(0275) 2974 127
Dalam strategi pemasaran dan penjualan, tidak semua orang yang menunjukkan ketertarikan terhadap produk atau layanan memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan pembelian. Ada calon pelanggan yang baru mengenal brand, ada yang sedang mencari informasi, dan ada pula yang sudah menunjukkan minat kuat untuk berbicara dengan tim penjualan.
Calon pelanggan yang sudah dianggap memiliki potensi cukup tinggi untuk ditindaklanjuti oleh tim sales dikenal sebagai Sales Qualified Lead (SQL).
Sales Qualified Lead merupakan bagian penting dalam proses lead qualification karena membantu tim sales memusatkan perhatian pada prospek yang memiliki kemungkinan lebih besar untuk menjadi pelanggan. Dengan proses kualifikasi yang tepat, perusahaan dapat mengurangi waktu yang terbuang untuk mengejar prospek yang belum siap membeli.
Sales Qualified Lead (SQL) adalah calon pelanggan yang telah memenuhi kriteria tertentu dan dinilai cukup siap untuk ditindaklanjuti oleh tim sales dalam proses penjualan. SQL biasanya berasal dari lead yang sebelumnya telah melalui proses pemasaran dan menunjukkan karakteristik atau perilaku yang mengindikasikan adanya potensi pembelian.
Penentuan SQL tidak hanya didasarkan pada satu tindakan. Tim sales dan marketing biasanya mempertimbangkan kombinasi antara profil calon pelanggan, kebutuhan, tingkat ketertarikan, perilaku, kemampuan membeli, serta posisi calon pelanggan dalam buying journey.
Sebagai contoh, seseorang yang hanya membaca satu artikel blog belum tentu dapat disebut SQL. Sebaliknya, calon pelanggan yang telah mengunjungi halaman harga beberapa kali, mengisi formulir konsultasi, meminta demo, dan sesuai dengan target pasar perusahaan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk dikategorikan sebagai SQL. Dengan demikian, SQL dapat menjadi salah satu indikator bahwa seorang lead sudah bergerak lebih dekat ke tahap pembelian.
SQL penting karena membantu perusahaan menentukan lead mana yang layak mendapatkan perhatian lebih besar dari tim sales. Tanpa proses kualifikasi yang jelas, tim sales dapat menghabiskan banyak waktu untuk menghubungi prospek yang sebenarnya belum memiliki kebutuhan atau belum siap membeli. Kondisi tersebut dapat menurunkan produktivitas dan membuat proses penjualan menjadi kurang efisien. Dengan mengidentifikasi SQL, perusahaan dapat:
Namun, jumlah SQL yang tinggi tidak otomatis berarti penjualan akan meningkat. Kualitas proses kualifikasi tetap menjadi faktor penting.
Perjalanan lead menuju SQL biasanya tidak terjadi dalam satu langkah. Lead dapat melewati beberapa tahap sebelum akhirnya dianggap cukup memenuhi kriteria sales. Gambaran sederhananya:
Visitor → Lead → Marketing Qualified Lead (MQL) → Sales Qualified Lead (SQL) → Opportunity → Customer
Tahapan tersebut dapat berbeda pada setiap perusahaan karena setiap bisnis memiliki proses penjualan dan kriteria kualifikasi yang berbeda. Sebagai contoh, perusahaan SaaS mungkin menganggap seseorang sebagai SQL setelah melakukan request demo. Sementara itu, perusahaan jasa konsultasi mungkin baru menganggap lead sebagai SQL setelah melakukan konsultasi awal dan memenuhi kriteria kebutuhan serta anggaran.
Istilah lead, MQL, dan SQL sering digunakan secara berurutan dalam strategi pemasaran dan sales. Namun, ketiganya memiliki tingkat kesiapan yang berbeda.
| Jenis Lead | Pengertian | Tingkat Kesiapan |
|---|---|---|
| Lead | Orang atau organisasi yang telah menunjukkan ketertarikan atau memberikan informasi kontak | Rendah hingga sedang |
| MQL | Lead yang memenuhi kriteria tertentu dari sisi marketing dan menunjukkan engagement yang cukup | Sedang |
| SQL | Lead yang telah dinilai memenuhi kriteria untuk ditindaklanjuti oleh sales | Tinggi |
| Opportunity | SQL yang telah berkembang menjadi peluang penjualan yang lebih konkret | Sangat tinggi |
| Customer | Prospek yang telah melakukan pembelian | Sudah menjadi pelanggan |
Perlu diperhatikan bahwa definisi MQL dan SQL dapat berbeda antar perusahaan. Karena itu, marketing dan sales sebaiknya menyepakati definisi serta kriteria yang digunakan secara bersama-sama.
