(0275) 2974 127
Dalam dunia cybersecurity, mengandalkan sistem keamanan yang sudah terpasang saja belum tentu cukup. Organisasi perlu memastikan bahwa sistem tersebut benar-benar mampu mendeteksi, mencegah, dan merespons berbagai teknik serangan yang mungkin digunakan oleh penyerang.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menguji sekaligus meningkatkan kemampuan tersebut adalah Purple Team.
Purple Team menggabungkan kemampuan ofensif dari Red Team dan kemampuan defensif dari Blue Team dalam sebuah proses kolaboratif. Red Team berperan mensimulasikan perilaku penyerang, sedangkan Blue Team memantau, mendeteksi, dan merespons aktivitas tersebut. Keduanya kemudian bekerja sama untuk menemukan celah dan meningkatkan kemampuan pertahanan.
Pendekatan ini membuat pengujian keamanan tidak berhenti pada pertanyaan “apakah serangan berhasil?”, tetapi juga melihat apakah serangan tersebut terdeteksi, bagaimana sistem merespons, dan apa yang perlu diperbaiki setelah pengujian.
Purple Team adalah pendekatan cybersecurity yang menggabungkan Red Team dan Blue Team untuk menguji serta meningkatkan kemampuan pertahanan terhadap serangan siber. Red Team melakukan simulasi serangan, sedangkan Blue Team bertugas mendeteksi, menganalisis, dan merespons aktivitas tersebut.
Purple Team tidak selalu berarti adanya tim ketiga yang berdiri sendiri, tetapi lebih mengacu pada kolaborasi antara tim ofensif dan defensif. Hasil simulasi digunakan untuk mengetahui apakah serangan berhasil dideteksi, apakah sistem keamanan bekerja dengan baik, dan apakah terdapat celah dalam proses respons.
Dengan pendekatan ini, organisasi dapat menemukan kelemahan keamanan sekaligus memperbaiki detection rule, monitoring, dan mekanisme respons agar pertahanan terhadap serangan siber menjadi lebih kuat.
Istilah Purple Team berasal dari penggabungan konsep: Red Team + Blue Team = Purple Team Red Team biasanya diasosiasikan dengan pihak ofensif yang melakukan simulasi serangan, sedangkan Blue Team berfokus pada pertahanan.
Ketika kedua fungsi tersebut bekerja secara erat untuk saling memberikan informasi dan meningkatkan pertahanan, pendekatan tersebut disebut Purple Team. Namun, warna “purple” tidak berarti harus ada satu tim khusus yang seluruh anggotanya memiliki peran baru. Dalam banyak implementasi, Purple Team lebih tepat dipahami sebagai metodologi atau model kolaborasi.
Red Team bertugas melihat sistem dari sudut pandang penyerang. NIST mendefinisikan Red Team sebagai kelompok yang diberi wewenang untuk meniru kemampuan serangan atau eksploitasi adversary terhadap security posture suatu organisasi. Dalam Purple Team, Red Team dapat melakukan simulasi berbagai teknik serangan yang telah disepakati dalam ruang lingkup pengujian. Aktivitasnya dapat mencakup:
Pengujian harus dilakukan secara terkontrol dan berdasarkan aturan yang telah disepakati agar tidak mengganggu operasional organisasi.
Blue Team merupakan pihak yang bertanggung jawab terhadap pertahanan sistem.
Menurut NIST, Blue Team bertugas mempertahankan security posture organisasi terhadap serangan simulasi dan melakukan aktivitas seperti identifikasi ancaman, evaluasi kondisi keamanan, serta pemberian rekomendasi mitigasi. Dalam Purple Team, Blue Team biasanya berfokus pada:
Dengan demikian, Blue Team tidak hanya menunggu hasil akhir dari pengujian Red Team. Tim defensif ikut terlibat untuk mengetahui apakah sistem keamanan benar-benar mampu melihat dan merespons aktivitas yang disimulasikan.
Purple Team umumnya menggunakan proses yang bersifat iteratif. Artinya, pengujian dilakukan, hasilnya dianalisis, pertahanan diperbaiki, kemudian pengujian dilakukan kembali untuk memastikan perbaikannya efektif.
