HOTLINE

(0275) 2974 127

CHAT WA 24/7
0859-60000-390 (Sales)
0852-8969-9009 (Support)
Categories: TipsWordpress

Pindah Hosting Tanpa Takut Website Down? Begini Cara Migrasi WordPress

Memindahkan website WordPress ke hosting baru sering dianggap sebagai pekerjaan yang berisiko. Kesalahan saat memindahkan file, database, konfigurasi, atau DNS dapat menyebabkan website tidak bisa diakses, muncul error database, gambar rusak, hingga pengguna kehilangan akses ke halaman tertentu.

Namun, proses tersebut sebenarnya dapat dilakukan dengan risiko downtime yang sangat kecil apabila migrasi dilakukan secara bertahap. Kuncinya adalah menyiapkan hosting baru terlebih dahulu, menyalin website, melakukan pengujian, kemudian mengarahkan domain ke server baru setelah semuanya siap.

WordPress sendiri tidak mengharuskan pengguna melakukan instalasi ulang ketika website dipindahkan ke server lain. File website dan database dapat dipindahkan ke server baru, kemudian konfigurasi disesuaikan dengan lingkungan hosting yang baru.

Artikel ini akan membahas cara memindahkan WordPress ke hosting baru tanpa downtime secara lengkap, mulai dari persiapan hingga pengecekan setelah DNS berpindah.

Apa Itu Migrasi WordPress ke Hosting Baru?

Migrasi WordPress ke hosting baru adalah proses memindahkan seluruh komponen website dari server lama ke server baru agar website dapat tetap digunakan pada lingkungan hosting yang berbeda.

Proses ini tidak hanya mencakup pemindahan file WordPress, tetapi juga database, tema, plugin, gambar, media, file konfigurasi seperti wp-config.php, .htaccess, serta berbagai data dan pengaturan lain yang dibutuhkan agar website dapat berjalan seperti sebelumnya.

Jika domain yang digunakan tetap sama, proses perpindahan biasanya lebih sederhana karena alamat website tidak perlu diubah. Dalam kondisi ini, file dan database dapat disalin ke server baru, kemudian konfigurasi database pada WordPress disesuaikan dengan informasi yang diberikan oleh hosting baru.

Setelah seluruh komponen berhasil dipindahkan dan website dapat berjalan dengan baik, DNS domain dapat diarahkan ke server baru. Pendekatan tersebut juga memungkinkan proses perpindahan dilakukan secara bertahap sehingga website lama tetap dapat diakses selama server baru dipersiapkan dan diuji.

Mengapa Bisa Dilakukan Tanpa Downtime?

Prinsip utama migrasi tanpa downtime adalah jangan langsung mematikan website lama. Website lama tetap berjalan ketika salinan website dibuat di hosting baru. Setelah website di hosting baru selesai dikonfigurasi dan diuji, barulah DNS diarahkan ke server baru.

Dengan metode ini, hosting lama tetap berfungsi sebagai sumber website selama proses perpindahan DNS berlangsung. Secara sederhana, alurnya adalah:

Website Lama → Backup → Hosting Baru → Import Website → Pengujian → DNS Dialihkan → Verifikasi → Hosting Lama Dipertahankan Sementara

Perbedaan Migrasi dengan dan Tanpa Downtime

Sebelum mulai, penting memahami perbedaan kedua pendekatan tersebut.

Aspek Migrasi dengan Downtime Migrasi Minim/Tanpa Downtime
Website lama Dimatikan saat migrasi Tetap aktif
Persiapan server baru Biasanya terbatas Disiapkan terlebih dahulu
Pengujian Dilakukan setelah perpindahan Dilakukan sebelum DNS berpindah
Risiko website tidak bisa diakses Lebih tinggi Lebih rendah
Perpindahan DNS Dilakukan saat website berhenti Dilakukan setelah server baru siap
Cocok untuk Website sederhana Website bisnis, toko online, dan website aktif
Strategi utama Cut-over langsung Staging → testing → DNS switch

Perlu dipahami bahwa istilah tanpa downtime tidak berarti seluruh proses selalu bebas dari gangguan dalam semua kondisi.

