / CLI / API
↓
Internal Developer Platform
↓
Workflow & Automation
↓
CI/CD | IaC | Security | Observability
↓
Cloud Infrastructure
↓
Compute | Kubernetes | Database | Storage | Network
Developer berinteraksi dengan lapisan platform, sedangkan platform menangani orkestrasi berbagai layanan di bawahnya.
Dalam implementasi nyata, arsitekturnya dapat jauh lebih kompleks dan dapat menggunakan kombinasi cloud provider, Kubernetes, IaC, CI/CD, observability, security tools, serta berbagai layanan internal.
Platform Engineering bukan sebuah produk tunggal sehingga tidak ada satu tools yang wajib digunakan. Beberapa kategori tools yang dapat menjadi bagian dari platform antara lain:
| Kebutuhan | Contoh Teknologi |
|---|---|
| Container | Docker |
| Container orchestration | Kubernetes |
| Infrastructure as Code | Terraform, OpenTofu |
| CI/CD | GitHub Actions, GitLab CI/CD, Jenkins |
| Developer portal | Backstage dan solusi sejenis |
| Observability | OpenTelemetry, Prometheus, Grafana |
| Secrets | Vault dan cloud secret management |
| Cloud | AWS, Google Cloud, Microsoft Azure |
| Configuration | Helm, Kustomize |
| GitOps | Argo CD, Flux |
Pemilihan tools sebaiknya tidak dilakukan hanya berdasarkan popularitas. Tools harus dipilih berdasarkan kebutuhan platform, kemampuan tim, integrasi, keamanan, biaya, serta pengalaman developer.
Platform Engineering tidak hanya ditujukan untuk perusahaan besar. Organisasi dengan berbagai ukuran dapat menerapkannya selama kompleksitas infrastruktur dan kebutuhan developer memang membutuhkan platform yang lebih terstruktur.
Pada perusahaan kecil, penerapannya dapat dimulai dari hal sederhana seperti template repository, CI/CD, infrastructure, deployment automation, dan dokumentasi. Sementara itu, perusahaan dengan banyak tim dan lingkungan cloud-native mungkin membutuhkan platform yang lebih kompleks, seperti Kubernetes, multi-cloud, observability, security automation, governance, hingga self-service provisioning.
Karena itu, penerapan Platform Engineering sebaiknya disesuaikan dengan ukuran organisasi, kompleksitas teknologi, dan kebutuhan developer, bukan sekadar mengikuti tren teknologi.
Platform Engineering mulai dibutuhkan ketika kompleksitas teknologi mulai menghambat produktivitas developer. Kondisi ini dapat terlihat ketika banyak tim menggunakan cloud, konfigurasi infrastructure berbeda-beda, deployment masih dilakukan secara manual, serta developer menghabiskan banyak waktu untuk mengurus pekerjaan operasional dan DevOps yang berulang.
Kebutuhan tersebut juga semakin terlihat ketika jumlah aplikasi dan developer terus bertambah, organisasi menggunakan microservices atau Kubernetes, serta pipeline CI/CD dan konfigurasi security perlu distandarkan. Dalam kondisi seperti ini, platform internal dapat membantu mengurangi kompleksitas melalui standardisasi, otomatisasi, dan self-service, sehingga proses pengembangan menjadi lebih konsisten dan efisien.
Platform Engineering juga dapat mendukung penerapan DevSecOps. Security dapat dimasukkan ke dalam platform sehingga developer tidak perlu mengingat setiap security requirement secara manual.
Contohnya: Developer → Platform → Build → Security Scan → Policy Check → Deployment
Platform dapat memastikan bahwa aplikasi melewati pemeriksaan tertentu sebelum dapat masuk ke environment berikutnya. Dengan pendekatan tersebut, security dapat menjadi bagian dari workflow yang digunakan developer sehari-hari.
Hal ini juga dapat membantu organisasi menerapkan governance secara lebih konsisten tanpa harus mengandalkan proses manual untuk setiap aplikasi.
Konsep “You Build It, You Run It” mendorong developer untuk memiliki tanggung jawab terhadap aplikasi yang mereka bangun, termasuk ketika aplikasi sudah berjalan di production. Namun, tanggung jawab tersebut dapat menjadi lebih kompleks ketika infrastruktur dan teknologi yang digunakan semakin banyak.
Platform Engineering membantu developer menjalankan tanggung jawab tersebut melalui kemampuan self-service dan workflow yang telah disiapkan. Developer tetap dapat melakukan deployment, scaling, memantau logs dan metrics, hingga rollback tanpa harus memahami seluruh detail infrastruktur.
Dengan demikian, Platform Engineering tidak mengambil alih ownership developer, tetapi menyediakan tools, otomatisasi, dan guardrails agar pengelolaan aplikasi dapat dilakukan dengan lebih mudah, konsisten, dan aman.
Tidak. Platform Engineering dan DevOps memiliki fokus yang berbeda, tetapi dapat saling melengkapi. DevOps mencakup prinsip, budaya, kolaborasi, dan praktik untuk memperbaiki proses delivery dan operation software. Platform Engineering menyediakan platform yang dapat membantu organisasi menerapkan sebagian prinsip tersebut secara konsisten pada skala yang lebih besar.
CNCF secara eksplisit menggambarkan Platform Engineering sebagai salah satu pendekatan untuk membantu menskalakan praktik DevOps, bukan sebagai pengganti DevOps. Karena itu, organisasi dapat menggunakan DevOps sebagai prinsip dan Platform Engineering sebagai salah satu cara untuk menyediakan tooling serta workflow yang mendukung prinsip tersebut.
Platform Engineering merupakan pendekatan untuk membangun platform internal yang membantu developer mengelola proses pengembangan dan deployment secara lebih mudah, konsisten, dan efisien. Dalam cloud computing, pendekatan ini membantu menyederhanakan berbagai teknologi seperti Kubernetes, container, CI/CD, Infrastructure as Code, monitoring, dan security melalui Internal Developer Platform (IDP), self-service, automation, serta Golden Path.
Platform Engineering bukan pengganti DevOps atau SRE, tetapi dapat menjadi pendukung untuk mengurangi kompleksitas dan pekerjaan yang berulang dalam lingkungan cloud-native. Bagi Anda yang ingin memahami lebih banyak tentang cloud computing, teknologi digital, website, hosting, dan perkembangan teknologi lainnya, kunjungi Blog Hosteko untuk mendapatkan berbagai informasi dan panduan teknologi.
Salah satu cara praktis untuk mengurangi kebiasaan scrolling sebelum tidur adalah menjauhkan HP dari tempat…
Dalam lingkungan kerja maupun organisasi, kebutuhan untuk menyimpan dan berbagi file terus meningkat. Dokumen, gambar,…
Salah satu cara praktis untuk mengurangi kebiasaan scrolling sebelum tidur adalah menentukan batas waktu yang…
Dalam infrastruktur IT, menjaga agar aplikasi dan layanan tetap tersedia menjadi salah satu hal yang…
Pernah berniat hanya melihat HP selama lima menit sebelum tidur, tetapi tanpa sadar sudah menghabiskan…
Dalam sistem digital, data terus berubah setiap saat. Data pelanggan dapat diperbarui, transaksi baru masuk,…