(0275) 2974 127
Di era bisnis yang semakin bergantung pada data, kemampuan perusahaan dalam mengakses dan menggunakan data menjadi salah satu faktor penting dalam pengambilan keputusan. Namun, memiliki banyak data saja belum tentu cukup. Jika data hanya dapat diakses oleh tim tertentu, seperti data analyst, data scientist, atau IT, proses pengambilan keputusan dapat menjadi lebih lambat.
Data democratization merupakan pendekatan yang memungkinkan lebih banyak orang dalam organisasi mengakses dan menggunakan data yang mereka perlukan untuk menyelesaikan masalah bisnis dan mengambil keputusan. Tujuannya bukan memberikan akses data secara bebas tanpa batas, melainkan membuat data lebih mudah ditemukan, dipahami, dan digunakan oleh pihak yang memiliki kebutuhan serta hak akses yang sesuai.
Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat mendorong lebih banyak karyawan untuk mengambil keputusan berdasarkan data, bukan hanya mengandalkan intuisi atau asumsi.
Data democratization adalah pendekatan untuk membuat data dapat diakses dan digunakan oleh lebih banyak orang dalam organisasi sesuai dengan kebutuhan dan hak aksesnya.
Konsep ini bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap tim teknis dalam proses pengambilan dan analisis data. Karyawan dari berbagai departemen dapat memanfaatkan data untuk menjawab kebutuhan bisnis mereka melalui tools seperti dashboard, business intelligence, data catalog, atau platform self-service analytics.
Microsoft menjelaskan data democratization sebagai upaya menempatkan data ke tangan lebih banyak pengguna yang bertanggung jawab menyelesaikan masalah bisnis. Namun, demokratisasi data tidak berarti menghilangkan keamanan atau tata kelola. Data tetap perlu dikelola, diamankan, dan diberikan berdasarkan kebutuhan serta peran pengguna.
Dengan demikian, data democratization dapat diringkas menjadi tiga prinsip utama:
Dalam organisasi tradisional, data sering kali tersimpan di berbagai sistem dan hanya dapat diakses oleh tim tertentu. Ketika departemen bisnis membutuhkan laporan atau analisis, mereka harus mengajukan permintaan kepada tim data atau IT. Model tersebut dapat menimbulkan bottleneck, terutama ketika jumlah permintaan semakin banyak.
Misalnya, tim marketing ingin mengetahui performa kampanye terbaru. Mereka harus meminta bantuan data analyst untuk mengambil data, membersihkannya, membuat analisis, lalu menyusun laporan. Jika proses tersebut membutuhkan waktu beberapa hari, keputusan bisnis yang seharusnya dapat dilakukan dengan cepat menjadi tertunda.
Data democratization berusaha mengurangi ketergantungan tersebut dengan menyediakan akses data dan tools analitik yang lebih mudah digunakan. Self-service analytics, misalnya, memungkinkan pengguna bisnis melihat, mengevaluasi, dan menganalisis data tanpa harus memiliki keahlian teknis mendalam di bidang IT atau data science.
Penerapan data democratization bukan sekadar memberikan akses terhadap database. Ada beberapa tujuan utama yang ingin dicapai.
1. Mempercepat Pengambilan Keputusan
Ketika pengguna dapat memperoleh data yang relevan dengan lebih cepat, mereka tidak harus selalu menunggu laporan dari tim data. Hal ini memungkinkan keputusan operasional maupun strategis dilakukan berdasarkan informasi yang lebih aktual.
2. Mengurangi Data Silo
Data silo terjadi ketika data tersimpan secara terpisah di berbagai departemen dan sulit digunakan lintas organisasi. Data democratization mendorong data agar lebih mudah ditemukan dan digunakan oleh pihak yang membutuhkan, sehingga informasi dari berbagai sumber dapat memberikan gambaran bisnis yang lebih menyeluruh.