Marketing Qualified Lead (MQL) merupakan lead yang dinilai cukup potensial berdasarkan kriteria dan aktivitas yang ditetapkan oleh tim marketing. Sementara itu, Sales Qualified Lead (SQL) adalah lead yang telah memenuhi kriteria untuk mendapatkan tindak lanjut lebih lanjut dari tim sales. Perbedaan utamanya terletak pada tingkat kesiapan untuk masuk ke proses penjualan.
Contohnya, seseorang yang mengunduh ebook dan beberapa kali membaca artikel dapat menjadi MQL. Namun, jika orang tersebut kemudian meminta demo produk dan sesuai dengan target customer perusahaan, lead tersebut dapat dievaluasi untuk menjadi SQL. Dengan kata lain, MQL lebih berfokus pada kesiapan berdasarkan engagement marketing, sedangkan SQL lebih berfokus pada kesiapan untuk ditindaklanjuti dalam proses penjualan.
Selain MQL dan SQL, dalam bisnis berbasis produk digital atau SaaS terdapat istilah Product Qualified Lead (PQL).
PQL adalah pengguna yang dianggap memiliki potensi menjadi pelanggan berdasarkan interaksi atau penggunaan produk. Misalnya, pengguna telah menggunakan fitur tertentu secara intensif selama masa trial dan menunjukkan pola penggunaan yang mengindikasikan kemungkinan upgrade.
| Aspek | MQL | SQL | PQL |
|---|---|---|---|
| Dasar kualifikasi | Aktivitas marketing | Kesiapan untuk sales | Aktivitas penggunaan produk |
| Fokus | Engagement | Potensi pembelian | Product adoption |
| Umum digunakan oleh | Marketing | Sales | Product/Sales |
| Contoh | Mengunduh ebook | Meminta demo | Aktif menggunakan fitur premium |
| Tahap | Sebelum sales | Mendekati proses sales | Berdasarkan pengalaman menggunakan produk |
Ketiga jenis kualifikasi tersebut dapat digunakan secara bersamaan, tergantung model bisnis dan customer journey perusahaan.
Tidak ada satu ciri yang berlaku untuk semua bisnis. Namun, beberapa karakteristik berikut sering digunakan sebagai indikator bahwa sebuah lead memiliki potensi menjadi SQL.
1. Memiliki Kebutuhan yang Relevan
SQL biasanya memiliki masalah atau kebutuhan yang dapat diselesaikan oleh produk atau layanan perusahaan. Misalnya, perusahaan membutuhkan layanan hosting karena website mereka mengalami masalah performa. Kebutuhan tersebut lebih kuat dibandingkan seseorang yang hanya membaca artikel mengenai hosting untuk menambah pengetahuan.
2. Menunjukkan Minat yang Tinggi
Minat dapat terlihat dari berbagai aktivitas, seperti:
Semakin relevan tindakan yang dilakukan dengan proses pembelian, semakin besar kemungkinan lead tersebut memiliki sales intent.
3. Sesuai dengan Target Customer
Lead yang tertarik belum tentu cocok dengan produk. Misalnya, perusahaan menjual software enterprise untuk perusahaan besar. Seorang individu yang hanya mencari aplikasi gratis untuk kebutuhan pribadi mungkin memiliki ketertarikan, tetapi belum tentu sesuai dengan target customer.
4. Memiliki Kemampuan Membeli
Dalam beberapa bisnis, kemampuan atau kesiapan anggaran menjadi salah satu bagian dari proses kualifikasi. Namun, kemampuan membeli tidak selalu harus ditanyakan secara langsung pada tahap awal. Tim sales dapat menggunakan informasi mengenai ukuran perusahaan, kebutuhan, paket yang diminati, atau proses pembelian untuk memahami potensi tersebut.
5. Berada pada Tahap Pembelian yang Lebih Dekat
Lead yang sedang membandingkan vendor, meminta proposal, atau berdiskusi mengenai implementasi biasanya lebih dekat dengan keputusan pembelian dibandingkan lead yang baru mencari informasi umum.
