HOTLINE

(0275) 2974 127

CHAT WA 24/7
0859-60000-390 (Sales)
0852-8969-9009 (Support)
Blog

Cara Membuat Website E-Commerce

Setelah mengetahui konsep dasar dan berbagai persiapan yang diperlukan, sekarang saatnya masuk ke tahap praktik. Pada bagian ini, kita akan membahas cara membuat website e-commerce menggunakan WordPress dan WooCommerce.

Metode ini cocok untuk pemula karena tidak mengharuskan seluruh sistem toko online dibuat dari nol dengan coding. WooCommerce merupakan platform e-commerce open-source untuk WordPress dan menyediakan proses onboarding yang membantu pemilik toko mengatur informasi bisnis, produk, pembayaran, pajak, tampilan, dan pengiriman.

Sebagai catatan, WordPress 7.0 dirilis pada 20 Mei 2026, sedangkan WordPress 7.0.1 dirilis pada 9 Juli 2026. WordPress 7.0.1 merupakan maintenance release yang memperbaiki 31 bug pada Core dan Block Editor. Karena itu, sebelum memulai instalasi, gunakan versi WordPress yang masih mendapatkan pembaruan dan pastikan lingkungan hosting mendukung versi tersebut.

1. Membeli Domain dan Hosting

Langkah pertama adalah menyiapkan domain dan hosting.

Domain merupakan nama/alamat yang digunakan untuk mengakses website, sedangkan hosting menyediakan lingkungan/server untuk menjalankan website dan menyimpan data yang diperlukan, termasuk file serta database pada layanan yang mendukungnya.

Contohnya:

Domain: tokobajuanda.com

Website: https://tokobajuanda.com

Untuk website e-commerce, hosting sebaiknya tidak dipilih hanya berdasarkan harga. Perhatikan beberapa faktor seperti:

  • Performa server.
  • Kapasitas penyimpanan.
  • RAM dan resource CPU.
  • Dukungan database.
  • SSL/HTTPS.
  • Sistem backup.
  • Keamanan server.
  • Dukungan teknis.
  • Kemudahan instalasi WordPress.
  • Kemampuan hosting menangani peningkatan trafik.

Toko online membutuhkan perhatian lebih terhadap performa karena halaman produk, gambar, keranjang, checkout, dan berbagai plugin dapat menambah beban website.

Jika bisnis masih kecil, Anda dapat memulai dari paket hosting yang sesuai kebutuhan kemudian melakukan upgrade ketika trafik dan transaksi meningkat.

2. Menghubungkan Domain dengan Hosting

Setelah domain dan hosting tersedia, pastikan domain telah diarahkan ke server hosting.

Biasanya proses ini dilakukan melalui pengaturan DNS atau nameserver.

Secara sederhana, alurnya:

Domain → DNS/Nameserver → Server Hosting → Website

Perubahan DNS tidak selalu langsung terlihat di semua jaringan karena DNS menggunakan mekanisme caching. Karena itu, setelah melakukan perubahan, tunggu hingga konfigurasi domain berhasil diterapkan.

Pastikan juga website sudah dapat diakses menggunakan HTTPS, misalnya:

https://tokobajuanda.com

HTTPS penting untuk website e-commerce karena menggunakan TLS untuk mengenkripsi komunikasi antara browser dan server. Hal ini membantu melindungi data yang dikirim selama proses komunikasi, termasuk informasi yang digunakan saat berbelanja online.

3. Install WordPress

Setelah domain dan hosting siap, instal WordPress.

Banyak layanan hosting menyediakan instalasi WordPress melalui control panel, meskipun fitur tersebut bergantung pada penyedia hosting yang digunakan.

Jika tersedia fitur instalasi otomatis, biasanya prosesnya melalui beberapa langkah:

  1. Login ke control panel hosting.
  2. Cari menu installer WordPress.
  3. Pilih domain yang akan digunakan.
  4. Tentukan nama website.
  5. Buat username administrator.
  6. Buat password administrator yang kuat.
  7. Jalankan proses instalasi.
  8. Login ke dashboard WordPress.