Propagasi DNS, konfigurasi server, cache, atau perubahan data selama migrasi dapat menyebabkan sebagian pengguna sementara mengakses server lama dan sebagian lainnya sudah mengakses server baru.

Karena itu, target yang lebih realistis adalah membuat perpindahan layanan tanpa penghentian website yang berarti.

Persiapan Sebelum Memindahkan WordPress

Jangan langsung memindahkan website sebelum melakukan persiapan. Semakin lengkap persiapan dilakukan, semakin kecil kemungkinan terjadi masalah ketika DNS mulai diarahkan ke hosting baru.

1. Pastikan Hosting Baru Sudah Siap

Sebelum menyentuh website lama, siapkan hosting baru terlebih dahulu. Periksa beberapa hal seperti:

  • versi PHP yang tersedia;
  • versi database;
  • kapasitas penyimpanan;
  • jumlah database;
  • konfigurasi web server;
  • SSL;
  • akses FTP atau SFTP;
  • akses File Manager;
  • akses phpMyAdmin;
  • alamat IP server;
  • dan resource hosting.

Pastikan lingkungan hosting baru kompatibel dengan website yang akan dipindahkan. Jika website menggunakan plugin atau tema tertentu yang membutuhkan versi PHP tertentu, periksa kompatibilitasnya terlebih dahulu.

2. Catat Konfigurasi Hosting Lama

Sebelum melakukan migrasi, catat konfigurasi penting dari hosting lama. Contohnya:

Data Keterangan
Nama database Database WordPress
Username database User database
Host database Biasanya localhost, tetapi tidak selalu
Prefix tabel Misalnya wp_
Versi PHP Versi yang digunakan website
Versi WordPress Versi WordPress saat migrasi
Versi MySQL/MariaDB Versi database
PHP extensions Extension yang dibutuhkan
Folder instalasi Lokasi file WordPress
IP server lama Dibutuhkan untuk pengecekan
DNS record A, AAAA, CNAME, MX, dan lainnya

Data ini membantu ketika melakukan konfigurasi di server baru.

3. Backup WordPress Secara Lengkap

Backup adalah langkah yang tidak boleh dilewati. WordPress merekomendasikan untuk membuat salinan file website dan database sebelum melakukan migrasi. Minimal buat dua jenis backup:

  • Backup File

Backup seluruh file WordPress, termasuk:

    1. wp-admin;
    2. wp-includes;
    3. wp-content;
    4. .htaccess;
    5. wp-config.php;
    6. file tambahan yang berada di root WordPress.

Folder wp-content sangat penting karena biasanya berisi:

    1. tema;
    2. plugin;
    3. upload;
    4. dan berbagai file tambahan website.
  • Backup Database

Database menyimpan berbagai data penting seperti:

    1. artikel;
    2. halaman;
    3. komentar;
    4. konfigurasi WordPress;
    5. data pengguna;
    6. pengaturan plugin;
    7. menu;
    8. metadata;
    9. dan data lainnya.

Database dapat diekspor melalui phpMyAdmin atau metode backup lain yang disediakan hosting. Jangan hanya membackup file WordPress. File dan database harus diperlakukan sebagai dua komponen yang saling melengkapi.

4. Periksa Kondisi Website Sebelum Migrasi

Sebelum memindahkan website, lakukan pemeriksaan terhadap website lama. Periksa:

  • halaman utama;
  • artikel;
  • halaman kategori;
  • halaman kontak;
  • gambar;
  • formulir;
  • login;
  • pencarian;
  • menu navigasi;
  • plugin penting;
  • checkout jika menggunakan WooCommerce;
  • pengiriman email;
  • SSL;
  • dan halaman yang memiliki fungsi khusus.

Tujuannya adalah mengetahui kondisi website sebelum migrasi. Jika setelah pindah terdapat masalah, Anda dapat membandingkannya dengan kondisi sebelum migrasi.

5. Turunkan TTL DNS Jika Diperlukan

DNS menggunakan TTL atau Time to Live untuk menentukan berapa lama informasi DNS dapat disimpan dalam cache resolver.

