HOTLINE

(0275) 2974 127

CHAT WA 24/7
0859-60000-390 (Sales)
0852-8969-9009 (Support)
Blog

Cara Membuat Website E-Commerce untuk Pemula

Perkembangan e-commerce membuat bisnis semakin mudah menjangkau pelanggan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada toko fisik. Di Indonesia, ekosistem perdagangan digital juga terus berkembang. Berdasarkan publikasi BPS Statistik E-Commerce 2024 yang dirilis pada 28 November 2025, jumlah usaha e-commerce di Indonesia pada 2024 meningkat 15,30% dibandingkan tahun sebelumnya. BPS juga mencatat bahwa sebagian besar pelaku usaha e-commerce berasal dari kelompok usaha mikro.

Memasuki 2026, peluang tersebut juga didukung oleh perkembangan pembayaran digital. Bank Indonesia menyebut QRIS sebagai standar QR Code Pembayaran yang dirancang agar transaksi menjadi lebih cepat, mudah, murah, aman, dan andal. QRIS juga diarahkan sebagai salah satu entry point UMKM ke ekosistem digital.

Artinya, membuat website e-commerce bukan lagi sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh perusahaan besar atau orang yang menguasai coding. Dengan platform yang tepat, pemilik bisnis pemula pun dapat membangun toko online sendiri.

Pada bagian pertama ini, pembahasan akan dimulai dari pengertian website e-commerce, manfaatnya untuk bisnis, persiapan yang perlu dilakukan, hingga pilihan teknologi yang dapat digunakan untuk membuat toko online dengan lebih mudah.

1. Apa Itu Website E-Commerce?

Website e-commerce adalah situs web yang digunakan untuk menjalankan aktivitas jual beli barang atau jasa secara online. Melalui website tersebut, pelanggan dapat melihat produk, mengetahui harga, memasukkan barang ke keranjang, melakukan checkout, memilih metode pembayaran, hingga mendapatkan informasi mengenai pesanan.

Secara sederhana, website e-commerce dapat berfungsi sebagai toko digital milik sendiri.

Berbeda dengan website biasa yang mungkin hanya digunakan untuk menampilkan informasi perusahaan, website e-commerce memiliki fungsi transaksi. Beberapa fitur yang umum tersedia antara lain:

  • Katalog produk.
  • Kategori produk.
  • Detail dan foto produk.
  • Harga dan variasi produk.
  • Keranjang belanja.
  • Checkout.
  • Metode pembayaran.
  • Pilihan pengiriman.
  • Manajemen stok.
  • Akun pelanggan.
  • Riwayat pesanan.
  • Notifikasi transaksi.

Kelengkapan fitur tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis. Toko online kecil tidak harus langsung menggunakan sistem yang kompleks. Bagi pemula, lebih baik memulai dari fitur yang benar-benar dibutuhkan kemudian mengembangkannya secara bertahap.

2. Mengapa Bisnis Membutuhkan Website E-Commerce?

Marketplace memang memberikan akses cepat kepada penjual untuk masuk ke pasar online. Namun, memiliki website e-commerce sendiri umumnya memberikan kontrol yang lebih besar terhadap tampilan, struktur, fitur, dan pengembangan toko dibandingkan berjualan sepenuhnya melalui marketplace.

BPS dalam kajiannya mengenai marketplace menyebut marketplace sebagai salah satu motor utama e-commerce karena mampu memperluas pasar dan meningkatkan transaksi. BPS juga mengidentifikasi sejumlah risiko dalam penggunaan marketplace, termasuk akses data yang terbatas, manipulasi algoritma, persaingan yang tidak seimbang, dan kemungkinan delisting sepihak.

Karena itu, website sendiri dapat digunakan sebagai kanal tambahan yang melengkapi marketplace.

a. Membangun Identitas Brand

Ketika pelanggan berbelanja melalui marketplace, mereka berinteraksi dengan ekosistem marketplace tersebut. Sebaliknya, website sendiri memberikan ruang yang lebih besar bagi bisnis untuk membangun identitas brand.

Pemilik bisnis dapat menentukan:

  • Nama domain.
  • Logo.
  • Warna brand.
  • Desain halaman.
  • Cara menampilkan produk.
  • Gaya komunikasi.
  • Konten promosi.