Jika instalasi berhasil, dashboard WordPress umumnya dapat diakses melalui alamat seperti:

https://domainanda.com/wp-admin

Gunakan password administrator yang kuat dan hindari username serta password yang mudah ditebak.

Pastikan WordPress Selalu Diperbarui

Pembaruan software tidak sebaiknya diabaikan. WordPress 7.0.1, yang dirilis pada 9 Juli 2026, membawa perbaikan terhadap 31 bug pada WordPress Core dan Block Editor.

Karena itu, sebelum website diluncurkan, periksa menu Dashboard → Updates dan pastikan WordPress, tema, serta plugin yang digunakan berada pada versi yang masih mendapatkan pembaruan.

4. Pilih Tema untuk Website E-Commerce

Setelah WordPress aktif, berikutnya adalah memilih tema.

Tema menentukan tampilan dasar website, termasuk layout halaman, tipografi, navigasi, dan elemen visual lainnya.

Untuk toko online, jangan hanya memilih tema berdasarkan tampilannya. Pastikan tema:

  • Responsive.
  • Nyaman digunakan di smartphone.
  • Mendukung WooCommerce.
  • Memiliki navigasi yang jelas.
  • Tidak terlalu banyak elemen yang tidak diperlukan.
  • Dioptimalkan untuk performa.
  • Mendapatkan pembaruan dari pengembang.
  • Kompatibel dengan versi WordPress dan plugin yang digunakan.

Tampilan sederhana dapat membantu pelanggan fokus pada produk dan proses pembelian, tetapi efektivitas desain tetap bergantung pada jenis bisnis dan target pengguna.

Salah satu tujuan utama website e-commerce adalah membantu pelanggan menemukan produk dan menyelesaikan pembelian dengan mudah.

5. Install WooCommerce

Setelah tema siap, pasang WooCommerce.

WooCommerce merupakan platform e-commerce open-source yang berjalan di atas WordPress dan menyediakan berbagai fungsi untuk membangun toko online.

Cara memasangnya:

  1. Login ke dashboard WordPress.
  2. Pilih Plugins → Add New Plugin.
  3. Cari WooCommerce.
  4. Pilih plugin WooCommerce.
  5. Klik Install Now.
  6. Klik Activate.

Setelah WooCommerce aktif, Anda dapat masuk ke proses Onboarding Wizard.

Wizard tersebut membantu mengatur informasi dasar seperti lokasi toko, jenis bisnis, produk yang dijual, serta beberapa rekomendasi fitur. Setelah onboarding, WooCommerce menyediakan Setup Checklist untuk membantu menyelesaikan konfigurasi toko.

6. Atur Informasi Dasar Toko

Pada tahap setup, masukkan informasi dasar bisnis.

Beberapa informasi yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Nama toko.
  • Lokasi bisnis.
  • Alamat.
  • Negara.
  • Mata uang.
  • Email toko.
  • Wilayah penjualan.
  • Wilayah pengiriman.

WooCommerce menyediakan pengaturan tersebut melalui WooCommerce → Settings → General. Bagian ini mencakup alamat toko, wilayah penjualan dan pengiriman, serta pengaturan mata uang.

Pastikan informasi yang dimasukkan sesuai dengan kondisi bisnis sebenarnya.

7. Tambahkan Produk ke Website

Website e-commerce yang menjual produk tentu membutuhkan katalog produk yang jelas. WooCommerce juga dapat digunakan untuk produk digital maupun layanan tertentu.

Untuk menambahkan produk, masuk ke:

WooCommerce → Products → Add Product

WooCommerce memungkinkan produk sederhana dibuat dengan memasukkan informasi dasar seperti nama dan harga. Informasi tambahan dapat ditambahkan untuk membantu pelanggan memahami produk yang ditawarkan.

Informasi Produk yang Sebaiknya Disiapkan

Nama produk

Gunakan nama yang jelas dan mudah dipahami.

Harga

Masukkan harga normal dan harga promo jika ada.

Deskripsi

Jelaskan manfaat, spesifikasi, ukuran, bahan, fitur, atau informasi penting lainnya.

Foto produk

Gunakan gambar yang jelas dan relevan.