TTL yang lebih panjang dapat membuat perubahan DNS membutuhkan waktu lebih lama untuk terlihat karena resolver masih menyimpan data lama.

Sebaliknya, TTL yang lebih rendah dapat membantu perubahan DNS diterapkan lebih cepat, meskipun perilakunya tetap bergantung pada resolver dan cache yang digunakan. Jika Anda memiliki kontrol terhadap DNS, TTL dapat diturunkan sebelum migrasi. Contohnya:

Sebelum migrasi: A Record → IP Server Lama
Kemudian TTL diturunkan sesuai kebutuhan.
Setelah website baru benar-benar siap: A Record → IP Server Baru

Namun, perubahan TTL tidak berarti DNS akan berpindah secara instan ke semua pengguna. Cache yang sudah tersimpan sebelumnya tetap dapat bertahan hingga masa TTL sebelumnya berakhir.

Cara Memindahkan WordPress ke Hosting Baru Tanpa Downtime

Setelah persiapan selesai, proses migrasi dapat dimulai.

1. Buat Database di Hosting Baru

Masuk ke panel hosting baru dan buat database untuk WordPress. Catat:

  • nama database;
  • username database;
  • password database;
  • hostname database.

Informasi tersebut nantinya diperlukan untuk menghubungkan WordPress dengan database. Nama database dan username tidak harus sama dengan hosting lama. Jika berbeda, konfigurasi wp-config.php harus disesuaikan.

2. Upload File WordPress ke Hosting Baru

Upload seluruh file website WordPress ke hosting baru. Anda dapat menggunakan:

  • File Manager;
  • FTP;
  • SFTP;
  • SSH;
  • atau fitur migrasi yang disediakan hosting.

Jika menggunakan arsip ZIP, upload file ZIP terlebih dahulu lalu ekstrak di server agar proses lebih efisien. Pastikan struktur file tidak menjadi salah.

Misalnya, jika website seharusnya berada di public_html/ jangan sampai hasil ekstraksi menjadi public_html/wordpress/wordpress/, sementara domain sebenarnya diarahkan ke public_html/wordpress/.

Struktur folder yang salah dapat menyebabkan website menampilkan error atau halaman tidak ditemukan.

3. Import Database WordPress

Setelah file selesai diupload, import database yang telah dibackup sebelumnya ke database baru. Jika menggunakan phpMyAdmin:

  1. Buka phpMyAdmin.
  2. Pilih database yang telah dibuat.
  3. Pilih menu Import.
  4. Upload file database.
  5. Jalankan proses import.
  6. Tunggu hingga proses selesai.

Jika ukuran database besar, metode import melalui phpMyAdmin mungkin dibatasi oleh konfigurasi server. Dalam kondisi tersebut, metode seperti:

  • SSH;
  • command line;
  • atau fitur database import dari hosting

dapat menjadi alternatif. Setelah import selesai, pastikan tabel WordPress tersedia di database.

4. Sesuaikan File wp-config.php

File wp-config.php berisi konfigurasi penting yang digunakan WordPress untuk terhubung ke database. Jika database baru menggunakan nama, username, atau password berbeda, sesuaikan bagian yang relevan. Contoh:

define( 'DB_NAME', 'nama_database_baru' );
define( 'DB_USER', 'username_database_baru' );
define( 'DB_PASSWORD', 'password_database_baru' );
define( 'DB_HOST', 'localhost' );

Nilai DB_HOST tidak selalu localhost, sehingga gunakan nilai yang diberikan oleh provider hosting baru. WordPress juga menjelaskan bahwa wp-config.php perlu disesuaikan ketika database berpindah server atau nama database maupun username database berubah.

5. Pastikan Domain Tetap Sama

Jika Anda hanya mengganti hosting dan tidak mengganti domain, sebaiknya jangan mengubah URL WordPress tanpa alasan.