3. Mendorong Data-Driven Decision Making
Perusahaan dapat membangun budaya di mana keputusan lebih sering didukung oleh data dan bukti. Dengan semakin banyak pengguna yang mampu menggunakan data secara tepat, data tidak hanya menjadi tanggung jawab tim analytics, tetapi menjadi bagian dari aktivitas bisnis sehari-hari.
4. Mengurangi Beban Tim Data
Tidak semua kebutuhan analisis harus dikerjakan oleh data analyst atau data scientist. Pertanyaan sederhana seperti melihat performa penjualan, membandingkan traffic, atau memantau KPI dapat dilakukan sendiri oleh pengguna bisnis melalui dashboard dan tools self-service. Tim data kemudian dapat lebih fokus pada pekerjaan yang membutuhkan analisis lebih kompleks.
5. Meningkatkan Data Literacy
Akses terhadap data perlu diikuti dengan kemampuan untuk memahami dan menginterpretasikannya. Data literacy membantu pengguna memahami bagaimana membaca data, menilai kualitasnya, mengenali konteks, serta menghindari kesalahan interpretasi. Microsoft mendefinisikan data literacy sebagai kemampuan untuk menginterpretasikan, membuat, dan mengomunikasikan data serta analitik secara akurat dan efektif.
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa demokratisasi data berarti semua karyawan harus mendapatkan akses ke seluruh data perusahaan. Hal tersebut tidak tepat. Data democratization tetap membutuhkan data governance, access control, security, privacy, dan compliance. Pengguna hanya mendapatkan data yang memang diperlukan sesuai dengan peran dan kewenangannya.
Contohnya, tim marketing mungkin membutuhkan data performa kampanye dan segmentasi pelanggan, tetapi tidak berarti mereka harus dapat mengakses seluruh informasi sensitif yang tersimpan dalam sistem perusahaan. Microsoft juga menekankan bahwa data democratization tidak berarti mengabaikan keamanan atau aturan berbasis peran. Data tetap harus dikelola dan diamankan dengan baik.
Ketiga istilah ini sering digunakan bersamaan, tetapi memiliki fokus yang berbeda.
| Konsep | Fokus Utama | Tujuan |
|---|---|---|
| Data Democratization | Akses dan penggunaan data | Membuat lebih banyak pengguna dapat memanfaatkan data |
| Data Governance | Aturan dan pengelolaan data | Menjaga keamanan, kualitas, konsistensi, dan kepatuhan data |
| Data Literacy | Kemampuan memahami data | Membantu pengguna membaca dan menggunakan data dengan benar |
| Self-Service Analytics | Analisis mandiri | Memungkinkan pengguna menganalisis data tanpa selalu bergantung pada tim teknis |
Keempatnya saling berkaitan. Demokratisasi data membutuhkan akses yang terkontrol, tata kelola yang baik, kemampuan pengguna, serta tools yang mendukung analisis mandiri.
Data democratization juga berbeda dengan data transparency. Data transparency lebih berkaitan dengan keterbukaan dan kemudahan mengetahui informasi mengenai data, termasuk bagaimana data tersedia dan dapat diakses.
Sementara itu, data democratization memiliki cakupan lebih luas karena berusaha membuat proses penggunaan data lebih mudah bagi pengguna yang membutuhkan. IBM menjelaskan bahwa demokratisasi data juga berkaitan dengan penyederhanaan proses pengelolaan data, keamanan, arsitektur, serta governance agar data dapat digunakan secara lebih luas.
Secara sederhana:
Data transparency = data lebih terbuka dan terlihat.
Data democratization = lebih banyak pengguna yang dapat menggunakan data secara tepat.
Data democratization biasanya melibatkan beberapa lapisan yang saling mendukung.
1. Data Dikumpulkan dari Berbagai Sumber
Organisasi biasanya memiliki data dari berbagai sumber, seperti:
Data tersebut perlu dikumpulkan dan diintegrasikan agar dapat digunakan secara konsisten.