Kategori

Kelompokkan produk berdasarkan jenisnya.

Stok

Jika produk memiliki jumlah terbatas, gunakan fitur pengelolaan inventori.

Variasi

Untuk produk seperti pakaian, Anda dapat membuat variasi berdasarkan ukuran atau warna. WooCommerce mendukung variasi dengan data seperti harga, stok, gambar, dan informasi lainnya.

Berat dan dimensi

Informasi ini dapat diperlukan oleh metode atau integrasi pengiriman tertentu.

WooCommerce menyediakan berbagai pengaturan produk, termasuk kategori, atribut, variasi, inventori, berat, dimensi, dan ulasan.

Contoh Produk

Misalnya Anda menjual sepatu:

Nama: Sepatu Sneakers Pria Urban

Harga: Rp299.000

Kategori: Sepatu Pria

Variasi:

  • Ukuran 39
  • Ukuran 40
  • Ukuran 41
  • Ukuran 42

Warna:

  • Hitam
  • Putih
  • Abu-abu

Dengan informasi yang lengkap, pelanggan dapat memperoleh detail produk langsung dari halaman toko tanpa harus selalu menanyakannya kepada penjual.

8. Atur Kategori Produk

Jika memiliki banyak produk, jangan memasukkan semuanya ke dalam satu kategori.

Buat kategori berdasarkan jenis produk.

Contohnya:

Fashion

  • Pria
  • Wanita
  • Anak-anak

Elektronik

  • Smartphone
  • Laptop
  • Aksesori

Makanan

  • Snack
  • Minuman
  • Frozen Food

Kategori membantu mengelompokkan produk dan memudahkan navigasi pelanggan. WooCommerce mendukung kategori bertingkat sehingga kategori utama dapat memiliki subkategori.

Struktur kategori dan navigasi yang jelas, disertai internal linking yang baik, juga dapat membantu mesin pencari memahami struktur website e-commerce.

9. Atur Halaman Penting

WooCommerce dapat membuat halaman inti toko secara otomatis ketika instalasi dan Setup Wizard selesai.

Halaman tersebut mencakup:

  • Shop
  • Cart
  • Checkout
  • My Account

WooCommerce menjelaskan bahwa halaman tersebut digunakan untuk katalog, keranjang, checkout, serta akun pelanggan.

WooCommerce juga dapat membuat halaman Refund and Returns Policy sebagai draft yang dapat disesuaikan dengan kebijakan toko.

Selain halaman bawaan tersebut, toko online sebaiknya juga memiliki halaman pendukung seperti:

  • Tentang Kami.
  • Kontak.
  • Kebijakan Privasi.
  • Kebijakan Pengembalian.
  • Syarat dan Ketentuan.
  • Informasi Pengiriman.

Halaman tersebut membantu pelanggan mengetahui siapa pengelola toko dan bagaimana aturan transaksi yang berlaku.

10. Atur Metode Pembayaran

Setelah produk tersedia, langkah berikutnya adalah mengatur pembayaran.

Masuk ke:

WooCommerce → Settings → Payments

Di bagian ini, Anda dapat melihat dan mengaktifkan payment provider atau metode pembayaran yang tersedia sesuai dengan konfigurasi toko dan negara tempat bisnis beroperasi. Ketersediaan provider dapat berbeda berdasarkan negara dan informasi toko.

Untuk bisnis di Indonesia, beberapa opsi yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  • Transfer bank.
  • Virtual Account.
  • QRIS.
  • E-wallet.
  • Kartu pembayaran.
  • COD jika tersedia.

Namun, Virtual Account, QRIS, e-wallet, dan pembayaran kartu biasanya memerlukan payment gateway/provider atau extension yang mendukung metode tersebut. Jangan menganggap seluruh metode tersebut tersedia secara otomatis di WooCommerce Core.

Transfer bank atau metode pembayaran offline juga dapat digunakan sesuai konfigurasi toko.

Jangan mengaktifkan terlalu banyak metode pembayaran jika tidak diperlukan. Pilih opsi yang mudah digunakan oleh target pelanggan dan sesuai dengan kebutuhan bisnis.