Tim marketing dan sales biasanya menggunakan beberapa faktor sekaligus untuk menentukan apakah sebuah lead dapat dikategorikan sebagai SQL.
1. Lead Fit
Lead fit menggambarkan seberapa sesuai profil calon pelanggan dengan target pasar perusahaan. Beberapa informasi yang dapat dipertimbangkan antara lain:
2. Lead Intent
Intent menggambarkan kemungkinan bahwa seseorang sedang memiliki niat untuk membeli atau mencari solusi. Contoh sinyal intent:
3. Engagement
Engagement menunjukkan bagaimana lead berinteraksi dengan brand. Contohnya:
Namun, engagement tinggi tidak selalu berarti buying intent tinggi. Karena itu, engagement sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya indikator SQL.
4. Buying Readiness
Buying readiness menunjukkan seberapa siap calon pelanggan melakukan pembelian. Lead yang sudah meminta proposal atau menjadwalkan meeting biasanya memiliki buying readiness lebih tinggi daripada lead yang baru mengunduh konten edukasi.
SQL qualification adalah proses mengevaluasi lead untuk menentukan apakah lead tersebut memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dan layak ditindaklanjuti oleh sales. Proses ini dapat dilakukan secara manual maupun menggunakan CRM dan marketing automation. Kriteria qualification sebaiknya dibuat jelas agar marketing dan sales memiliki pemahaman yang sama mengenai definisi lead berkualitas.
Beberapa perusahaan menggunakan framework tertentu untuk membantu sales melakukan qualification.
1. BANT
BANT merupakan framework yang mempertimbangkan:
BANT dapat membantu sales memahami kondisi prospek secara lebih terstruktur. Namun, tidak semua bisnis harus memenuhi seluruh elemen BANT sebelum lead dapat ditindaklanjuti.
2. CHAMP
CHAMP berfokus pada:
Pendekatan ini menempatkan masalah atau tantangan calon pelanggan sebagai salah satu fokus utama.
3. MEDDIC
MEDDIC merupakan framework qualification yang lebih kompleks dan umumnya digunakan pada proses penjualan B2B yang memiliki nilai transaksi tinggi. Elemen yang diperhatikan antara lain:
Framework tersebut membantu sales memahami proses pengambilan keputusan secara lebih mendalam.
Misalnya sebuah perusahaan menyediakan software akuntansi untuk bisnis kecil dan menengah. Ada dua pengunjung.
Pengunjung A membaca satu artikel tentang cara membuat laporan keuangan dan Pengunjung B mengunjungi halaman harga, membaca halaman fitur, mengisi formulir demo, dan menyebutkan bahwa perusahaannya sedang mencari software akuntansi.
Pengunjung A kemungkinan masih berada pada tahap awal customer journey. Sementara itu, Pengunjung B memiliki beberapa sinyal yang menunjukkan kebutuhan dan buying intent lebih tinggi sehingga dapat dievaluasi sebagai SQL.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa jumlah interaksi saja tidak cukup untuk menentukan kualitas lead. Konteks interaksi dan kesesuaiannya dengan target customer juga perlu diperhatikan.
Perusahaan dapat menggunakan sistem lead scoring untuk membantu menentukan prioritas lead. Misalnya:
| Aktivitas | Contoh Nilai |
|---|---|
| Mengunjungi halaman blog | +1 |
| Mengunduh ebook | +5 |
| Mengunjungi halaman harga | +10 |
| Mengisi formulir demo | +20 |
| Meminta proposal | +25 |
| Menghubungi sales | +30 |
Angka tersebut hanya contoh dan tidak dapat dianggap sebagai standar universal. Perusahaan perlu menentukan scoring berdasarkan data aktual dan customer journey mereka. Lead scoring juga dapat dikombinasikan dengan fit scoring.
Misalnya: Lead Score = Engagement Score + Fit Score
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan tidak hanya melihat seberapa aktif seseorang berinteraksi, tetapi juga apakah orang tersebut sesuai dengan target customer.
SQL biasanya berada di tahap yang lebih dekat dengan keputusan pembelian.
Gambaran sederhananya: Awareness → Interest → Consideration → Intent → Evaluation → Purchase
Tidak semua bisnis menggunakan tahapan yang sama, tetapi konsep dasarnya adalah lead bergerak dari mengenal solusi menuju evaluasi dan keputusan. SQL biasanya muncul ketika terdapat kombinasi antara interest, fit, dan buying intent yang cukup kuat.