Alur sederhananya:
Tentukan tujuan → Pilih teknik serangan → Red Team melakukan simulasi → Blue Team mendeteksi → Analisis hasil → Perbaiki pertahanan → Uji kembali
Sebagai contoh, organisasi ingin mengetahui apakah sistem keamanan mampu mendeteksi aktivitas tertentu. Red Team melakukan simulasi teknik tersebut. Pada saat yang sama, Blue Team memantau telemetry dari endpoint, jaringan, aplikasi, atau sistem keamanan. Jika aktivitas tidak terdeteksi, kedua tim mencari penyebabnya. Kemungkinan penyebabnya antara lain:
Setelah masalah ditemukan, Blue Team dapat melakukan perbaikan. Red Team kemudian menjalankan kembali skenario untuk memastikan apakah perbaikan tersebut berhasil.
Implementasi Purple Team dilakukan secara bertahap agar proses pengujian keamanan berjalan terarah. Setiap tahap memiliki tujuan untuk mengetahui kemampuan deteksi dan respons organisasi terhadap aktivitas serangan.
1. Menentukan Tujuan Pengujian
Tahap pertama adalah menentukan tujuan pengujian. Tim perlu menetapkan kemampuan keamanan apa yang ingin dievaluasi, seperti deteksi SOC, efektivitas EDR dan SIEM, detection rule, threat hunting, atau incident response. Tujuan yang jelas membantu tim menentukan pengujian yang sesuai.
2. Menentukan Scope
Selanjutnya, tim menentukan scope atau ruang lingkup pengujian. Scope dapat mencakup server, endpoint, jaringan, aplikasi, akun, atau lingkungan tertentu. Penentuan ini penting agar aktivitas pengujian tetap terkendali dan tidak mengganggu sistem yang berada di luar target.
3. Menentukan Skenario Ancaman
Tim kemudian menentukan skenario serangan yang relevan dengan kondisi organisasi. Pemilihannya dapat mempertimbangkan jenis infrastruktur, data yang dilindungi, threat intelligence, serta ancaman yang berpotensi dihadapi. MITRE ATT&CK juga dapat digunakan sebagai referensi untuk memetakan perilaku adversary.
4. Menentukan Teknik yang Akan Diuji
Setelah skenario ditentukan, tim memilih teknik serangan yang akan diuji. Pengujian dapat mencakup berbagai aktivitas seperti initial access, execution, persistence, privilege escalation, credential access, discovery, lateral movement, hingga command and control. Pemilihan teknik sebaiknya disesuaikan dengan risiko dan kebutuhan organisasi.
5. Melakukan Simulasi
Pada tahap ini, Red Team menjalankan aktivitas simulasi sesuai skenario yang telah disepakati. Dalam pendekatan Purple Team, aktivitas tersebut dilakukan dengan koordinasi yang memungkinkan Blue Team mengamati proses pengujian dan memahami teknik yang sedang digunakan.
6. Melakukan Deteksi
Ketika simulasi berlangsung, Blue Team memantau aktivitas melalui berbagai sumber telemetry, seperti endpoint, server, firewall, jaringan, DNS, SIEM, dan EDR. Tim kemudian memeriksa apakah aktivitas yang dilakukan menghasilkan event atau alert yang sesuai.
7. Menganalisis Detection Gap
Jika aktivitas serangan tidak terdeteksi, tim melakukan analisis untuk mencari penyebabnya. Detection gap dapat terjadi karena kurangnya telemetry, konfigurasi monitoring yang belum tepat, atau belum tersedianya detection rule. Temuan ini menjadi dasar untuk meningkatkan kemampuan deteksi.
8. Melakukan Perbaikan
Setelah kelemahan ditemukan, tim melakukan perbaikan pada sistem keamanan. Perbaikan dapat berupa penambahan sumber log, penyempurnaan konfigurasi EDR, pembuatan detection rule, penyesuaian alert, atau pembaruan prosedur incident response.
9. Melakukan Pengujian Ulang
Tahap terakhir adalah melakukan pengujian ulang untuk memastikan perbaikan sudah efektif. Red Team dapat menjalankan kembali teknik yang sama dan Blue Team memeriksa hasil deteksinya. Jika aktivitas yang sebelumnya tidak terdeteksi kini berhasil menghasilkan alert, berarti kemampuan pertahanan telah mengalami peningkatan.
Misalnya sebuah perusahaan ingin menguji kemampuan SOC dalam mendeteksi aktivitas mencurigakan pada endpoint. Red Team melakukan simulasi teknik adversary yang telah disepakati. Blue Team kemudian memantau:
Hasil pengujian menunjukkan bahwa aktivitas tersebut berhasil dilakukan, tetapi tidak menghasilkan alert.