2. Data Disimpan dan Dikelola
Data kemudian disimpan dalam infrastruktur seperti data warehouse, data lake, atau data lakehouse. Pada tahap ini, organisasi perlu memperhatikan kualitas data, struktur, metadata, keamanan, dan governance.
3. Data Dikatalogkan
Data catalog membantu pengguna mengetahui data apa saja yang tersedia, berasal dari mana, siapa pemiliknya, dan untuk kebutuhan apa data tersebut dapat digunakan. Dengan adanya data discovery yang baik, pengguna tidak perlu menebak-nebak lokasi data atau meminta bantuan secara manual setiap kali membutuhkan informasi.
4. Data Disediakan melalui Tools yang Mudah Digunakan
Data dapat disediakan melalui dashboard, BI platform, reporting tools, semantic model, atau platform self-service analytics. Pengguna bisnis kemudian dapat melakukan analisis tanpa harus selalu menulis query atau meminta bantuan teknis.
5. Pengguna Mengambil Insight
Tahap terakhir adalah menggunakan data untuk menjawab pertanyaan bisnis. Contohnya:
Insight tersebut kemudian dapat digunakan untuk mengambil keputusan.
Agar demokratisasi data berjalan dengan baik, perusahaan membutuhkan beberapa komponen.
Data governance menjadi fondasi untuk memastikan akses data tetap terkontrol. Aturan governance dapat mencakup siapa yang dapat mengakses data, bagaimana data digunakan, bagaimana kualitasnya dipantau, dan bagaimana data sensitif dilindungi.
Data catalog membantu pengguna menemukan data yang tersedia. Metadata seperti nama dataset, pemilik data, deskripsi, sumber, dan informasi lainnya dapat membantu pengguna memahami apakah suatu dataset sesuai dengan kebutuhannya.
Self-service analytics memungkinkan pengguna bisnis melakukan analisis secara mandiri. Tools seperti dashboard dan visualisasi data dapat membantu pengguna melihat pola dan tren tanpa harus mengandalkan proses manual dari tim data untuk setiap kebutuhan sederhana.
Data yang mudah diakses tetapi tidak akurat tetap dapat menghasilkan keputusan yang buruk. Karena itu, perusahaan perlu memastikan data memiliki kualitas yang memadai, termasuk akurasi, konsistensi, kelengkapan, dan relevansi.
Pengguna harus memahami cara menggunakan data. Tanpa data literacy, dashboard yang bagus sekalipun dapat menghasilkan kesimpulan yang salah apabila pengguna tidak memahami konteks, definisi metrik, atau keterbatasan data.
Akses harus diberikan berdasarkan kebutuhan dan peran pengguna. Pendekatan ini membantu perusahaan memperoleh manfaat dari demokratisasi data tanpa mengorbankan keamanan dan privasi.
Jika diterapkan dengan tepat, data democratization dapat memberikan sejumlah manfaat.
1. Pengambilan Keputusan Lebih Cepat
Pengguna dapat memperoleh insight tanpa harus selalu menunggu tim data.
2. Produktivitas Meningkat
Tim data dapat mengurangi pekerjaan repetitif berupa pembuatan laporan sederhana dan berfokus pada analisis yang memiliki nilai lebih tinggi.
3. Kolaborasi Antar Departemen Lebih Baik
Marketing, sales, finance, operation, dan departemen lain dapat menggunakan data dengan sumber dan definisi yang lebih konsisten.
4. Meningkatkan Respons terhadap Perubahan
Ketika pengguna dapat menganalisis data dengan lebih cepat, perusahaan dapat merespons perubahan pasar atau perilaku pelanggan secara lebih tanggap.
5. Membentuk Budaya Data
Data tidak lagi hanya dianggap sebagai tanggung jawab departemen IT atau data. Lebih banyak bagian organisasi dapat menjadikan data sebagai bagian dari proses kerja sehari-hari.