Tim marketing memiliki peran penting dalam menghasilkan lead yang memiliki potensi untuk menjadi SQL. Beberapa strategi yang dapat digunakan antara lain:
Content Marketing
Konten edukatif dapat menarik calon pelanggan yang memiliki masalah tertentu. Contohnya:
Konten sebaiknya disesuaikan dengan tahapan customer journey.
Landing Page
Landing page dapat digunakan untuk mengarahkan pengunjung melakukan tindakan tertentu, seperti:
Email Marketing
Email marketing dapat digunakan untuk melakukan nurturing terhadap lead sebelum diteruskan kepada sales. Konten email dapat disesuaikan berdasarkan aktivitas dan kebutuhan lead.
Marketing Automation
Marketing automation dapat membantu mencatat dan mengelompokkan perilaku lead secara otomatis. Misalnya, sistem dapat memberikan notifikasi kepada sales ketika lead dengan profil tertentu melakukan request demo.
Setelah lead diteruskan kepada sales, proses belum selesai. Sales perlu melakukan validasi lebih lanjut untuk memastikan bahwa informasi mengenai lead benar dan kebutuhan calon pelanggan memang relevan. Sales dapat menggali:
Hasil percakapan tersebut kemudian dapat digunakan untuk menentukan apakah SQL benar-benar layak dikembangkan menjadi opportunity.
Salah satu tantangan yang sering muncul adalah perbedaan definisi lead berkualitas antara marketing dan sales.
Marketing dapat menganggap sebuah lead sebagai SQL karena memenuhi skor tertentu. Namun, sales mungkin menganggap lead tersebut belum siap karena tidak memiliki kebutuhan atau kewenangan untuk membeli. Untuk menghindari masalah tersebut, marketing dan sales perlu menyepakati:
Dengan adanya kesepakatan tersebut, proses lead management dapat berjalan lebih konsisten.
SQL biasanya diteruskan ke proses sales yang lebih intensif. Tahap berikutnya dapat berupa:
SQL → Sales Contact → Discovery → Opportunity → Proposal → Negotiation → Closed Won/Lost
Namun, tidak semua SQL akan menjadi customer. Sebagian dapat:
Karena itu, SQL sebaiknya dipandang sebagai lead yang memiliki potensi dan layak ditindaklanjuti, bukan sebagai jaminan bahwa transaksi akan terjadi.
Jumlah SQL saja tidak cukup untuk mengukur keberhasilan strategi lead generation. Beberapa metrik yang dapat digunakan antara lain:
Mengukur persentase MQL yang berubah menjadi SQL.
SQL Conversion Rate = (Jumlah SQL ÷ Jumlah MQL) × 100%
Mengukur berapa banyak SQL yang berkembang menjadi opportunity.
SQL to Opportunity Rate = (Jumlah Opportunity ÷ Jumlah SQL) × 100%
Mengukur persentase SQL yang akhirnya menjadi pelanggan.
SQL to Customer Conversion Rate = (Jumlah Customer dari SQL ÷ Jumlah SQL) × 100%
Mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan dari SQL hingga transaksi.
Mengukur potensi atau pendapatan yang dihasilkan dari SQL. Metrik-metrik tersebut membantu perusahaan melihat bukan hanya kuantitas lead, tetapi juga kualitas dan dampaknya terhadap revenue.
Beberapa masalah dapat muncul ketika perusahaan belum memiliki sistem qualification yang baik.
1. Terlalu Banyak Lead Berkualitas Rendah
Jika marketing hanya mengejar jumlah lead, sales dapat menerima banyak lead yang sebenarnya belum siap membeli.
2. Definisi SQL Tidak Konsisten
Marketing dan sales dapat memiliki interpretasi yang berbeda mengenai SQL.
3. Lead Scoring Tidak Akurat
Skor yang tidak berdasarkan data dapat menghasilkan prioritas lead yang keliru.
4. Follow-Up Terlambat
Lead dengan buying intent tinggi dapat kehilangan momentum jika terlalu lama menunggu respons sales.
5. Tidak Ada Feedback dari Sales
Tanpa feedback, marketing sulit mengetahui karakteristik lead yang benar-benar menghasilkan transaksi.
Untuk meningkatkan kualitas SQL, perusahaan dapat melakukan beberapa langkah berikut.
