(0275) 2974 127
Shift-Left Security dapat membantu organisasi memasukkan keamanan lebih awal ke dalam proses pengembangan software. Namun, penerapannya bukan berarti tanpa tantangan. Jika security tools, aturan pipeline, dan proses review diterapkan tanpa mempertimbangkan konteks, tim dapat menghadapi terlalu banyak temuan, false positive, atau tambahan beban pada proses development.
Karena itu, penerapan Shift-Left Security perlu dilakukan secara berbasis risiko, bertahap, dan disesuaikan dengan kebutuhan organisasi. NIST melalui Secure Software Development Framework (SSDF) menjelaskan bahwa praktik secure software development dapat diselaraskan dengan kebutuhan bisnis, toleransi risiko, sumber daya, biaya, dan kelayakan penerapannya.
Salah satu manfaat Shift-Left Security adalah membantu menemukan masalah keamanan ketika software masih berada dalam proses pengembangan.
Misalnya, vulnerability ditemukan ketika developer baru menyelesaikan sebuah fitur. Temuan tersebut dapat diperiksa dan diperbaiki sebelum perubahan diteruskan ke tahap berikutnya.
Prinsip pengujian lebih awal juga sejalan dengan pendekatan secure software development. Semakin awal masalah keamanan ditemukan, semakin cepat tim dapat memasukkannya ke dalam proses perbaikan.
NIST menyatakan bahwa praktik secure software development dapat membantu mengurangi jumlah vulnerability pada software yang dirilis, mengurangi dampak eksploitasi vulnerability yang tidak terdeteksi atau tidak tertangani, serta membantu menangani akar penyebab vulnerability.
Shift-Left Security membuat aktivitas keamanan menjadi bagian dari workflow development, bukan aktivitas terpisah yang baru dilakukan menjelang rilis.
Contoh alur yang dapat digunakan antara lain:
Coding → Code Review → Security Testing → Testing → CI/CD → Deployment
Dalam implementasi yang lebih spesifik, security testing dapat mencakup SAST, SCA, secret scanning, DAST, container scanning, atau jenis pemeriksaan lainnya sesuai kebutuhan.
OWASP menjelaskan bahwa DevSecOps memasukkan aktivitas keamanan ke dalam proses DevOps dan pipeline CI/CD sehingga keamanan menjadi bagian dari proses development dan release.
Automated security testing dapat dijalankan berulang kali pada setiap perubahan kode atau pada tahapan tertentu dalam pipeline.
Hal ini membantu mengurangi ketergantungan pada pemeriksaan manual untuk aktivitas yang memang dapat diotomatisasi.
Pada proyek DevSecOps NIST 2026, NIST mendemonstrasikan bagaimana praktik SSDF dapat diterapkan dalam pipeline DevSecOps modern dengan teknologi yang tersedia secara komersial. Proyek tersebut menggunakan pendekatan berbasis risiko serta menunjukkan bagaimana berbagai pertimbangan keamanan dapat diotomatisasi dan distandarkan sepanjang lifecycle pengembangan.
Software modern sering dibangun menggunakan kombinasi komponen internal dan eksternal, seperti library, framework, package, container, dan berbagai tool pihak ketiga.
Artinya, keamanan aplikasi tidak hanya bergantung pada kode yang dibuat sendiri.
NIST menjelaskan bahwa aplikasi modern umumnya dibangun dari berbagai komponen, framework, library, dan tool yang dikembangkan secara internal maupun diperoleh dari pihak eksternal. Kondisi tersebut membuat keamanan software supply chain menjadi bagian penting dari secure software development.
Pemeriksaan seperti Software Composition Analysis (SCA), dependency scanning, SBOM, dan container scanning dapat digunakan untuk membantu organisasi memahami komponen yang digunakan dan mengidentifikasi risiko yang relevan.
Salah satu tantangan security scanning adalah munculnya false positive, yaitu temuan atau alert yang ditandai oleh sebuah tool tetapi setelah diperiksa ternyata tidak terbukti sebagai masalah yang sebenarnya.
Jika jumlah false positive terlalu tinggi, tim harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk melakukan triage dan menentukan temuan mana yang benar-benar perlu ditindaklanjuti.
Masalah serupa juga dapat terjadi pada sistem monitoring dan alerting. OWASP memperingatkan bahwa terlalu banyak false-positive alerts dapat membuat pihak yang menangani alert kesulitan membedakan alert penting dari alert yang kurang penting.
Karena itu, hasil scanning sebaiknya tidak selalu diperlakukan sebagai keputusan otomatis. Temuan tetap perlu dievaluasi berdasarkan konteks, severity, exploitability, aset yang terdampak, dan risiko terhadap organisasi.
Volume alert yang terlalu tinggi dapat menyebabkan overload pada pihak yang melakukan triage. Dalam kondisi tersebut, membedakan alert penting dari alert yang kurang penting dapat menjadi lebih sulit.
Solusinya bukan menghilangkan security scanning, tetapi meningkatkan kualitas, relevansi, dan prioritas temuan.
