(0275) 2974 127
Pada Bagian sebelumnya, kita telah membahas pengertian sniffing, cara kerja, serta jenis passive dan active sniffing. Kemudian pada Bagian berikutnya, pembahasan dilanjutkan dengan teknik packet capture, tools seperti Wireshark dan tcpdump, risiko sniffing, serta cara mendeteksi aktivitas jaringan yang mencurigakan.
Meskipun sniffing dapat digunakan untuk kebutuhan administrasi jaringan, aktivitas tersebut menjadi ancaman ketika seseorang mengamati lalu lintas tanpa izin. Salah satu cara penting untuk mengurangi dampaknya adalah melindungi data sejak dikirimkan melalui jaringan.
Mekanisme kriptografi seperti TLS dan IPsec dapat digunakan untuk memberikan perlindungan terhadap kerahasiaan dan integritas komunikasi selama transmisi.
Lalu, bagaimana cara mencegah sniffing dan apa yang harus dilakukan ketika jaringan dicurigai mengalami aktivitas tersebut?
Tidak ada satu metode yang dapat menjamin jaringan sepenuhnya bebas dari risiko sniffing. Keamanan perlu diterapkan melalui beberapa lapisan, mulai dari enkripsi komunikasi, keamanan Wi-Fi, konfigurasi perangkat jaringan, hingga monitoring.
Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan.
Enkripsi merupakan salah satu perlindungan penting terhadap risiko penyadapan trafik.
Ketika data dikirim melalui jaringan menggunakan mekanisme enkripsi yang tepat, pihak yang berhasil menangkap paket tidak dapat begitu saja membaca isi komunikasi tersebut.
Salah satu teknologi yang umum digunakan adalah Transport Layer Security (TLS). TLS menyediakan perlindungan terhadap kerahasiaan dan integritas komunikasi serta mendukung autentikasi berbasis sertifikat. HTTP yang dikirim menggunakan TLS dikenal sebagai HTTPS.
Contohnya:
Dengan demikian, packet capture masih mungkin terjadi, tetapi isi data yang ditangkap dapat terlindungi oleh enkripsi.
Ketika website menggunakan HTTPS, komunikasi antara browser dan server dilindungi TLS.
Artinya, pihak yang hanya dapat mengamati paket jaringan tidak dapat langsung membaca isi komunikasi seperti pada HTTP tanpa enkripsi, selama koneksi TLS berjalan dengan benar.
Namun, HTTPS bukan berarti seluruh aktivitas pengguna menjadi tidak terlihat. Sebagian informasi jaringan dan karakteristik trafik tertentu masih dapat terlihat, bergantung pada protokol, topologi, serta titik pengamatan.
Jadi, HTTPS melindungi isi komunikasi, bukan menghilangkan seluruh informasi jaringan yang dapat diamati.
VPN atau Virtual Private Network dapat digunakan untuk membangun koneksi yang terlindungi antara perangkat dan endpoint VPN.
Hal ini dapat berguna ketika pengguna berada pada jaringan yang tingkat kepercayaannya rendah, misalnya:
Salah satu teknologi yang digunakan untuk membangun VPN adalah IPsec. IPsec memberikan layanan keamanan pada lapisan jaringan dan dapat digunakan untuk melindungi komunikasi melalui jaringan publik.
Namun, VPN bukan solusi untuk semua ancaman.
VPN tidak otomatis melindungi pengguna dari:
Karena itu, VPN sebaiknya dipandang sebagai salah satu lapisan perlindungan, bukan pengganti keamanan perangkat secara keseluruhan.
Wi-Fi merupakan salah satu lingkungan yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena komunikasi berlangsung menggunakan gelombang radio.
Keamanan jaringan nirkabel sebaiknya diterapkan melalui beberapa kontrol yang saling melengkapi.
Untuk jaringan pribadi maupun organisasi, beberapa praktik yang dapat diterapkan adalah:
Jaringan Wi-Fi sebaiknya tidak menggunakan mekanisme keamanan lama yang sudah tidak direkomendasikan atau tidak lagi mendapatkan dukungan keamanan.
Jika perangkat dan lingkungan jaringan mendukungnya, WPA3 dapat digunakan sebagai pilihan modern.
Jika WPA3 belum tersedia, gunakan konfigurasi WPA2 yang masih didukung dan dikonfigurasi dengan baik, sesuai kebutuhan dan kompatibilitas perangkat.
