(0275) 2974 127
Pernah mengunggah Instagram Stories, lalu beberapa saat kemudian membukanya lagi? Bahkan, bukan hanya sekali, tetapi berulang kali untuk melihat foto atau video yang baru saja diposting?
Kebiasaan tersebut tidak otomatis memiliki arti psikologis tertentu. Seseorang bisa saja membuka kembali Stories untuk memastikan unggahan terlihat sesuai harapan, memeriksa tampilan konten, melihat respons yang muncul, atau sekadar karena penasaran. Namun, penelitian tentang media sosial menunjukkan bahwa perilaku pengguna di Instagram dapat berkaitan dengan proses psikologis seperti self-presentation, perhatian terhadap diri sendiri, dan respons terhadap feedback sosial.
Penting untuk membedakan antara temuan penelitian dan dugaan mengenai alasan seseorang menonton Stories miliknya sendiri. Sampai saat ini, bukti yang tersedia lebih banyak membahas self-presentation dan pengalaman menggunakan Instagram secara umum, bukan secara khusus membuktikan bahwa menonton Stories sendiri berulang kali merupakan tanda dari kondisi psikologis tertentu.
Sebuah systematic review yang mencakup 93 artikel mengenai penggunaan Instagram dan indikator kesehatan mental menemukan bahwa sejumlah faktor psikologis, termasuk social comparison, self-esteem, self-presentation, body image, dan aspek lainnya, telah diteliti dalam kaitannya dengan penggunaan Instagram. Namun, peneliti juga menekankan bahwa bukti untuk sejumlah hubungan tersebut masih beragam atau terbatas.
Ketika seseorang membuat Instagram Stories, ia tidak hanya memilih apa yang ingin dibagikan, tetapi juga menentukan bagaimana dirinya ingin terlihat oleh audiens. Misalnya, pengguna dapat memilih foto tertentu, mengedit video, menggunakan filter, menambahkan musik, atau menulis teks sebelum mengunggahnya.
Dalam penelitian komunikasi dan psikologi media sosial, self-presentation merujuk pada upaya seseorang untuk membentuk kesan tertentu tentang dirinya di hadapan orang lain. Pengguna media sosial dapat memilih aspek tertentu dari dirinya untuk ditampilkan sekaligus mengurangi aspek lain yang tidak ingin ditonjolkan.
Karena itu, membuka kembali Stories sendiri dapat saja menjadi bagian dari proses pengecekan terhadap unggahan. Seseorang mungkin ingin memastikan apakah ekspresinya terlihat sesuai keinginan, apakah teks sudah benar, atau apakah video yang diunggah tampak seperti yang dibayangkan sebelumnya.
Namun, hubungan tersebut belum boleh dianggap sebagai bukti bahwa setiap orang yang menonton Stories sendiri berulang kali sedang melakukan evaluasi diri. Penelitian yang tersedia lebih banyak membahas proses self-presentation di media sosial secara umum, bukan perilaku spesifik menonton Stories sendiri berkali-kali.
Hal ini juga berbeda dengan menyimpulkan bahwa orang tersebut terlalu memikirkan dirinya sendiri. Menonton Stories sendiri beberapa kali belum cukup untuk menunjukkan adanya masalah psikologis tertentu. Konteks, frekuensi, alasan, serta dampak perilaku tersebut tetap perlu diperhatikan.
Alasan seseorang membuka kembali Stories juga dapat berbeda-beda. Ada yang hanya ingin memastikan unggahan sudah sesuai, sementara orang lain mungkin lebih memperhatikan bagaimana konten tersebut diterima oleh audiens.
Penelitian mengenai Instagram menunjukkan bahwa feedback sosial merupakan salah satu aspek yang dapat berkaitan dengan pengalaman pengguna dan proses self-presentation. Karakteristik media sosial seperti keberadaan banyak audiens dan feedback dari orang lain dapat memberikan konteks bagi seseorang dalam mengelola bagaimana dirinya ditampilkan secara online.
Salah satu penelitian terhadap pengguna Instagram berusia 18–30 tahun juga meneliti hubungan antara self-presentation dan respons emosional terhadap feedback Instagram. Penelitian tersebut menggunakan skenario feedback positif dan negatif yang dibayangkan, bukan pengamatan langsung terhadap perilaku pengguna ketika menerima feedback pada Stories mereka. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan antara karakteristik self-presentation tertentu dan respons emosional terhadap skenario feedback.