Misalnya, organisasi dapat memprioritaskan:
Pendekatan tersebut lebih sesuai dengan prinsip risk-based security dibandingkan memperlakukan seluruh temuan sebagai masalah dengan tingkat kepentingan yang sama.
Penambahan pemeriksaan keamanan ke CI/CD dapat menambah waktu pipeline, meskipun dampaknya bergantung pada jenis tools, konfigurasi, caching, parallelization, dan desain pipeline.
Misalnya, sebuah pipeline dapat menjalankan:
Tidak semua pemeriksaan harus dijalankan pada titik yang sama.
Pemeriksaan yang relatif cepat dapat ditempatkan pada tahap awal, sementara pengujian yang membutuhkan waktu lebih lama dapat dilakukan pada tahap pipeline yang sesuai atau dijalankan secara paralel jika arsitektur pipeline mendukung.
Tujuannya adalah menjaga keseimbangan antara keamanan, kecepatan development, dan kebutuhan deployment.
Shift-Left Security juga membutuhkan keterlibatan developer dalam keamanan.
Developer tidak harus menjadi security specialist, tetapi developer yang terlibat dalam secure development sebaiknya memahami konsep dasar seperti:
OWASP menempatkan security culture sebagai bagian penting dari secure development. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah Security Champion, yaitu anggota development team yang membantu menjadi penghubung antara developer dan tim keamanan.
Dengan adanya Security Champion, komunikasi antara developer dan security team dapat menjadi lebih terstruktur. Namun, program Security Champion tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan struktur organisasi.
Automation merupakan komponen penting dalam DevSecOps, tetapi bukan berarti semua vulnerability dapat ditemukan secara otomatis.
SAST berfokus pada analisis kode atau karakteristik aplikasi secara statis. SCA digunakan untuk menganalisis komponen dan dependency yang digunakan. DAST menguji aplikasi yang sedang berjalan untuk menemukan potensi kelemahan keamanan.
Masing-masing pendekatan memiliki cakupan dan keterbatasan.
OWASP menjelaskan bahwa automated security tools seperti SAST, DAST, dan SCA dapat membantu memperluas cakupan pemeriksaan dan melakukan pengecekan yang berulang. Namun, tools otomatis tetap dapat kekurangan konteks aplikasi, business logic, dan desain khusus yang digunakan oleh sebuah sistem.
Karena itu, automated security testing tetap perlu dilengkapi dengan aktivitas seperti:
Dengan pendekatan tersebut, organisasi tidak hanya bergantung pada hasil sebuah scanner.
Organisasi tidak harus langsung memasang semua security tools.
Mulailah dengan memahami:
NIST menjelaskan bahwa SSDF dapat digunakan untuk menyelaraskan dan memprioritaskan aktivitas secure software development berdasarkan kebutuhan bisnis, toleransi risiko, dan sumber daya organisasi.
Karena itu, pemilihan kontrol keamanan sebaiknya dilakukan berdasarkan risiko dan kebutuhan, bukan sekadar jumlah tools yang berhasil dipasang.
Tools sebaiknya disesuaikan dengan teknologi dan kebutuhan sistem.
Sebagai contoh:
Aplikasi web
→ SAST + SCA + DAST dapat dipertimbangkan
Aplikasi berbasis container
→ SAST + SCA + container scanning dapat dipertimbangkan
Cloud infrastructure
→ IaC scanning + cloud configuration security dapat dipertimbangkan
API
→ SAST + API security testing + DAST dapat dipertimbangkan
Contoh tersebut bukan kombinasi wajib untuk setiap aplikasi. Kebutuhan sebenarnya tetap bergantung pada arsitektur, teknologi, risiko, dan proses development yang digunakan.
Dengan demikian, organisasi tidak sekadar mengumpulkan tools, tetapi memilih pemeriksaan yang relevan terhadap sistem.
Implementasi dapat dilakukan secara bertahap. Contoh roadmap-nya adalah:
Tahap 1: secure coding dan code review
↓
Tahap 2: secret scanning
↓
Tahap 3: SAST dan SCA
↓
Tahap 4: integrasi security testing ke CI/CD
↓
Tahap 5: container dan IaC scanning
↓
Tahap 6: security gate berbasis risiko
↓
Tahap 7: monitoring dan continuous improvement
Urutan tersebut merupakan contoh roadmap, bukan urutan wajib dari NIST atau OWASP. Organisasi dapat mengubah tahapannya sesuai tingkat risiko, teknologi, sumber daya, dan tingkat kematangan security development.
Pendekatan bertahap juga memudahkan organisasi mengevaluasi perubahan sebelum memperluas implementasi ke area lainnya.
Security gate perlu memiliki aturan yang dapat dipahami developer.
Misalnya, organisasi dapat menetapkan bahwa vulnerability tertentu harus diperbaiki sebelum deployment, sementara temuan dengan risiko lebih rendah dapat dicatat dan ditangani melalui proses vulnerability management.
Kriteria tersebut dapat mempertimbangkan severity, exploitability, aset yang terdampak, lingkungan deployment, dan risiko bisnis.