Hal tersebut membantu menciptakan pengalaman yang lebih konsisten bagi pelanggan.

b. Tidak Bergantung pada Satu Platform

Marketplace tetap dapat digunakan sebagai salah satu sumber penjualan. Namun, bisnis sebaiknya tidak hanya mengandalkan satu kanal.

Dengan website sendiri, bisnis mempunyai kanal penjualan tambahan yang dapat dikembangkan dalam jangka panjang.

Strateginya dapat dibuat seperti ini:

Media sosial → Website → Transaksi → Pelanggan kembali membeli

Sementara marketplace dapat tetap digunakan sebagai kanal tambahan untuk mendapatkan pelanggan baru.

c. Lebih Bebas Mengembangkan Fitur

Website sendiri umumnya memberikan fleksibilitas lebih besar untuk menambahkan fitur sesuai kebutuhan.

Misalnya:

  • Sistem membership.
  • Voucher khusus pelanggan.
  • Program loyalitas.
  • Bundling produk.
  • Blog.
  • Landing page promosi.
  • Form konsultasi.
  • Integrasi email marketing.
  • Integrasi WhatsApp.
  • Analitik penjualan.

Fleksibilitas ini menjadi salah satu alasan mengapa platform website e-commerce tetap menarik untuk bisnis yang ingin berkembang.

d. Mendukung Strategi SEO

Website e-commerce juga dapat dikembangkan melalui mesin pencari. Setiap kategori dan halaman produk berpotensi menjadi pintu masuk bagi calon pelanggan dari Google.

Namun, SEO bukan sekadar memasukkan kata kunci. Website juga harus memberikan pengalaman yang baik bagi pengguna.

Google menyarankan pemilik situs memperhatikan Core Web Vitals, keamanan, tampilan pada perangkat mobile, serta pengalaman halaman secara keseluruhan.

e. Bisa Diakses Kapan Saja

Toko fisik memiliki jam operasional. Website dapat diakses pelanggan kapan saja selama website dan layanan pendukungnya tersedia.

Pelanggan dapat melihat produk pada pagi, siang, malam, bahkan di luar jam kerja. Proses transaksi juga dapat dibuat otomatis sehingga pemilik bisnis tidak perlu melayani setiap langkah pembelian secara manual.

3. Website E-Commerce vs Marketplace, Apa Bedanya?

Website e-commerce dan marketplace sama-sama dapat digunakan untuk berjualan online, tetapi cara kerja keduanya berbeda.

Aspek Website E-Commerce Marketplace
Kanal/toko Berada di bawah kendali bisnis Berada dalam ekosistem platform
Branding Lebih bebas Mengikuti ekosistem platform
Kontrol website Umumnya lebih tinggi Terbatas pada fitur platform
Persaingan produk Dapat dikelola sesuai desain dan strategi toko Berdampingan dengan banyak penjual
Data pelanggan Bergantung pada sistem dan kebijakan yang digunakan Mengikuti kebijakan platform
Biaya awal Dapat membutuhkan domain, hosting, dan pengembangan Biasanya lebih mudah untuk mulai
SEO brand Dapat dikembangkan sendiri Bergantung pada platform
Fleksibilitas fitur Umumnya lebih tinggi Mengikuti fitur platform

Bukan berarti website harus menggantikan marketplace sepenuhnya.

Untuk banyak bisnis, pendekatan yang lebih realistis adalah menggunakan keduanya. Marketplace dapat dimanfaatkan untuk memperoleh pelanggan dan transaksi, sedangkan website digunakan untuk membangun aset digital serta brand dalam jangka panjang.

4. Persiapan Sebelum Membuat Website E-Commerce

Kesalahan yang sering dilakukan pemula adalah langsung membeli domain dan memasang platform tanpa menentukan kebutuhan toko terlebih dahulu.

Sebelum membuat website, sebaiknya siapkan beberapa hal berikut.

a. Tentukan Produk yang Akan Dijual

Tentukan dengan jelas produk yang akan ditawarkan.

Contohnya:

  • Fashion.
  • Makanan dan minuman.
  • Elektronik.
  • Produk kecantikan.
  • Perlengkapan rumah.
  • Produk digital.
  • Jasa.