Misalnya website sebelumnya: https://www.contoh.com
Maka website di server baru tetap menggunakan: https://www.contoh.com

Pendekatan ini membuat migrasi lebih sederhana karena domain dan URL tetap sama. WordPress menyebutkan bahwa ketika database dan URL tetap sama, migrasi ke server baru dapat dilakukan dengan memindahkan file dan database tanpa perlu mengganti URL website.

6. Uji Website di Hosting Baru Sebelum Mengubah DNS

Ini merupakan salah satu tahap terpenting dalam migrasi tanpa downtime. Jangan langsung mengubah DNS setelah upload file dan database. Website harus diuji terlebih dahulu di server baru. Ada beberapa metode yang dapat digunakan, tergantung konfigurasi hosting.

Menggunakan Temporary URL

Beberapa provider hosting menyediakan temporary URL untuk mengakses website sebelum domain diarahkan. Namun, metode ini tidak selalu ideal karena WordPress dapat memiliki URL absolut, konfigurasi SSL, cookie, redirect, atau konfigurasi plugin yang bergantung pada domain utama.

Menggunakan Hosts File

Cara lain adalah mengarahkan domain pada komputer tertentu ke IP server baru menggunakan file hosts. Dengan cara ini, komputer Anda dapat mengakses: contoh.com → IP server baru sementara pengguna lain tetap mengakses contoh.com → IP server lama . Metode ini sangat berguna untuk melakukan pengujian sebelum DNS publik diubah.

Menggunakan Subdomain

Anda juga dapat membuat subdomain pengujian seperti staging.contoh.com. Namun, metode ini perlu diperhatikan karena URL WordPress dan konfigurasi plugin tertentu dapat bergantung pada domain utama.

7. Cek Website Secara Menyeluruh

Setelah website dapat dibuka dari hosting baru, lakukan pengujian. Jangan hanya memastikan homepage bisa dibuka. Periksa:

Bagian Yang Perlu Dicek
Homepage Layout dan konten
Artikel Isi dan gambar
Halaman Semua halaman penting
Menu Link navigasi
Gambar Tidak ada gambar rusak
CSS/JS Tidak ada resource gagal dimuat
Plugin Fungsi plugin berjalan
Tema Tampilan sesuai
Form Pengiriman form
Login Bisa masuk ke WordPress
WooCommerce Produk, cart, checkout
Email Email website berjalan
SSL HTTPS aktif
Permalink URL artikel berjalan
Database Tidak muncul error koneksi

Jika ditemukan masalah, perbaiki di server baru sebelum DNS dialihkan.

8. Periksa Permalink WordPress

Salah satu masalah yang cukup sering muncul setelah migrasi adalah halaman atau artikel menampilkan 404. Setelah website berhasil diakses, masuk ke: Dashboard → Settings → Permalinks. Kemudian periksa struktur permalink yang digunakan.

Jika tidak ada perubahan yang diperlukan, Anda dapat menyimpan ulang pengaturan permalink untuk membantu WordPress membangun ulang aturan rewrite. WordPress juga mencatat bahwa konfigurasi rewrite dan .htaccess perlu diperhatikan ketika memindahkan website.

9. Periksa File .htaccess

Jika website menggunakan Apache, file .htaccess dapat berisi aturan penting seperti:

  • permalink;
  • redirect;
  • keamanan;
  • cache;
  • pengaturan akses;
  • atau konfigurasi plugin tertentu.

Pastikan file tersebut ikut dipindahkan jika memang digunakan. Contoh aturan permalink WordPress yang umum adalah:

# BEGIN WordPress
<IfModule mod_rewrite.c>
RewriteEngine On
RewriteBase /
RewriteRule ^index\.php$ - [L]
RewriteCond %{REQUEST_FILENAME} !-f
RewriteCond %{REQUEST_FILENAME} !-d
RewriteRule . /index.php [L]
</IfModule>
# END WordPress

Jangan mengganti .htaccess secara sembarangan jika website memiliki konfigurasi khusus.

10. Pastikan SSL di Hosting Baru Aktif

Sebelum DNS dipindahkan, pastikan hosting baru sudah memiliki konfigurasi HTTPS yang benar. Periksa: https://contoh.com
 dan pastikan tidak muncul:

  • certificate error;
  • redirect loop;
  • mixed content;
  • atau halaman HTTPS yang tidak dapat diakses.