Tim kemudian mencari penyebabnya. Setelah dianalisis, ternyata telemetry tertentu sudah tersedia, tetapi belum ada detection rule yang menghubungkan pola aktivitas tersebut dengan indikasi ancaman. Blue Team kemudian membuat atau memperbaiki mekanisme deteksi.
Setelah itu, Red Team melakukan pengujian ulang. Jika aktivitas yang sama sekarang berhasil terdeteksi, tim telah memperoleh hasil yang lebih konkret mengenai peningkatan kemampuan pertahanan.
MITRE ATT&CK merupakan salah satu framework yang sering digunakan dalam aktivitas Purple Team. ATT&CK menyediakan pengetahuan mengenai teknik dan perilaku adversary sehingga tim keamanan memiliki bahasa yang lebih terstruktur untuk membahas aktivitas serangan. Dalam konteks Purple Team, ATT&CK dapat membantu:
MITRE juga menyediakan Adversary Emulation Plans yang dapat digunakan untuk membantu organisasi menguji lingkungan dan pertahanan berdasarkan perilaku adversary tertentu. Dengan pendekatan berbasis ATT&CK, pengujian tidak hanya berfokus pada penggunaan tools tertentu, tetapi juga pada perilaku atau teknik yang dilakukan oleh adversary.
Tujuan utama Purple Team adalah meningkatkan kemampuan pertahanan organisasi melalui kolaborasi langsung antara fungsi ofensif dan defensif. Beberapa tujuan lainnya meliputi:
Implementasi Purple Team dapat memberikan sejumlah manfaat bagi organisasi.
1. Meningkatkan Visibility
Organisasi dapat mengetahui aktivitas apa saja yang terlihat oleh sistem monitoring dan aktivitas apa yang masih tidak terlihat.
2. Memperbaiki Detection Rule
Detection rule dapat diperbaiki berdasarkan hasil pengujian nyata, bukan hanya berdasarkan asumsi.
3. Mempercepat Feedback
Dalam pengujian yang kolaboratif, Red Team dapat langsung memberikan konteks mengenai aktivitas yang dilakukan sehingga Blue Team dapat lebih cepat melakukan analisis.
4. Meningkatkan Kemampuan SOC
SOC dapat memperoleh pengalaman menghadapi berbagai pola aktivitas adversary secara terkontrol.
5. Mengurangi Detection Gap
Setiap aktivitas yang tidak terdeteksi dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem keamanan.
6. Membantu Prioritas Perbaikan
Organisasi dapat menentukan kontrol keamanan mana yang perlu diperbaiki terlebih dahulu berdasarkan hasil pengujian.
Ketiga pendekatan tersebut memiliki fokus yang berbeda.
| Aspek | Red Team | Blue Team | Purple Team |
|---|---|---|---|
| Fokus | Simulasi serangan | Pertahanan | Kolaborasi serangan dan pertahanan |
| Peran utama | Meniru adversary | Mendeteksi dan merespons | Menguji dan meningkatkan pertahanan |
| Sudut pandang | Ofensif | Defensif | Ofensif + defensif |
| Aktivitas | Attack simulation | Monitoring dan response | Simulasi, deteksi, evaluasi, perbaikan |
| Kolaborasi | Tidak selalu terbuka | Tidak selalu bekerja langsung dengan Red Team | Sangat erat |
| Tujuan | Menguji security posture | Melindungi sistem | Meningkatkan efektivitas pertahanan |
| Feedback | Biasanya diberikan setelah pengujian | Menganalisis hasil | Berlangsung secara iteratif |
| ATT&CK | Dapat digunakan untuk adversary emulation | Dapat digunakan untuk detection | Dapat digunakan sebagai bahasa bersama |
Purple Team dan Red Team bukanlah hal yang sama. Red Team lebih berfokus pada simulasi serangan dari sudut pandang adversary. Dalam pengujian tertentu, Red Team bahkan dapat bekerja tanpa memberikan informasi detail kepada Blue Team agar pengujian lebih realistis. Sementara itu, Purple Team menekankan kolaborasi dan feedback antara pihak ofensif dan defensif.