Jenis produk akan memengaruhi struktur website, kebutuhan penyimpanan, sistem stok, pengiriman, hingga metode pembayaran.

b. Tentukan Target Pelanggan

Jangan membuat website untuk “semua orang”.

Tentukan siapa calon pelanggan utama berdasarkan faktor seperti:

  • Usia.
  • Lokasi.
  • Kebutuhan.
  • Daya beli.
  • Kebiasaan belanja.
  • Perangkat yang digunakan.
  • Masalah yang ingin diselesaikan.

Informasi tersebut akan membantu menentukan desain website, bahasa promosi, harga, dan strategi pemasaran.

c. Tentukan Nama Brand dan Domain

Domain merupakan alamat yang digunakan pelanggan untuk mengakses website.

Misalnya:

namabisnis.com

Sebaiknya nama domain:

  • Mudah dibaca.
  • Mudah diingat.
  • Tidak terlalu panjang.
  • Mudah diketik.
  • Sesuai dengan nama brand.
  • Tidak membingungkan ketika diucapkan.

Jika memungkinkan, gunakan nama brand yang konsisten antara domain, media sosial, dan identitas bisnis.

d. Siapkan Foto Produk

Foto menjadi salah satu elemen penting dalam toko online karena pelanggan tidak dapat melihat produk secara langsung.

Gunakan foto yang:

  • Jelas.
  • Tidak buram.
  • Memiliki pencahayaan cukup.
  • Menampilkan produk dari beberapa sudut.
  • Memiliki ukuran yang sesuai untuk website.

Jangan lupa mengoptimalkan ukuran file gambar agar kualitas tetap baik tanpa membuat halaman terlalu berat.

e. Siapkan Deskripsi Produk

Deskripsi sebaiknya tidak hanya berisi kalimat promosi.

Cantumkan informasi yang benar-benar dibutuhkan pelanggan, seperti:

  • Nama produk.
  • Spesifikasi.
  • Ukuran.
  • Material.
  • Warna atau varian.
  • Isi paket.
  • Cara penggunaan.
  • Garansi jika tersedia.
  • Informasi penting lainnya.

Informasi produk yang jelas dan relevan membantu mesin pencari memahami isi halaman serta memberikan konteks mengenai produk yang ditawarkan.

f. Tentukan Metode Pembayaran

Website e-commerce harus memiliki metode pembayaran yang mudah digunakan pelanggan.

Pilihan dapat disesuaikan dengan bisnis, misalnya:

  • Transfer bank.
  • Virtual account.
  • Kartu.
  • E-wallet.
  • QRIS.
  • Cash on Delivery jika tersedia.
  • Payment gateway atau layanan pemrosesan pembayaran.

Untuk pasar Indonesia, QRIS menjadi salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan. Bank Indonesia menyatakan bahwa satu QRIS dapat digunakan untuk memfasilitasi pembayaran dengan berbagai instrumen pembayaran dari penyedia jasa pembayaran yang berbeda.

g. Tentukan Metode Pengiriman

Jika menjual produk fisik, tentukan bagaimana barang akan sampai ke pelanggan.

Beberapa hal yang perlu dipersiapkan:

  • Jasa ekspedisi.
  • Wilayah pengiriman.
  • Tarif ongkir.
  • Estimasi waktu.
  • Sistem pelacakan.
  • Kebijakan retur.

Informasi pengiriman yang jelas dapat mengurangi kebingungan pelanggan saat checkout.

5. Pilihan Cara Membuat Website E-Commerce

Setelah kebutuhan bisnis ditentukan, langkah berikutnya adalah memilih teknologi.

Secara umum terdapat beberapa pendekatan.

a. Membuat Website dengan Coding dari Nol

Cara ini memberikan fleksibilitas sangat tinggi karena seluruh sistem dapat dirancang sesuai kebutuhan.

Namun, metode ini membutuhkan kemampuan teknis seperti:

  • HTML.
  • CSS.
  • JavaScript.
  • Backend programming.
  • Database.
  • Server.
  • Keamanan aplikasi.
  • API.
  • Deployment.