11. Atur Pengiriman

Jika menjual produk fisik, pengaturan pengiriman merupakan bagian penting dari proses checkout.

WooCommerce memungkinkan pengaturan shipping zones dan metode pengiriman berdasarkan wilayah tujuan. Shipping zone dapat ditentukan berdasarkan wilayah geografis, negara, hingga postcode tertentu.

Misalnya:

Zona 1 — Pulau Jawa

  • Reguler.
  • Express.

Zona 2 — Luar Jawa

  • Reguler.
  • Kargo.

Nama layanan seperti Reguler, Express, atau Kargo dapat bergantung pada konfigurasi atau integrasi pengiriman yang digunakan. WooCommerce Core sendiri menyediakan metode seperti Flat Rate, Free Shipping, dan Local Pickup.

Beberapa informasi yang perlu dipersiapkan, terutama jika menggunakan integrasi ekspedisi, antara lain:

  • Nama ekspedisi.
  • Wilayah layanan.
  • Tarif pengiriman.
  • Berat produk.
  • Dimensi produk.
  • Estimasi pengiriman jika ingin ditampilkan.
  • Pilihan pickup jika tersedia.

Pastikan ongkos kirim yang muncul di checkout sesuai dengan konfigurasi dan kebijakan toko.

12. Atur Mata Uang dan Pajak

Untuk bisnis yang melakukan transaksi dalam Rupiah, gunakan Rupiah (IDR) sebagai mata uang toko.

Pengaturan mata uang tersedia di pengaturan umum WooCommerce.

Untuk pajak, jangan sekadar mengaktifkan atau menonaktifkan fitur tanpa memahami kewajiban bisnis. WooCommerce menyediakan fitur untuk mengatur dan menghitung pajak berdasarkan konfigurasi, tetapi dokumentasi WooCommerce tidak menentukan kapan atau berapa pajak yang harus dikenakan karena hal tersebut bergantung pada yurisdiksi dan kondisi bisnis.

Jika tidak yakin, konsultasikan pengaturannya dengan pihak yang memahami perpajakan bisnis di Indonesia.

13. Atur Tampilan Toko

Setelah fungsi utama aktif, mulai rapikan tampilan website.

Salah satu struktur navigasi yang dapat digunakan adalah:

Logo → Menu → Kategori → Produk → Keranjang → Checkout

Google merekomendasikan agar halaman e-commerce dapat dijangkau melalui navigasi dan internal linking, misalnya dari menu ke kategori, dari kategori ke subkategori, dan kemudian ke halaman produk.

Homepage dapat menggunakan struktur seperti:

Hero Section

Menampilkan produk atau promosi utama.

Kategori Produk

Memudahkan pelanggan memilih jenis produk.

Produk Terlaris

Menampilkan produk dengan performa penjualan tinggi jika data tersebut tersedia.

Produk Terbaru

Menampilkan produk yang baru ditambahkan.

Promo

Menampilkan penawaran khusus.

Testimoni

Menampilkan pengalaman pelanggan jika sudah tersedia.

Footer

Berisi kontak, informasi toko, kebijakan, dan tautan penting.

14. Pastikan Website Nyaman di Smartphone

Karena pelanggan dapat mengakses toko dari berbagai perangkat, jangan hanya memeriksa tampilan website melalui laptop.

Coba buka website menggunakan smartphone dan periksa:

  • Apakah menu mudah digunakan?
  • Apakah gambar produk terlihat jelas?
  • Apakah tombol Add to Cart mudah ditemukan?
  • Apakah kolom checkout nyaman diisi?
  • Apakah teks mudah dibaca?
  • Apakah halaman terlalu berat?
  • Apakah tombol pembayaran dapat ditekan dengan mudah?

Pengalaman mobile yang buruk dapat menghambat pelanggan dalam menjelajahi produk maupun menyelesaikan pembelian. Karena itu, pengujian pada smartphone sebaiknya menjadi bagian dari proses sebelum toko dipublikasikan.

15. Lakukan Tes Sebelum Website Dibuka untuk Publik

Jangan langsung mempromosikan website setelah instalasi selesai.

Lakukan simulasi pembelian terlebih dahulu.