Jika SSL baru belum siap, jangan terburu-buru mengarahkan domain ke server baru.

11. Ubah DNS ke Server Baru

Setelah website di hosting baru sudah diuji dan dianggap siap, ubah DNS domain agar mengarah ke server baru. Jika menggunakan A record, contohnya:

contoh.com
A
IP-SERVER-LAMA

diubah menjadi:

contoh.com
A
IP-SERVER-BARU

Jika menggunakan www, periksa juga record untuk: www.contoh.com
Jangan lupa memeriksa record lain yang masih diperlukan, seperti:

  • MX;
  • TXT;
  • CNAME;
  • SPF;
  • DKIM;
  • DMARC;
  • subdomain;
  • dan record layanan pihak ketiga.

12. Jangan Langsung Menghapus Hosting Lama

Setelah DNS diubah, jangan langsung membatalkan hosting lama. Biarkan hosting lama tetap aktif untuk sementara. Alasannya sederhana: selama DNS berpindah, tidak semua pengguna selalu mendapatkan hasil DNS yang sama pada saat yang persis sama.

Sebagian pengguna mungkin sudah mengarah ke Server Baru, sementara sebagian lainnya masih mendapatkan: Server Lama

Perbedaan ini dapat terjadi karena DNS resolver masih menyimpan informasi lama di cache. Karena itu, server lama berfungsi sebagai cadangan selama masa transisi.

13. Pantau Website Setelah DNS Berpindah

Setelah DNS mulai mengarah ke server baru, lakukan monitoring. Periksa:

  • homepage;
  • halaman artikel;
  • halaman kategori;
  • halaman kontak;
  • login;
  • form;
  • gambar;
  • plugin;
  • WooCommerce;
  • email;
  • HTTPS;
  • redirect;
  • dan error server.

Periksa website dari beberapa jaringan jika memungkinkan, misalnya:

  • koneksi kantor;
  • jaringan rumah;
  • perangkat mobile;
  • atau koneksi internet berbeda.

Tujuannya untuk melihat apakah resolusi DNS sudah konsisten.

Tantangan Terbesar: Website yang Terus Menerima Data

Migrasi website statis relatif mudah. Namun, website yang terus menerima data selama proses migrasi membutuhkan perhatian lebih. Contohnya:

  • toko online menerima pesanan;
  • blog menerima komentar;
  • forum menerima posting;
  • membership menerima pendaftaran;
  • website menerima formulir;
  • aplikasi mencatat transaksi;
  • atau database terus berubah.

Masalahnya adalah backup database yang dibuat pada pukul 08.00 tidak akan otomatis berisi data yang masuk pada pukul 09.00. Misalnya:

08.00 → Database dibackup
08.30 → Pengguna membuat pesanan
09.00 → DNS dipindahkan

Jika database server baru hanya berasal dari backup pukul 08.00, pesanan pukul 08.30 dapat tidak terdapat di database baru.

Cara Menangani Website yang Aktif Menerima Transaksi

Untuk website dengan aktivitas tinggi, salah satu pendekatan adalah melakukan final database synchronization sebelum perpindahan selesai. Alurnya dapat dibuat seperti:

Backup Awal
      ↓
Copy File
      ↓
Copy Database
      ↓
Testing Server Baru
      ↓
Final Sync Database
      ↓
DNS Switch
      ↓
Monitoring

Pada website yang sangat aktif, proses ini mungkin membutuhkan strategi migrasi yang lebih kompleks seperti:

  • replikasi database;
  • deployment terkontrol;
  • maintenance window yang sangat singkat;
  • sinkronisasi data;
  • atau bantuan administrator server.

Dengan pendekatan tersebut, perubahan data selama proses migrasi dapat diminimalkan.

Apakah WordPress Harus Dimatikan Saat Migrasi?

Tidak selalu. Jika Anda membuat salinan website ketika website lama masih aktif, kemudian menguji salinan tersebut di hosting baru sebelum DNS dipindahkan, website lama dapat tetap melayani pengunjung.