Untuk pemula yang hanya ingin segera memiliki toko online, membuat semuanya dari nol biasanya bukan pilihan paling praktis.

b. Menggunakan CMS

CMS atau Content Management System merupakan perangkat lunak yang membantu pengguna membuat dan mengelola konten website tanpa harus membangun seluruh sistem pengelolaan konten dari awal.

Salah satu CMS yang populer adalah WordPress.

WordPress dapat dikembangkan menjadi website e-commerce dengan bantuan plugin dan tema yang sesuai.

c. Menggunakan WooCommerce

Untuk pengguna WordPress, WooCommerce menjadi salah satu pilihan yang menarik.

WooCommerce merupakan platform e-commerce open-source untuk WordPress dan menyediakan berbagai fungsi untuk membangun serta mengelola toko online.

Menurut data StoreLeads yang dikutip WooCommerce, pada 2026 terdapat lebih dari 4,1 juta instalasi aktif WooCommerce, sementara sekitar 30,5% situs e-commerce menggunakan WooCommerce berdasarkan pengukuran tersebut. WooCommerce juga mengutip data W3Techs mengenai penggunaan WordPress di web.

W3Techs mencatat WordPress digunakan oleh sekitar 41,5% dari seluruh website dalam data yang diperbarui pada 2026. Angka ini dapat berubah seiring pembaruan data W3Techs.

Hal ini membuat kombinasi WordPress + WooCommerce menjadi salah satu opsi yang layak dipertimbangkan untuk pemula yang ingin membuat website toko online tanpa membangun seluruh sistem e-commerce dari nol.

d. Menggunakan Website Builder

Website builder yang mendukung e-commerce biasanya menawarkan cara yang lebih sederhana karena sebagian besar proses teknis telah disediakan oleh platform.

Pengguna biasanya dapat memilih template, mengatur tampilan, menambahkan produk, dan mengonfigurasi sistem pembayaran melalui fitur bawaan atau layanan pihak ketiga.

Kelebihannya adalah lebih mudah digunakan. Kekurangannya, fleksibilitas dan kontrol dapat bergantung pada fitur serta kebijakan penyedia platform.

6. Mana Cara Termudah untuk Pemula?

Jika tujuan utama adalah membuat website e-commerce dengan cepat tanpa harus menguasai coding, pendekatan menggunakan CMS dan plugin e-commerce dapat menjadi pilihan yang praktis.

Salah satu skema yang dapat digunakan adalah:

Domain + Hosting → WordPress → Tema E-Commerce → WooCommerce → Produk → Pembayaran → Pengiriman → Website Siap Berjualan

Dengan pendekatan tersebut, pemilik bisnis tidak perlu membangun sistem keranjang, katalog, checkout, dan manajemen produk dari awal karena fungsi e-commerce dasar telah disediakan oleh platform seperti WooCommerce.

Namun, “mudah” bukan berarti website dapat dibuat tanpa perencanaan. Pemilihan hosting, tema, plugin, keamanan, kecepatan, dan struktur website tetap perlu diperhatikan.

Website e-commerce juga sebaiknya dirancang mobile-friendly. Google menggunakan konten versi mobile untuk indexing dan ranking melalui pendekatan mobile-first indexing, sehingga tampilan dan konten pada perangkat seluler perlu menjadi perhatian sejak awal.

Selain itu, performa juga perlu diperhatikan. Google menyarankan LCP 2,5 detik atau kurang, INP kurang dari 200 milidetik, dan CLS kurang dari 0,1 sebagai target Core Web Vitals yang baik.

Jadi, website e-commerce yang baik bukan hanya website yang bisa berjualan, tetapi juga website yang cepat, aman, mudah digunakan, dan nyaman diakses melalui smartphone.