| Red Team | Purple Team |
|---|---|
| Berfokus pada simulasi adversary | Berfokus pada kolaborasi ofensif dan defensif |
| Dapat merahasiakan aktivitas dari Blue Team | Aktivitas umumnya diketahui atau dibagikan secara terkontrol |
| Menguji kemampuan pertahanan | Menguji sekaligus memperbaiki kemampuan pertahanan |
| Hasil dapat dievaluasi setelah operasi | Feedback dapat diberikan selama proses |
| Cocok untuk adversary emulation dan security assessment | Cocok untuk peningkatan detection dan response secara iteratif |
Blue Team berfokus pada pertahanan, sedangkan Purple Team menggunakan aktivitas ofensif dan defensif secara bersamaan. Blue Team dapat mengetahui bahwa sebuah sistem memiliki detection rule tertentu. Namun, Purple Team membantu menjawab pertanyaan yang lebih praktis:
Apakah detection rule tersebut benar-benar bekerja ketika teknik serangan yang sesuai dijalankan?
| Blue Team | Purple Team |
|---|---|
| Fokus pada pertahanan | Fokus pada pengujian dan peningkatan pertahanan |
| Monitoring | Monitoring + simulasi |
| Detection | Detection + validation |
| Incident response | Response testing + improvement |
| Threat hunting | Threat hunting berdasarkan hasil simulasi |
| Defensive operation | Kolaborasi ofensif dan defensif |
Purple Team juga berbeda dengan penetration testing. Penetration testing biasanya bertujuan mengidentifikasi dan membuktikan adanya kerentanan yang dapat dieksploitasi pada sistem tertentu. Purple Team memiliki fokus yang lebih luas pada validasi dan peningkatan kemampuan pertahanan, terutama deteksi dan respons terhadap perilaku adversary.
| Aspek | Penetration Testing | Purple Team |
|---|---|---|
| Fokus | Menemukan dan memvalidasi kerentanan | Meningkatkan pertahanan |
| Orientasi | Vulnerability dan exploitability | Detection, response, dan adversary behavior |
| Red Team | Dapat digunakan | Menjadi bagian dari pendekatan |
| Blue Team | Tidak selalu terlibat langsung | Terlibat secara aktif |
| Pengujian deteksi | Bukan fokus utama | Salah satu fokus utama |
| Iterasi | Bergantung pada engagement | Sangat umum dilakukan |
Keduanya dapat saling melengkapi. Hasil penetration testing dapat membantu menentukan area yang perlu diuji lebih lanjut melalui Purple Team.
Purple Team tidak bergantung pada satu produk tertentu. Teknologi yang digunakan dapat disesuaikan dengan kebutuhan organisasi. Beberapa kategori teknologi yang umum terlibat antara lain:
SIEM digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis log dari berbagai sumber serta membantu menghasilkan alert berdasarkan pola tertentu.
EDR memberikan visibility terhadap aktivitas endpoint dan dapat membantu mendeteksi perilaku mencurigakan.
NDR dapat membantu memberikan visibility terhadap aktivitas jaringan.
SOAR dapat digunakan untuk mengotomatisasi proses tertentu dalam investigasi dan respons.
Threat intelligence dapat membantu menentukan teknik atau perilaku adversary yang relevan untuk diuji.
ATT&CK dapat digunakan untuk memetakan teknik adversary, menyusun skenario pengujian, serta menghubungkan aktivitas serangan dengan kebutuhan deteksi.
Walaupun memiliki banyak manfaat, implementasi Purple Team juga memiliki sejumlah tantangan.
1. Kurangnya Kolaborasi
Purple Team membutuhkan komunikasi yang baik antara tim ofensif dan defensif. Jika masing-masing tim bekerja sendiri-sendiri, manfaat kolaborasi menjadi lebih kecil.
2. Keterbatasan Telemetry
Detection yang baik membutuhkan data yang memadai. Jika organisasi tidak memiliki visibility yang cukup, beberapa aktivitas mungkin sulit dideteksi.
3. Banyaknya Teknik yang Harus Diuji
MITRE ATT&CK memiliki banyak teknik dan subteknik. Organisasi tidak harus menguji semuanya sekaligus. Pengujian sebaiknya diprioritaskan berdasarkan risiko dan relevansinya terhadap lingkungan organisasi.
4. False Positive
Penambahan detection rule tanpa tuning yang tepat dapat meningkatkan jumlah false positive. Karena itu, perbaikan detection harus mempertimbangkan akurasi dan kemampuan SOC dalam menindaklanjuti alert.
5. Risiko terhadap Sistem Produksi
Aktivitas simulasi serangan harus direncanakan dengan baik. Pengujian yang tidak terkontrol dapat mengganggu sistem produksi.