Dengan cara tersebut, security gate dapat menjadi mekanisme pengendalian risiko, bukan sekadar penghambat pipeline.
Jika scanner menghasilkan terlalu banyak temuan yang tidak relevan, tim dapat melakukan tuning dan triage.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Tujuannya adalah membuat security feedback lebih relevan dan dapat ditindaklanjuti.
Hal yang sangat penting adalah memahami bahwa Shift-Left Security bukan pengganti security testing di tahap akhir.
Security dimulai lebih awal, tetapi aktivitas keamanan tetap berlangsung sepanjang software development lifecycle.
Sebagai gambaran, pemetaan aktivitas keamanan dapat dibuat seperti berikut:
Plan
→ Security requirement
Design
→ Threat modeling
Develop
→ Secure coding + SAST + SCA
Build
→ Security scanning
Test
→ DAST + API testing
Deploy
→ Configuration/security validation
Operate
→ Monitoring + vulnerability management
Pembagian tersebut merupakan contoh pemetaan, karena fase SDLC dan aktivitas security dapat berbeda antara satu organisasi dan organisasi lainnya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep DevSecOps yang memasukkan security ke berbagai fase software development lifecycle. Dalam proyek DevSecOps NIST 2026, NIST juga menekankan kebutuhan terhadap continuous security monitoring dan improvement.
Penerapan Shift-Left Security perlu dievaluasi setelah berjalan.
Organisasi dapat memantau beberapa indikator, misalnya:
Metrik tersebut bukan daftar wajib. Organisasi dapat memilih indikator yang paling relevan dengan tujuan keamanan dan proses development mereka.
Tujuan metrik bukan sekadar mengejar angka tertentu, tetapi mencari bagian proses yang masih perlu diperbaiki.
NIST menjelaskan bahwa SSDF dapat menjadi dasar untuk pendekatan secure software development yang disesuaikan dan terus diperbaiki berdasarkan kebutuhan organisasi.
Shift-Left Security dapat membantu organisasi memasukkan keamanan lebih awal ke dalam proses pengembangan software, meningkatkan konsistensi pemeriksaan, dan membantu menangani vulnerability sebelum masalah berkembang lebih jauh.
Namun, penerapannya memiliki tantangan seperti false positive, volume alert yang tinggi, tambahan waktu pada CI/CD, keterbatasan automated tools, serta kebutuhan kompetensi keamanan di kalangan developer.
Karena itu, penerapan yang efektif sebaiknya dilakukan secara bertahap dan berbasis risiko. Organisasi dapat memulai dari secure coding, code review, secret scanning, SAST, dan SCA, kemudian memperluasnya ke security testing dalam CI/CD, container scanning, IaC scanning, hingga security gate sesuai kebutuhan.
NIST SSDF tidak dimaksudkan sebagai checklist kaku. Framework tersebut dapat digunakan untuk menyelaraskan praktik keamanan dengan kebutuhan bisnis, toleransi risiko, sumber daya, biaya, kelayakan, dan prioritas organisasi.
Pada akhirnya, Shift-Left Security bukan sekadar memindahkan security testing ke sebelah kiri SDLC. Konsepnya adalah menjadikan keamanan bagian dari proses pengembangan sejak awal dan mempertahankannya secara berkelanjutan sampai software beroperasi.
Dengan demikian, Shift-Left Security dapat dipahami sebagai pendekatan pengembangan software yang menggabungkan pencegahan, deteksi dini, otomatisasi, evaluasi berbasis risiko, dan perbaikan berkelanjutan, bukan sekadar penggunaan security scanner pada tahap coding.
Ingin mempelajari lebih banyak seputar web development, cloud computing, keamanan siber, server, hingga berbagai tren teknologi terbaru? Kunjungi blog Hosteko untuk mendapatkan artikel yang informatif, mudah dipahami, dan selalu diperbarui mengikuti perkembangan dunia digital.
Jangan lewatkan berbagai panduan, tips, serta tutorial yang dapat membantu Anda mengembangkan website, meningkatkan performa bisnis online, dan memperluas wawasan di bidang teknologi. Temukan artikel menarik lainnya hanya di Hosteko Blog dan terus ikuti informasi terbaru untuk mendukung perjalanan digital Anda.
Bisnis digital semakin bergantung pada berbagai proses yang harus dilakukan secara cepat dan konsisten. Mulai…
Riset keyword merupakan salah satu tahap penting dalam strategi SEO. Dengan mengetahui kata atau frasa…
Setelah memahami konsep, alur kerja, serta tools yang digunakan, langkah berikutnya adalah menerapkan Shift-Left Security…
Website yang tiba-tiba tidak bisa diakses dapat menjadi masalah serius, terutama jika website digunakan untuk…
Dalam keamanan website dan aplikasi, kerentanan tidak selalu disebabkan oleh bug pada kode program. Sistem…
Penerapan Shift-Left Security membutuhkan kombinasi proses, metode, dan tools keamanan. Tidak ada satu tool yang…