1. Tetapkan ICP yang Jelas
Ideal Customer Profile (ICP) membantu perusahaan memahami karakteristik perusahaan atau pelanggan yang paling sesuai dengan produk atau layanan. Semakin jelas ICP, semakin mudah marketing menyaring lead yang sesuai.
2. Buat Definisi SQL Bersama
Marketing dan sales harus memiliki definisi SQL yang sama.
3. Gunakan Data Historis
Analisis lead yang sebelumnya berhasil menjadi pelanggan untuk menemukan pola. Cari tahu:
4. Evaluasi Lead Scoring
Lead scoring sebaiknya dievaluasi secara berkala berdasarkan hasil nyata, bukan dibiarkan menggunakan aturan lama selamanya.
5. Percepat Handoff
Lead yang memenuhi kriteria SQL sebaiknya dapat diteruskan kepada sales melalui proses yang jelas.
6. Gunakan CRM
CRM dapat membantu mencatat:
Penerapan SQL dapat berbeda antara bisnis B2B dan B2C.
| Aspek | B2B | B2C |
|---|---|---|
| Proses pembelian | Cenderung lebih kompleks | Cenderung lebih sederhana |
| Pengambil keputusan | Bisa melibatkan beberapa orang | Sering kali individu atau rumah tangga |
| Sales cycle | Dapat lebih panjang | Umumnya lebih singkat |
| Qualification | Lebih mendalam | Dapat lebih sederhana |
| Contoh sinyal | Request demo, proposal, meeting | Add to cart, inquiry, konsultasi |
Pada B2B, proses SQL biasanya lebih formal karena nilai transaksi dan proses pengambilan keputusan dapat lebih kompleks. Pada B2C, perusahaan dapat menggunakan sinyal perilaku dan transaksi yang lebih sederhana untuk menentukan prospek yang memiliki potensi tinggi.
Salah satu kesalahpahaman mengenai SQL adalah menganggap lead dengan skor paling tinggi otomatis merupakan SQL. Padahal, lead scoring hanyalah salah satu alat bantu.
Contohnya, seseorang dapat memiliki skor tinggi karena sering membuka email dan mengunjungi website. Namun, jika orang tersebut tidak memiliki kebutuhan terhadap produk, lead tersebut belum tentu layak menjadi SQL.
Karena itu, SQL sebaiknya ditentukan berdasarkan kombinasi data kuantitatif dan penilaian kualitatif. Data kuantitatif dapat berupa aktivitas website dan lead score, sedangkan data kualitatif dapat berasal dari percakapan sales mengenai kebutuhan, timeline, dan kondisi calon pelanggan.
Sales Qualified Lead (SQL) adalah calon pelanggan yang telah memenuhi kriteria tertentu dan dinilai cukup siap untuk ditindaklanjuti oleh tim sales. SQL membantu perusahaan memprioritaskan prospek yang memiliki peluang lebih besar untuk berkembang menjadi pelanggan, meskipun tetap membutuhkan proses penjualan lebih lanjut.
Agar hasilnya optimal, perusahaan perlu memiliki kriteria SQL yang jelas, menerapkan lead scoring yang tepat, serta menjaga koordinasi antara tim marketing dan sales. Dengan begitu, kualitas pipeline dapat meningkat dan proses penjualan menjadi lebih terukur.
Untuk mendapatkan informasi seputar digital marketing, teknologi, website, dan hosting, Anda juga dapat membaca berbagai artikel informatif di Blog Hosteko. Jika membutuhkan layanan hosting untuk mendukung website dan bisnis online, Hosteko Hosting Indonesia dapat menjadi salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan.
Aktivasi Windows adalah proses teknis yang menghubungkan lisensi Windows, baik berupa kunci produk (product key)…
Akhir 2021, dunia IT dikejutkan oleh satu celah keamanan kecil bernama Log4Shell yang bersembunyi di…
Sudah membuat artikel berkualitas, tetapi halaman tersebut tidak muncul di Google? Kondisi ini cukup sering…
Setelah membahas fitur-fitur Accurate, bagian berikutnya adalah memahami Accurate Online sebagai solusi bisnis berbasis cloud.…
Website diretas merupakan salah satu masalah serius yang dapat mengganggu operasional, merusak reputasi, hingga menyebabkan…
Dalam jaringan komputer, sebuah server yang berada di dalam jaringan lokal biasanya dapat diakses menggunakan…