Pemilihan standar keamanan saja tidak cukup. Keamanan WLAN juga bergantung pada konfigurasi access point, autentikasi, password, firmware, serta kontrol jaringan lainnya.
Password Wi-Fi merupakan salah satu lapisan pertahanan jaringan.
Password yang mudah ditebak dapat meningkatkan risiko akses tidak sah ke jaringan.
Hindari penggunaan:
Gunakan password Wi-Fi yang cukup panjang dan sulit ditebak. Jika memungkinkan, gunakan kredensial Wi-Fi yang tidak digunakan untuk layanan lain.
Selain password Wi-Fi, administrator juga perlu mengganti password administrator router atau access point karena kredensial tersebut memberikan akses ke konfigurasi perangkat.
Network segmentation merupakan praktik membagi jaringan menjadi beberapa segmen berdasarkan fungsi, tingkat kepercayaan, atau kebutuhan akses.
Contohnya:
Segmentasi dapat membatasi dampak apabila salah satu perangkat mengalami kompromi.
Misalnya, perangkat IoT yang tidak membutuhkan akses ke server internal sebaiknya tidak diberikan akses langsung ke jaringan server.
Dengan pendekatan tersebut, akses antarsegmen dapat dibatasi sehingga kompromi pada satu segmen tidak secara otomatis memberikan akses bebas ke seluruh lingkungan jaringan. Efektivitasnya tetap bergantung pada konfigurasi firewall, ACL, VLAN, identitas, dan kontrol keamanan lainnya.
Firewall dapat digunakan untuk mengontrol lalu lintas yang masuk maupun keluar berdasarkan aturan keamanan.
Dalam konteks perlindungan terhadap sniffing, firewall bukan alat yang secara khusus “menghentikan packet sniffer”.
Namun, firewall dapat membantu mengurangi permukaan serangan dengan membatasi komunikasi yang tidak diperlukan.
Beberapa kebijakan yang dapat diterapkan antara lain:
Firewall dengan sendirinya tidak menyelesaikan seluruh masalah sniffing, tetapi dapat menjadi salah satu lapisan dalam strategi keamanan jaringan.
Pencegahan tidak cukup jika administrator tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam jaringan.
Monitoring dapat membantu menemukan perubahan yang tidak biasa, misalnya:
Administrator dapat menggunakan kombinasi:
Visibilitas jaringan yang baik dapat membantu administrator menelusuri aktivitas yang tidak biasa dengan lebih efektif.
Firmware yang sudah usang dapat mengandung kerentanan yang telah diketahui.
Karena itu, administrator sebaiknya:
Langkah ini tidak secara langsung mencegah setiap bentuk sniffing, tetapi dapat mengurangi kemungkinan perangkat jaringan dieksploitasi sebagai bagian dari serangan.
Wi-Fi publik memberikan kemudahan ketika pengguna sedang berada di tempat umum, tetapi jaringan tersebut tidak selalu berada di bawah kendali pengguna.
Hotspot publik seperti di kafe, perpustakaan, dan bandara dapat memiliki risiko keamanan. Informasi yang dikirim melalui jaringan sebaiknya dilindungi menggunakan koneksi terenkripsi.
Berikut beberapa tips yang dapat diterapkan.
Sebelum memasukkan informasi sensitif, pastikan koneksi website menggunakan HTTPS.
HTTPS membantu melindungi isi komunikasi antara browser dan server dari pengamatan pihak yang tidak berwenang selama koneksi TLS berjalan dengan benar.
Jika menggunakan komputer umum atau perangkat yang bukan milik sendiri, hindari memasukkan informasi sensitif seperti:
Masalahnya bukan hanya sniffing jaringan. Perangkat tersebut sendiri dapat mengandung malware atau software pemantauan.
Jika jaringan publik terlihat mencurigakan atau tidak jelas siapa pengelolanya, menggunakan koneksi seluler pribadi dapat menjadi alternatif.
Dengan begitu, pengguna tidak perlu bergantung pada jaringan Wi-Fi publik yang tidak diketahui tingkat keamanannya.
Fitur koneksi otomatis dapat membuat perangkat terhubung ke jaringan Wi-Fi yang pernah digunakan sebelumnya.
Nonaktifkan fitur tersebut jika tidak diperlukan dan periksa nama jaringan sebelum terhubung.