Inilah prinsip utama migrasi dengan downtime minimal. Namun, untuk website dengan transaksi yang sangat aktif, Anda mungkin membutuhkan mekanisme sinkronisasi data tambahan agar perubahan database setelah backup awal tidak hilang.

Migrasi WordPress Menggunakan Plugin

Selain metode manual, migrasi WordPress juga dapat dilakukan menggunakan plugin. WordPress Learn menyebutkan beberapa plugin migrasi yang dapat digunakan, termasuk Duplicator, Backup Migration, dan All-in-One WP Migration. Beberapa provider hosting juga menyediakan fitur atau plugin migrasi sendiri. Metode ini dapat mempermudah pengguna yang tidak ingin memindahkan file dan database secara manual.

Secara umum alurnya:

Website Lama
     ↓
Install Plugin Migrasi
     ↓
Buat Paket/Backup
     ↓
Website Baru
     ↓
Install Plugin
     ↓
Import
     ↓
Testing
     ↓
DNS Switch

Kelebihan dan Kekurangan Metode Plugin

Metode Kelebihan Kekurangan
Manual Kontrol lebih besar Membutuhkan pengetahuan teknis
Plugin migrasi Lebih praktis Bergantung pada plugin dan batas server
Fitur migrasi hosting Sering lebih sederhana Bergantung provider
SSH/CLI Cepat untuk data besar Membutuhkan akses dan kemampuan teknis

Untuk website sederhana, plugin migrasi dapat menjadi pilihan praktis. Untuk website besar atau kompleks, metode manual atau bantuan administrator server dapat memberikan kontrol lebih besar.

Kesalahan yang Harus Dihindari Saat Migrasi WordPress

1. Mengubah DNS Sebelum Server Baru Siap

Jangan mengubah DNS hanya karena file sudah berhasil diupload. Website harus benar-benar diuji terlebih dahulu.

2. Tidak Membackup Database

File WordPress tanpa database bukanlah salinan website yang lengkap. Pastikan database ikut dibackup.

3. Lupa Menyalin wp-content

Folder ini dapat berisi:

  • tema;
  • plugin;
  • gambar;
  • media;
  • dan file tambahan.

Kehilangan folder ini dapat membuat website tidak tampil seperti sebelumnya.

4. Salah Mengisi wp-config.php

Kesalahan nama database, username, password, atau host database dapat menyebabkan: Error establishing a database connection

5. Menghapus Hosting Lama Terlalu Cepat

Jangan langsung menghapus server lama setelah DNS diganti. Pertahankan hosting lama selama periode verifikasi agar tersedia sebagai fallback apabila terjadi masalah.

6. Mengabaikan Email Domain

Migrasi website tidak selalu berarti email juga harus dipindahkan. Jika email tetap menggunakan provider lama, jangan sembarangan mengubah record MX. Periksa terlebih dahulu layanan apa saja yang menggunakan DNS domain.

7. Mengabaikan Cron Job

Website tertentu memiliki cron job untuk menjalankan tugas otomatis seperti:

  • backup;
  • sinkronisasi;
  • pengiriman email;
  • pemrosesan data;
  • scheduled task;
  • dan pekerjaan WooCommerce.

Jika cron job sebelumnya dijalankan melalui server lama, pastikan konfigurasi tersebut tersedia di server baru.

8. Tidak Mengecek Plugin dan Tema

Beberapa plugin atau tema dapat bergantung pada:

  • versi PHP;
  • extension tertentu;
  • konfigurasi server;
  • path file;
  • atau layanan eksternal.

Karena itu, jangan menganggap website pasti berjalan hanya karena homepage berhasil dibuka.

Berapa Lama Proses Migrasi WordPress?

Tidak ada satu durasi yang berlaku untuk semua website. Waktu migrasi bergantung pada:

  • ukuran file;
  • ukuran database;
  • kecepatan upload;
  • metode transfer;
  • konfigurasi hosting;
  • jumlah plugin;
  • kompleksitas website;
  • konfigurasi DNS;
  • dan kebutuhan sinkronisasi data.