Bayangkan sebuah perusahaan e-commerce memiliki data transaksi dalam jumlah besar. Sebelum menerapkan data democratization, tim marketing harus meminta data analyst untuk membuat laporan setiap kali ingin mengetahui performa kampanye.
Setelah menerapkannya, perusahaan menyediakan dashboard yang telah terhubung dengan sumber data yang dikelola dan diatur dengan baik. Tim marketing kemudian dapat melihat:
Marketing tidak perlu meminta laporan baru untuk setiap pertanyaan sederhana. Sementara itu, data analyst dapat berfokus pada pekerjaan yang lebih kompleks seperti customer segmentation, predictive analytics, forecasting, atau pengembangan model machine learning. Inilah salah satu bentuk penerapan data democratization dalam lingkungan bisnis.
Data democratization tidak hanya berguna untuk marketing.
| Departemen | Contoh Penggunaan Data |
|---|---|
| Marketing | Menganalisis performa campaign dan customer segment |
| Sales | Memantau pipeline, conversion rate, dan performa sales |
| Finance | Menganalisis revenue, biaya, dan cash flow |
| HR | Menganalisis turnover dan kebutuhan tenaga kerja |
| Operations | Memantau produktivitas dan efisiensi operasional |
| Customer Service | Menganalisis jumlah dan jenis keluhan pelanggan |
| Management | Memantau KPI dan performa bisnis |
Dengan demikian, data democratization dapat diterapkan hampir di seluruh bagian organisasi selama akses dan penggunaannya dikelola dengan tepat.
Meskipun memberikan banyak manfaat, penerapannya tidak selalu mudah.
1. Data Quality yang Buruk
Data yang tidak lengkap, duplikat, tidak konsisten, atau sudah tidak relevan dapat menghasilkan insight yang salah.
2. Data Silo
Data yang tersebar di berbagai sistem dapat menyulitkan proses integrasi dan discovery.
3. Kurangnya Data Literacy
Memberikan akses tanpa memberikan pelatihan dapat menyebabkan pengguna salah membaca atau salah menggunakan data.
4. Risiko Keamanan
Semakin banyak pengguna yang dapat mengakses data, semakin penting pengaturan permission, authentication, monitoring, dan security control.
5. Definisi Metrik yang Berbeda
Satu departemen mungkin memiliki definisi berbeda mengenai istilah seperti customer, revenue, conversion, atau active user. Jika tidak diseragamkan, setiap departemen dapat menghasilkan laporan yang berbeda meskipun menggunakan data yang sama.
6. Terlalu Banyak Tools
Penggunaan terlalu banyak platform analytics dan sumber data dapat meningkatkan kompleksitas serta membuat pengguna bingung menentukan sumber yang harus dipercaya.
Penerapan data democratization sebaiknya dilakukan secara bertahap.
1. Tentukan Tujuan Bisnis
Mulailah dari masalah bisnis, bukan hanya dari teknologi. Tentukan keputusan apa yang ingin diperbaiki dan data apa yang dibutuhkan untuk mendukungnya.
2. Identifikasi Sumber Data
Petakan sumber data yang tersedia dan cari tahu bagaimana data tersebut digunakan oleh masing-masing departemen.
3. Perbaiki Data Quality
Sebelum memberikan akses yang lebih luas, pastikan data yang digunakan memiliki kualitas yang memadai.
4. Bangun Data Governance
Tentukan aturan mengenai ownership, permission, privacy, security, retention, dan penggunaan data.
5. Gunakan Data Catalog
Buat data lebih mudah ditemukan dengan menyediakan metadata dan informasi mengenai dataset yang tersedia.
6. Sediakan Self-Service Tools
Berikan tools yang sesuai dengan kemampuan pengguna. Tidak semua pengguna membutuhkan akses langsung ke database atau query engine. Dashboard dan self-service analytics dapat menjadi pilihan untuk kebutuhan analisis bisnis umum.