Jika browser memberikan peringatan sertifikat atau menunjukkan bahwa koneksi tidak aman, jangan langsung mengabaikannya.
Peringatan tersebut dapat menunjukkan adanya masalah pada sertifikat, konfigurasi server, atau kondisi koneksi yang perlu diperiksa.
Jika administrator atau pengguna menemukan indikasi bahwa jaringan sedang mengalami aktivitas mencurigakan, jangan langsung menyimpulkan bahwa sniffing pasti terjadi.
Lakukan investigasi secara bertahap.
Kumpulkan informasi mengenai:
Tujuannya adalah membedakan antara gangguan normal dengan aktivitas yang benar-benar mencurigakan.
Bandingkan daftar perangkat aktif dengan inventaris resmi.
Jika ditemukan perangkat yang tidak dikenal, periksa:
Tinjau kembali:
Perubahan konfigurasi yang tidak diketahui sumbernya perlu diselidiki.
Jika terdapat kemungkinan kredensial telah terekspos, lakukan pengamanan segera.
Langkah yang dapat dilakukan:
Jangan menggunakan password lama yang sama pada layanan lain.
Jika terdapat perangkat yang diduga terkompromi, perangkat tersebut dapat diisolasi dari jaringan sesuai prosedur keamanan organisasi.
Tujuannya adalah membatasi kemungkinan aktivitas mencurigakan berlanjut atau menyebar ke perangkat lain.
Untuk jaringan perusahaan, investigasi sebaiknya dilakukan oleh administrator atau tim keamanan yang memiliki kewenangan.
Packet capture, log firewall, IDS/IPS, dan sistem monitoring dapat digunakan sebagai sumber bukti untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak.
VPN dapat membantu melindungi komunikasi antara perangkat dan endpoint VPN, tetapi tidak menghilangkan seluruh risiko keamanan.
Sebagai contoh, jika perangkat sudah terinfeksi malware, VPN tidak otomatis membuat aktivitas malware menjadi aman.
Begitu pula jika pengguna memasukkan password pada situs phishing, VPN tidak dapat menentukan bahwa situs tersebut merupakan situs palsu.
Karena itu, keamanan sebaiknya menggunakan pendekatan berlapis:
Enkripsi + Keamanan Wi-Fi + Firewall + Segmentasi + Monitoring + Keamanan Endpoint + MFA
Penerapan beberapa lapisan keamanan yang dikonfigurasi dengan benar dapat mengurangi ketergantungan pada satu kontrol dan membantu membatasi dampak ketika salah satu kontrol gagal.
Tidak sepenuhnya.
Enkripsi membuat isi komunikasi jauh lebih sulit dibaca oleh pihak yang hanya menangkap paket. TLS memberikan perlindungan terhadap kerahasiaan komunikasi selama digunakan dan dikonfigurasi dengan benar.
Namun, lalu lintas jaringan tetap dapat memberikan informasi tertentu mengenai karakteristik komunikasi.
Selain itu, pihak yang melakukan monitoring jaringan masih dapat melihat informasi jaringan yang memang diperlukan agar paket dapat dikirim serta karakteristik trafik tertentu yang tidak dilindungi pada tingkat yang sama.
Dengan demikian, tujuan utama perlindungan bukan membuat jaringan “tidak terlihat”, tetapi mencegah pihak yang tidak berwenang memperoleh informasi sensitif dari komunikasi tersebut.
Sniffing juga dapat menjadi bagian dari penetration testing atau pengujian keamanan jaringan yang dilakukan secara legal.
Dalam pengujian yang sah, organisasi dapat meminta security tester untuk:
Pengujian sebaiknya dilakukan berdasarkan otorisasi yang jelas, dengan target, ruang lingkup, waktu, batasan aktivitas, dan prosedur penanganan data yang telah ditentukan.
Dengan demikian, teknik yang sama dapat memiliki tujuan yang berbeda tergantung pada konteks dan kewenangan penggunaannya.