Sementara itu, waktu perubahan DNS juga bergantung pada TTL dan cache resolver. Karena itu, jangan menentukan waktu migrasi hanya berdasarkan durasi upload file.

Bagaimana Mengetahui DNS Sudah Berpindah?

Setelah DNS diubah, Anda dapat memeriksa apakah domain sudah mengarah ke IP server baru.
Misalnya menggunakan nslookup contoh.com atau dig contoh.com

Jika hasilnya menunjukkan IP server baru, berarti resolver yang digunakan sudah mendapatkan record baru. Namun, hasil pada satu perangkat belum tentu berarti seluruh pengguna di internet sudah mendapatkan hasil yang sama.

Perbedaan tersebut dapat terjadi karena setiap resolver memiliki cache masing-masing.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Website Error Setelah Migrasi?

Jika website mengalami masalah setelah DNS diarahkan ke server baru, jangan langsung menghapus server lama. Lakukan pemeriksaan secara sistematis.

Jika muncul “Error Establishing a Database Connection”
Periksa:

  • nama database;
  • username database;
  • password;
  • DB_HOST;
  • database user permissions;
  • dan status database server.

Jika muncul 404
Periksa:

  • permalink;
  • .htaccess;
  • konfigurasi rewrite;
  • document root;
  • dan URL website.

Jika CSS atau JavaScript tidak tampil
Periksa:

  • URL resource;
  • HTTPS;
  • mixed content;
  • cache;
  • permission file;
  • dan konfigurasi tema/plugin.

Jika gambar hilang
Periksa:

  • folder wp-content/uploads;
  • URL gambar;
  • permission;
  • konfigurasi CDN;
  • dan database.

Jika redirect berulang
Periksa:

  • SSL;
  • konfigurasi HTTPS;
  • plugin redirect;
  • Cloudflare atau proxy;
  • .htaccess;
  • serta konfigurasi home dan siteurl.

Apakah URL WordPress Perlu Diubah?

Jika hanya pindah hosting dan domain tetap sama, biasanya URL WordPress tidak perlu diubah. Misalnya:

Hosting lama:
https://contoh.com

Hosting baru:
https://contoh.com

Yang berubah adalah server di belakang domain tersebut, bukan alamat website.

WordPress menyatakan bahwa perpindahan ke server baru dengan domain dan URL yang tetap sama pada dasarnya dapat dilakukan dengan memindahkan file dan database, kemudian menyesuaikan konfigurasi database bila diperlukan.

Berbeda jika Anda sekaligus mengganti domain, misalnya contohlama.com menjadi contohbaru.com

Dalam kondisi tersebut, migrasi menjadi lebih kompleks karena URL dalam database dan konfigurasi website perlu diperbarui secara tepat. WordPress juga membedakan prosedur antara perpindahan server dengan URL yang tetap dan perpindahan yang sekaligus mengubah domain.

Kapan Hosting Lama Bisa Dihapus?

Jangan menghapus hosting lama segera setelah DNS berubah. Tunggu sampai:

  1. website di server baru berjalan normal;
  2. DNS sudah konsisten pada jaringan yang digunakan;
  3. tidak ada error penting;
  4. email tetap berjalan;
  5. formulir berfungsi;
  6. transaksi berjalan jika ada;
  7. cron job berjalan;
  8. backup baru sudah dibuat;
  9. dan tidak ada data penting yang masih tertinggal di server lama.

Setelah periode verifikasi selesai dan Anda yakin server lama tidak lagi diperlukan, barulah layanan hosting lama dapat dihentikan.