7. Apa Saja yang Dibutuhkan untuk Membuat Website E-Commerce?

Secara sederhana, kebutuhan dasarnya dapat dibagi menjadi beberapa komponen:

1. Domain
Alamat website yang digunakan pelanggan.

2. Hosting
Tempat menyimpan file, database, dan berbagai komponen website.

3. CMS
Sistem untuk mengelola website, misalnya WordPress.

4. Platform E-Commerce
Sistem yang menangani fungsi toko online, misalnya WooCommerce.

5. Tema
Mengatur tampilan dan layout website.

6. Produk
Informasi barang atau jasa yang akan dijual.

7. Payment Gateway atau Metode Pembayaran
Mengatur atau memproses pembayaran pelanggan, sesuai layanan yang digunakan.

8. Sistem Pengiriman
Mengatur ongkos dan proses pengiriman produk.

9. SSL/HTTPS
Membantu mengamankan komunikasi antara browser pelanggan dan server.

10. Sistem Backup dan Keamanan
Membantu melindungi website dari kehilangan data maupun berbagai masalah keamanan.

Jika semua komponen tersebut telah dipersiapkan, proses pembuatan website akan jauh lebih mudah dilakukan.

Kesimpulan

Membuat website e-commerce pada 2026 tidak harus dimulai dari proses coding yang rumit. Perkembangan CMS dan platform e-commerce membuat pemilik bisnis dapat membangun toko online dengan lebih praktis.

Di Indonesia sendiri, perkembangan usaha e-commerce dan pembayaran digital menunjukkan bahwa kanal online semakin penting bagi bisnis. BPS mencatat jumlah usaha e-commerce meningkat 15,30% pada 2024, sementara QRIS terus dikembangkan sebagai standar pembayaran digital yang mendukung transaksi ritel dan inklusi ekonomi.

Untuk pemula, salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan adalah WordPress + WooCommerce karena tidak mengharuskan pemilik bisnis membangun seluruh sistem toko online dari awal. WooCommerce merupakan platform e-commerce open-source yang dibangun untuk WordPress.

Namun, sebelum mulai instalasi, pastikan terlebih dahulu domain, hosting, produk, foto, deskripsi, metode pembayaran, pengiriman, serta kebutuhan desain telah dipersiapkan.

Pada Bagian berikutnya, kita akan masuk ke tahap praktik, mulai dari memilih domain dan hosting, memasang WordPress, memilih tema e-commerce, menginstal WooCommerce, menambahkan produk, hingga mengatur pembayaran dan pengiriman agar website mulai siap digunakan.

Ingin mempelajari lebih banyak seputar web development, cloud computing, keamanan siber, server, hingga berbagai tren teknologi terbaru? Kunjungi blog Hosteko untuk mendapatkan artikel yang informatif, mudah dipahami, dan selalu diperbarui mengikuti perkembangan dunia digital.

Jangan lewatkan berbagai panduan, tips, serta tutorial yang dapat membantu Anda mengembangkan website, meningkatkan performa bisnis online, dan memperluas wawasan di bidang teknologi. Temukan artikel menarik lainnya hanya di Hosteko Blog dan terus ikuti informasi terbaru untuk mendukung perjalanan digital Anda.

5/5 - (6 votes)
Mulki A. A

Recent Posts

Cara Memilih KOL yang Tepat untuk Strategi Marketing

Pada Bagian sebelumnya, kita sudah membahas apa itu KOL, jenis-jenis KOL, perbedaannya dengan influencer, serta…

4 hours ago

Thin Content: Pengertian, Ciri-Ciri, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Apa Itu Thin Content? Pengertian, Ciri-Ciri, Dampak, dan Cara Mengatasinya Dalam dunia SEO, kualitas konten…

5 hours ago

KOL Adalah: Pengertian, Jenis, dan Perannya dalam Marketing

Di tengah persaingan bisnis digital yang semakin ketat, promosi tidak lagi hanya mengandalkan iklan dari…

24 hours ago

Cara Mencegah Sniffing dan Mengamankan Jaringan

Pada Bagian sebelumnya, kita telah membahas pengertian sniffing, cara kerja, serta jenis passive dan active…

1 day ago

Mengenal Google SGE (Search Generative Experience) dan Pengaruhnya terhadap Strategi SEO

Mengenal Search Generative Experience (SGE) Search Generative Experience (SGE) adalah eksperimen Google yang mengintegrasikan teknologi…

1 day ago

Sniffing: Teknik, Tools, Risiko, dan Cara Mendeteksinya

Pada Bagian sebelumnya, kita telah membahas pengertian sniffing, cara kerja packet sniffer, passive dan active…

2 days ago