Coba alur berikut:

Buka website → Pilih produk → Add to Cart → Checkout → Isi data → Pilih pengiriman → Pilih pembayaran → Selesaikan transaksi

Kemudian periksa apakah seluruh proses berjalan dengan benar.

Hal yang Perlu Dicek

  • Produk masuk ke keranjang.
  • Harga produk benar.
  • Jumlah produk dapat diubah.
  • Ongkir muncul sesuai pengaturan.
  • Metode pembayaran muncul.
  • Form checkout berfungsi.
  • Email notifikasi terkirim jika dikonfigurasi.
  • Pesanan tercatat di dashboard.
  • Stok berkurang sesuai pengaturan.
  • Website dapat diakses melalui smartphone.

Tahap pengujian ini penting karena kesalahan pada checkout dapat menghambat atau menggagalkan pelanggan dalam menyelesaikan pembelian.

Kesimpulan

Membuat website e-commerce menggunakan WordPress dan WooCommerce dapat dilakukan secara bertahap tanpa harus membangun seluruh sistem toko online dari nol.

Urutan sederhananya adalah:

Domain & Hosting → WordPress → Tema → WooCommerce → Informasi Toko → Produk → Kategori → Pembayaran → Pengiriman → Tampilan → Testing

WooCommerce menyediakan Onboarding Wizard dan Setup Checklist yang membantu pengguna menyelesaikan berbagai tugas penting seperti menambahkan produk, mengatur pembayaran, menyesuaikan tampilan, pajak, pengiriman, hingga meluncurkan toko.

Namun, website yang sudah dapat melakukan transaksi belum tentu siap untuk dipromosikan secara luas. Keamanan, performa, SEO, backup, serta pengalaman pengguna masih perlu diperiksa dan dioptimalkan.

Pada Bagian 3, kita akan membahas cara membuat website e-commerce benar-benar siap digunakan untuk bisnis, mulai dari keamanan website, optimasi kecepatan, SEO produk, pengujian checkout, strategi mendatangkan pengunjung, hingga checklist sebelum toko online diluncurkan.

Ingin mempelajari lebih banyak seputar web development, cloud computing, keamanan siber, server, hingga berbagai tren teknologi terbaru? Kunjungi blog Hosteko untuk mendapatkan artikel yang informatif, mudah dipahami, dan selalu diperbarui mengikuti perkembangan dunia digital.

Jangan lewatkan berbagai panduan, tips, serta tutorial yang dapat membantu Anda mengembangkan website, meningkatkan performa bisnis online, dan memperluas wawasan di bidang teknologi. Temukan artikel menarik lainnya hanya di Hosteko Blog dan terus ikuti informasi terbaru untuk mendukung perjalanan digital Anda.

5/5 - (5 votes)
Mulki A. A

Recent Posts

Cara Membuat Website E-Commerce untuk Pemula

Perkembangan e-commerce membuat bisnis semakin mudah menjangkau pelanggan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada toko fisik.…

4 hours ago

Cara Memilih KOL yang Tepat untuk Strategi Marketing

Pada Bagian sebelumnya, kita sudah membahas apa itu KOL, jenis-jenis KOL, perbedaannya dengan influencer, serta…

6 hours ago

Thin Content: Pengertian, Ciri-Ciri, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Apa Itu Thin Content? Pengertian, Ciri-Ciri, Dampak, dan Cara Mengatasinya Dalam dunia SEO, kualitas konten…

7 hours ago

KOL Adalah: Pengertian, Jenis, dan Perannya dalam Marketing

Di tengah persaingan bisnis digital yang semakin ketat, promosi tidak lagi hanya mengandalkan iklan dari…

1 day ago

Cara Mencegah Sniffing dan Mengamankan Jaringan

Pada Bagian sebelumnya, kita telah membahas pengertian sniffing, cara kerja, serta jenis passive dan active…

1 day ago

Mengenal Google SGE (Search Generative Experience) dan Pengaruhnya terhadap Strategi SEO

Mengenal Search Generative Experience (SGE) Search Generative Experience (SGE) adalah eksperimen Google yang mengintegrasikan teknologi…

1 day ago