7. Tingkatkan Data Literacy
Berikan pelatihan agar pengguna memahami cara membaca dashboard, menggunakan metrik, memeriksa kualitas data, dan menarik kesimpulan dengan tepat.
8. Evaluasi dan Perbaiki
Ukur apakah akses data benar-benar mempercepat pengambilan keputusan dan meningkatkan produktivitas. menempatkan data discovery, data democratization, dan data literacy sebagai bagian penting dari pembangunan data culture dalam organisasi.
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan agar demokratisasi data tidak berubah menjadi masalah baru.
Data democratization memiliki hubungan yang sangat erat dengan self-service analytics. Self-service analytics menyediakan kemampuan teknis agar pengguna bisnis dapat mengakses dan menganalisis data secara mandiri. Sementara data democratization memiliki cakupan yang lebih luas karena juga mencakup aspek akses, governance, data literacy, security, dan budaya organisasi.
Dengan kata lain Self-service analytics merupakan salah satu cara untuk mendukung data democratization. Namun, menyediakan tools analytics saja belum cukup untuk membuat organisasi benar-benar memiliki budaya data.
Tujuan akhir dari data democratization bukan sekadar membuat dashboard sebanyak mungkin. Tujuan yang lebih penting adalah membangun lingkungan kerja di mana data dapat digunakan secara bertanggung jawab untuk membantu menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan.
Organisasi dengan data-driven culture memungkinkan lebih banyak stakeholder menggunakan data dalam aktivitas mereka. Microsoft menjelaskan bahwa budaya data mendorong pengambilan keputusan berbasis informasi oleh lebih banyak pihak di berbagai area organisasi.
Karena itu, keberhasilan data democratization sebaiknya tidak hanya diukur dari jumlah pengguna yang memiliki akses, tetapi juga dari seberapa efektif data digunakan untuk menghasilkan keputusan dan dampak bisnis.
Data democratization adalah pendekatan untuk membuat data lebih mudah ditemukan, diakses, dipahami, dan digunakan oleh lebih banyak orang dalam organisasi sesuai dengan kebutuhan dan hak aksesnya.
Konsep ini dapat membantu mempercepat pengambilan keputusan, mengurangi ketergantungan pada tim data, mengurangi data silo, dan membangun budaya pengambilan keputusan berbasis data. Namun, demokratisasi data bukan berarti memberikan akses tanpa batas. Data governance, data quality, security, access control, dan data literacy tetap menjadi bagian penting dalam penerapannya.
Dengan kombinasi antara teknologi, tata kelola, dan kemampuan pengguna, data democratization dapat mengubah data dari sekadar aset yang tersimpan menjadi sumber insight yang dapat dimanfaatkan lebih banyak bagian organisasi.
Untuk mendapatkan informasi lainnya mengenai teknologi, data, website, dan digital business, Anda juga dapat membaca berbagai artikel informatif di Blog Hosteko. Jika membutuhkan infrastruktur untuk mendukung website atau aplikasi, Hosteko Hosting Indonesia juga dapat menjadi salah satu pilihan layanan domain dan hosting yang dapat dipertimbangkan.
Aktivasi Windows adalah proses teknis yang menghubungkan lisensi Windows, baik berupa kunci produk (product key)…
Dalam strategi pemasaran dan penjualan, tidak semua orang yang menunjukkan ketertarikan terhadap produk atau layanan…
Akhir 2021, dunia IT dikejutkan oleh satu celah keamanan kecil bernama Log4Shell yang bersembunyi di…
Sudah membuat artikel berkualitas, tetapi halaman tersebut tidak muncul di Google? Kondisi ini cukup sering…
Setelah membahas fitur-fitur Accurate, bagian berikutnya adalah memahami Accurate Online sebagai solusi bisnis berbasis cloud.…
Website diretas merupakan salah satu masalah serius yang dapat mengganggu operasional, merusak reputasi, hingga menyebabkan…