Tips Agar Migrasi WordPress Lebih Aman

Agar proses pemindahan berjalan lebih lancar, terapkan beberapa kebiasaan berikut:

  • Lakukan Migrasi di Waktu Traffic Rendah
    Pilih waktu ketika jumlah pengunjung dan transaksi relatif rendah.
  • Jangan Melakukan Banyak Perubahan Bersamaan
    Jika memungkinkan, hindari update besar WordPress, plugin, tema, atau perubahan struktur website tepat sebelum migrasi.
  • Simpan Backup di Lokasi Terpisah
    Jangan hanya menyimpan backup di hosting lama. Simpan juga di komputer atau penyimpanan lain.
  • Dokumentasikan Konfigurasi
    Catat:
    1. DNS;
    2. database;
    3. PHP;
    4. cron;
    5. email;
    6. SSL;
    7. CDN;
    8. dan konfigurasi khusus.
  • Uji Sebelum DNS Switch
    Ini adalah salah satu prinsip paling penting. Semakin banyak masalah yang ditemukan sebelum DNS berpindah, semakin kecil kemungkinan pengguna melihat error.
  • Jangan Terburu-buru Menghapus Server Lama
    Server lama dapat menjadi fallback selama masa transisi.

Alur Migrasi WordPress yang Direkomendasikan

Jika diringkas, proses migrasi WordPress ke hosting baru tanpa downtime dapat dilakukan dengan alur berikut:

1. Audit Website Lama
        ↓
2. Siapkan Hosting Baru
        ↓
3. Backup File + Database
        ↓
4. Buat Database Baru
        ↓
5. Upload File WordPress
        ↓
6. Import Database
        ↓
7. Sesuaikan wp-config.php
        ↓
8. Aktifkan SSL
        ↓
9. Test Website di Server Baru
        ↓
10. Perbaiki Semua Error
        ↓
11. Pastikan DNS Siap
        ↓
12. Arahkan DNS ke Server Baru
        ↓
13. Monitoring
        ↓
14. Pertahankan Server Lama Sementara
        ↓
15. Hapus Server Lama Setelah Aman

Dengan alur tersebut, perpindahan server tidak perlu dilakukan dengan cara mematikan website terlebih dahulu.

Kesimpulan

Memindahkan WordPress ke hosting baru tanpa downtime membutuhkan persiapan yang matang. Mulai dari melakukan backup file dan database, menyiapkan server baru, menyesuaikan konfigurasi, menguji website, hingga mengarahkan DNS setelah semuanya siap.

Untuk website yang aktif menerima transaksi atau data pengguna, proses sinkronisasi perlu diperhatikan agar tidak ada data yang tertinggal. Selama server lama tetap dipertahankan sementara dan proses migrasi dilakukan secara bertahap, risiko downtime dapat ditekan.

Jika membutuhkan layanan domain dan hosting, Anda dapat mempertimbangkan Hosteko Hosting Indonesia. Untuk informasi dan panduan seputar website, hosting, dan teknologi digital, kunjungi Blog Hosteko.

5/5 - (1 vote)
Fitri Ana

Recent Posts

Apa Itu TeraBox? Fungsi, Kapasitas, Fitur, dan Keamanan

Kebutuhan menyimpan foto, video, dokumen, dan berbagai file digital terus meningkat seiring penggunaan smartphone dan…

2 hours ago

Ganti Domain WordPress Tanpa Kehilangan SEO? Ini Cara Amannya

Mengganti domain WordPress bukan sekadar mengganti alamat website dari domain lama ke domain baru. Jika…

3 hours ago

Tips Berhenti Scrolling Sebelum Tidur, Matikan Pemicu

Sudah meletakkan HP jauh dari tempat tidur, tetapi beberapa menit kemudian mengambilnya lagi? Salah satu…

20 hours ago

Mengenal Custom Post Type (CPT) WordPress: Cara Membuat Konten Lebih Terstruktur

WordPress pada dasarnya menyediakan beberapa jenis konten seperti Post dan Page. Namun, kebutuhan sebuah website…

21 hours ago

Apa Itu Platform Engineering? Solusi Mengatasi Kompleksitas Cloud dan DevOps

Perkembangan cloud computing, microservices, container, Kubernetes, dan DevOps membuat pengembangan aplikasi semakin fleksibel. Namun, semakin…

1 day ago

Jauhkan HP dari Tempat Tidur agar Tidak Scroll Sebelum Tidur

Salah satu cara praktis untuk mengurangi kebiasaan scrolling sebelum tidur adalah menjauhkan HP dari tempat…

1 day ago