6. Kurangnya Dokumentasi
Setiap pengujian sebaiknya memiliki dokumentasi mengenai teknik yang diuji, hasil deteksi, gap yang ditemukan, tindakan perbaikan, dan hasil validasi ulang.
Agar Purple Team memberikan hasil yang optimal, organisasi dapat menerapkan beberapa praktik berikut.
Tentukan Tujuan yang Terukur
Jangan hanya menetapkan tujuan seperti “menguji keamanan”. Buat tujuan yang lebih jelas, misalnya: Menguji apakah SOC mampu mendeteksi teknik adversary tertentu dalam lingkungan endpoint.
Gunakan Skenario yang Relevan
Pilih teknik yang berkaitan dengan threat landscape dan aset organisasi.
Gunakan ATT&CK sebagai Referensi
ATT&CK dapat membantu menyusun bahasa dan pemetaan teknik yang lebih konsisten antara tim ofensif dan defensif.
Dokumentasikan Detection Gap
Setiap aktivitas yang tidak terdeteksi perlu dicatat agar dapat ditindaklanjuti.
Lakukan Retest
Perbaikan belum dapat dianggap efektif hanya karena detection rule sudah dibuat. Lakukan pengujian ulang untuk memastikan bahwa perubahan tersebut benar-benar meningkatkan kemampuan deteksi.
Ukur Hasil
Hasil Purple Team sebaiknya dapat diukur, misalnya melalui:
Purple Team dapat memberikan manfaat bagi berbagai organisasi yang ingin meningkatkan kemampuan cybersecurity, tetapi skala implementasinya dapat berbeda.
Organisasi besar dengan SOC internal mungkin memiliki Red Team dan Blue Team sendiri. Sementara itu, organisasi yang lebih kecil dapat melakukan pendekatan yang lebih sederhana dengan melibatkan tim security internal dan pihak eksternal. Hal yang paling penting bukan ukuran tim, melainkan adanya:
Purple Team adalah pendekatan cybersecurity yang menggabungkan aktivitas ofensif Red Team dan defensif Blue Team untuk menguji serta meningkatkan kemampuan keamanan organisasi. Pendekatan ini menekankan kolaborasi, feedback, validasi detection, dan perbaikan pertahanan secara berulang.
Berbeda dengan Red Team yang berfokus pada simulasi adversary atau Blue Team yang berfokus pada pertahanan, Purple Team mempertemukan kedua fungsi tersebut agar organisasi dapat mengetahui apakah aktivitas serangan benar-benar terlihat, terdeteksi, dan dapat direspons dengan baik.
Penggunaan MITRE ATT&CK dapat membantu Purple Team memetakan teknik adversary, menyusun skenario pengujian, serta menghubungkan hasil simulasi dengan kebutuhan detection dan threat hunting.
Pada akhirnya, nilai utama Purple Team bukan sekadar berhasil atau tidaknya sebuah simulasi serangan. Yang lebih penting adalah seberapa banyak organisasi belajar dari pengujian tersebut dan seberapa baik hasilnya digunakan untuk memperkuat sistem pertahanan.
Dengan pendekatan yang terstruktur dan dilakukan secara berkala, Purple Team dapat membantu organisasi menemukan detection gap, meningkatkan kemampuan SOC, memperbaiki security control, serta membangun pertahanan yang lebih siap menghadapi teknik serangan yang terus berkembang.
Untuk mendapatkan informasi lain mengenai cybersecurity, teknologi, website, hosting, cloud, dan perkembangan digital, kunjungi Blog Hosteko sebagai sumber informasi teknologi yang informatif dan mudah dipahami.
Setelah mengetahui penyebab Windows belum aktif dan jenis lisensi yang tersedia, langkah berikutnya adalah melakukan…
Setelah memahami bahwa aktivasi Windows membutuhkan lisensi digital atau product key yang valid, hal berikutnya…
Di era digital, berbagai aplikasi dan perangkat menghasilkan data secara terus-menerus. Data tersebut tidak hanya…
Salah satu pertanyaan yang sering muncul ketika Windows menampilkan notifikasi "Activate Windows" adalah apakah pengguna…
Penggunaan layanan cloud semakin menjadi bagian penting dalam operasional perusahaan. Aplikasi seperti SaaS, cloud storage,…
Ketika website mulai mendapatkan lebih banyak pengunjung, menggunakan resource yang lebih besar, atau membutuhkan performa…