Sebagai rangkuman, berikut beberapa kontrol yang dapat diterapkan:
| Praktik | Tujuan |
|---|---|
| HTTPS/TLS | Melindungi isi komunikasi selama transmisi |
| VPN | Memberikan perlindungan tambahan pada jalur komunikasi tertentu |
| WPA2/WPA3 | Mengamankan jaringan Wi-Fi sesuai konfigurasi dan kompatibilitas |
| Password kuat | Mengurangi risiko akses tidak sah |
| Segmentasi jaringan | Membatasi akses dan pergerakan antarsegmen |
| Firewall | Mengontrol komunikasi jaringan |
| IDS/IPS | Membantu mendeteksi atau menangani aktivitas mencurigakan |
| Monitoring | Membantu menemukan anomali jaringan |
| Patch rutin | Mengurangi risiko eksploitasi kerentanan |
| MFA | Menambah lapisan perlindungan autentikasi |
| Inventaris perangkat | Mengetahui perangkat yang seharusnya berada di jaringan |
Tidak semua kontrol tersebut secara langsung mencegah packet capture. Namun, secara keseluruhan kontrol tersebut dapat membantu mengurangi kemungkinan sniffing menghasilkan informasi yang dapat disalahgunakan dan membatasi dampak jika terjadi kompromi.
Sniffing merupakan teknik yang dapat digunakan secara sah untuk menganalisis jaringan, tetapi juga dapat disalahgunakan untuk mengamati komunikasi tanpa izin.
Cara mengurangi risikonya adalah menerapkan keamanan berlapis.
Penggunaan HTTPS/TLS membantu melindungi isi komunikasi, sedangkan VPN dapat memberikan perlindungan tambahan pada jalur komunikasi tertentu. Untuk jaringan Wi-Fi, administrator perlu menerapkan mekanisme keamanan modern, password yang kuat, pembaruan firmware, segmentasi, dan monitoring.
Pengguna juga perlu berhati-hati ketika menggunakan Wi-Fi publik. Pastikan koneksi menggunakan HTTPS, hindari memasukkan informasi sensitif pada perangkat yang tidak dipercaya, matikan koneksi otomatis jika tidak diperlukan, dan pertimbangkan menggunakan koneksi seluler atau VPN ketika diperlukan. CISA merekomendasikan penggunaan komunikasi terenkripsi ketika menggunakan jaringan nirkabel publik.
Jika terdapat indikasi sniffing, jangan langsung menyimpulkan bahwa penyadapan telah terjadi. Lakukan pemeriksaan perangkat, trafik, konfigurasi, log, dan kredensial secara sistematis. Pada lingkungan organisasi, proses tersebut sebaiknya ditangani oleh administrator atau tim keamanan yang memiliki kewenangan.
Pada akhirnya, sniffing tidak dapat dipandang hanya sebagai masalah tools packet capture. Keamanan jaringan yang baik membutuhkan kombinasi enkripsi, autentikasi, segmentasi, firewall, monitoring, keamanan endpoint, dan kesadaran pengguna.
Dengan menerapkan pendekatan tersebut, dampak dari pengamatan trafik oleh pihak yang tidak berwenang dapat diminimalkan secara signifikan.
Ingin mempelajari lebih banyak seputar web development, cloud computing, keamanan siber, server, hingga berbagai tren teknologi terbaru? Kunjungi blog Hosteko untuk mendapatkan artikel yang informatif, mudah dipahami, dan selalu diperbarui mengikuti perkembangan dunia digital.
Jangan lewatkan berbagai panduan, tips, serta tutorial yang dapat membantu Anda mengembangkan website, meningkatkan performa bisnis online, dan memperluas wawasan di bidang teknologi. Temukan artikel menarik lainnya hanya di Hosteko Blog dan terus ikuti informasi terbaru untuk mendukung perjalanan digital Anda.
Mengenal Search Generative Experience (SGE) Search Generative Experience (SGE) adalah eksperimen Google yang mengintegrasikan teknologi…
Pada Bagian sebelumnya, kita telah membahas pengertian sniffing, cara kerja packet sniffer, passive dan active…
Dalam komunikasi jaringan, data yang dikirim antarperangkat diproses melalui berbagai unit data jaringan, termasuk paket.…
Pada dua bagian sebelumnya, kita telah membahas pengertian SSID, fungsi, cara melihat, hingga cara mengubah…
Apa Itu Data Fabric? Pengertian, Fungsi, Cara Kerja, dan Manfaatnya Di era digital, organisasi semakin…
Apa Itu Istio dalam Cloud Computing? Pengertian, Fungsi, Cara Kerja, dan Manfaatnya Dalam perkembangan cloud…