Temuan tersebut membantu menjelaskan mengapa feedback sosial dapat menjadi bagian dari pengalaman psikologis di Instagram. Namun, hasilnya tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa seseorang yang berulang kali melihat Stories sendiri pasti sedang mencari validasi sosial.
Dengan demikian, ketika seseorang membuka Stories sendiri berulang kali, salah satu kemungkinan adalah ia sedang melakukan pengecekan terhadap unggahannya. Kemungkinan lainnya adalah ia memperhatikan respons sosial yang muncul setelah Stories tersebut dipublikasikan. Alasan sebenarnya tetap bergantung pada konteks dan motivasi masing-masing pengguna.
Berbeda dengan percakapan tatap muka yang berlangsung secara langsung, media sosial memiliki karakteristik seperti komunikasi yang dapat berlangsung tidak bersamaan, konten yang dapat tetap tersedia, audiens yang beragam, serta feedback dari pengguna lain. Karakteristik tersebut memberikan lebih banyak kesempatan untuk mengatur bagaimana seseorang menampilkan dirinya secara online.
Tinjauan sistematis mengenai online self-presentation juga menunjukkan bahwa dampaknya terhadap kesejahteraan psikologis tidak selalu sama. Review tersebut mencakup 55 studi dari 52 publikasi dan menemukan bahwa self-presentation maupun perilaku pasif di media sosial dapat berkaitan dengan hasil yang berbeda-beda, tergantung jenis perilaku, konteks sosial, dan faktor lainnya.
Karena itu, kebiasaan menonton ulang Instagram Stories dapat dipahami sebagai salah satu bentuk interaksi pengguna dengan konten yang dibuatnya sendiri. Dalam kadar tertentu, perilaku tersebut dapat bersifat biasa saja, misalnya ketika seseorang ingin memeriksa kembali foto atau video sebelum merasa yakin bahwa unggahannya sudah sesuai.
Yang perlu diperhatikan bukan semata-mata berapa kali Stories ditonton ulang, melainkan alasan dan dampaknya. Jika seseorang hanya sesekali mengecek unggahan, perilaku tersebut tidak cukup untuk menunjukkan adanya persoalan psikologis. Sebaliknya, jika kebiasaan tersebut berkaitan dengan kecemasan yang kuat terhadap penilaian orang lain atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, perilakunya perlu dipahami dalam konteks yang lebih luas daripada sekadar frekuensi menonton Stories.
Jadi, menonton IG Stories sendiri berulang-ulang tidak otomatis berarti seseorang narsistik, haus perhatian, atau memiliki gangguan psikologis. Perilaku tersebut dapat memiliki alasan sederhana, seperti ingin memastikan unggahan terlihat baik, merasa penasaran, memperhatikan bagaimana dirinya ditampilkan, atau melihat bagaimana audiens merespons konten.
Yang terpenting, jangan menarik kesimpulan psikologis hanya dari satu perilaku di media sosial. Penelitian yang ada memang menunjukkan bahwa self-presentation dan feedback sosial merupakan aspek penting dalam pengalaman menggunakan Instagram, tetapi bukti tersebut belum cukup untuk menjadikan kebiasaan menonton Stories sendiri berulang kali sebagai indikator psikologis tertentu.
Ingin mempelajari lebih banyak seputar web development, cloud computing, keamanan siber, server, hingga berbagai tren teknologi terbaru? Kunjungi blog Hosteko untuk mendapatkan artikel yang informatif, mudah dipahami, dan selalu diperbarui mengikuti perkembangan dunia digital.
Jangan lewatkan berbagai panduan, tips, serta tutorial yang dapat membantu Anda mengembangkan website, meningkatkan performa bisnis online, dan memperluas wawasan di bidang teknologi. Temukan artikel menarik lainnya hanya di Hosteko Blog dan terus ikuti informasi terbaru untuk mendukung perjalanan digital Anda.
Gangguan operasional dapat terjadi kapan saja. Server mengalami kerusakan, jaringan internet terputus, bencana alam mengganggu…
Dalam jaringan komputer, router membutuhkan informasi routing untuk menentukan ke mana paket data harus diteruskan.…
Dalam lingkungan bisnis modern, data biasanya berasal dari banyak sistem yang berbeda. Perusahaan dapat memiliki…
Setelah mengetahui bahwa TeraBox merupakan layanan penyimpanan berbasis cloud, hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah…
Memindahkan website WordPress ke hosting baru sering dianggap sebagai pekerjaan yang berisiko. Kesalahan saat memindahkan…
Kebutuhan menyimpan foto, video, dokumen, dan berbagai file digital terus meningkat seiring penggunaan smartphone dan…