Poster AI dan Minat Beli Produk Kuliner
Penggunaan AI dalam materi promosi makanan tidak selalu berdampak negatif. AI dapat membantu bisnis membuat dan memodifikasi materi visual dengan lebih efisien. Persoalan dapat muncul ketika visual yang dihasilkan membuat konsumen memiliki ekspektasi yang tidak sesuai dengan produk sebenarnya.
Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa faktor seperti keaslian visual, persepsi terhadap usaha penjual, persepsi rasa, dan kepercayaan dapat berkaitan dengan respons konsumen terhadap gambar makanan yang dibuat atau diberi label AI. Salah satu penelitian yang diterbitkan dalam British Food Journal pada 2026 menemukan bahwa label gambar yang dibuat AI menurunkan purchase intention dalam eksperimen yang dilakukan. Penurunan tersebut berkaitan dengan perceived image authenticity dan perceived effort, yang selanjutnya berhubungan dengan penurunan perceived taste. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa efek negatif label AI menjadi lebih kuat ketika terdapat price premium.
Namun, penelitian lain menunjukkan hasil yang berbeda. Sebuah studi konferensi tahun 2026 terhadap 204 konsumen Indonesia melaporkan bahwa AI-generated food images meningkatkan trust dan purchase intention dalam konteks penelitian tersebut. Studi itu juga menemukan bahwa perceived visual authenticity merupakan prediktor kuat terhadap trust dan secara langsung berkaitan dengan purchase intention.
Artinya, bukan sekadar “AI atau bukan AI” yang menentukan respons konsumen. Dampaknya dapat bergantung pada bagaimana visual tersebut digunakan, bagaimana konsumen menilai keasliannya, serta konteks produk dan pemasaran.
1. Visual Produk Tidak Sesuai dengan Produk Asli
Makanan merupakan produk yang memiliki keterbatasan ketika dipasarkan secara digital. Dalam pembelian online, konsumen tidak dapat mencium aroma, merasakan tekstur, mencicipi rasa, atau melihat makanan secara langsung sebelum melakukan pembelian.
Karena itu, foto atau gambar menjadi salah satu sumber informasi visual yang digunakan konsumen sebelum mengambil keputusan.
Masalah dapat terjadi ketika poster AI menampilkan makanan yang terlalu berbeda dari produk sebenarnya.
Misalnya, sebuah restoran menjual ayam geprek dengan porsi standar. Poster AI kemudian menampilkan ayam berukuran sangat besar, sambal yang terlihat melimpah, nasi yang tersusun sempurna, dan garnish yang sebenarnya tidak tersedia.
Secara visual, poster tersebut memang dapat terlihat lebih menarik. Tetapi setelah konsumen menerima produk sebenarnya, perbedaan tersebut dapat menciptakan kesenjangan antara ekspektasi dan pengalaman yang diterima.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Sensory Studies melibatkan 154 peserta. Para peserta melihat 10 gambar makanan, terdiri dari gambar yang dibuat AI dan gambar asli, kemudian menilai aspek seperti willingness to consume, healthiness, naturalness, appeal, dan persepsi terhadap penggunaan AI. Penelitian tersebut menemukan bahwa peserta dapat mengidentifikasi gambar yang dibuat menggunakan AI.
Temuan ini menunjukkan bahwa visual makanan bukan sekadar elemen dekoratif. Cara sebuah makanan ditampilkan dapat memengaruhi bagaimana konsumen mempersepsikan produk tersebut.
2. Hilangnya Kesan Autentik
Dalam pemasaran digital, persepsi terhadap keaslian dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penilaian konsumen.
Foto produk yang berasal dari makanan sebenarnya dapat membantu konsumen memperoleh gambaran mengenai bentuk, warna, ukuran, dan penyajian produk. Namun, foto asli pun dapat mengalami proses editing sehingga istilah “foto asli” tidak otomatis berarti tanpa manipulasi.
Sebaliknya, gambar AI dapat menghasilkan tampilan yang sangat terkontrol dan realistis, tetapi tetap berisiko tidak menggambarkan produk yang benar-benar dijual.
Penelitian British Food Journal menemukan bahwa perceived image authenticity merupakan salah satu mekanisme yang menjelaskan hubungan antara label AI dan purchase intention. Ketika gambar diberi label AI-generated, persepsi terhadap keaslian gambar dan usaha yang diberikan merchant dapat menurun. Perubahan tersebut kemudian berkaitan dengan persepsi terhadap rasa dan purchase intention.
Ini menarik karena konsumen sebenarnya tidak mencicipi makanan ketika melihat poster.
Namun, gambar dapat membentuk ekspektasi mengenai:
- apakah makanan terlihat enak;
- apakah makanan terlihat segar;
- apakah tampilan produk terasa sesuai dengan harga;
- apakah bisnis tersebut terlihat kredibel;
- dan apakah produk yang diterima nantinya akan menyerupai visual promosi.
Dengan demikian, keaslian visual dapat menjadi salah satu penghubung antara gambar promosi dan persepsi konsumen terhadap produk.
3. Poster AI yang Terlalu Sempurna Bisa Menurunkan Kepercayaan
AI mampu menghasilkan gambar makanan dengan warna, pencahayaan, dan komposisi yang sangat terkontrol. Namun, visual yang terlalu berbeda dari kondisi nyata dapat berisiko menimbulkan persepsi bahwa gambar tersebut kurang natural.
Penelitian Journal of Sensory Studies menunjukkan bahwa peserta penelitian dapat mengidentifikasi gambar makanan yang dibuat AI. Penelitian tersebut juga menemukan hubungan negatif antara persepsi terhadap penggunaan AI dan beberapa penilaian terhadap gambar makanan, termasuk willingness to consume, healthiness, naturalness, dan appeal.
Di sisi lain, penelitian mengenai AI-generated content secara umum menunjukkan bahwa asal-usul konten dapat memengaruhi persepsi authenticity dan trust. Studi 2026 di Journal of Theoretical and Applied Electronic Commerce Research, misalnya, membandingkan review tanpa informasi AI, review berlabel AI-assisted, dan review berlabel AI-generated. Dalam studi tersebut, review berlabel AI-generated memperoleh tingkat trust dan perceived authenticity yang lebih rendah dibandingkan skenario tanpa informasi AI. Namun, penelitian ini berfokus pada user-generated reviews di digital marketplaces, bukan poster makanan, sehingga hasilnya tidak boleh dianggap sebagai bukti langsung mengenai seluruh materi promosi kuliner.
Karena itu, penggunaan AI secara berlebihan berpotensi membuat komunikasi visual sebuah bisnis terasa kurang personal atau kurang khas, tetapi dampaknya tetap bergantung pada konteks dan cara teknologi tersebut digunakan.
4. Kejenuhan terhadap Visual AI dan Gaya yang Terlalu Generik
Salah satu tantangan lain adalah semakin banyaknya konten generatif di internet.
Ketika banyak bisnis menggunakan gaya visual yang serupa—misalnya makanan yang sangat mengilap, pencahayaan dramatis, background mewah, dan komposisi yang sangat sempurna—konten tersebut berpotensi kehilangan keunikan.
Konsumen dapat melihat poster tersebut bukan sebagai representasi khas sebuah restoran, tetapi sebagai salah satu dari banyak konten digital dengan gaya visual yang serupa.
Fenomena kejenuhan terhadap konten AI juga mulai terlihat di luar industri makanan. The Wall Street Journal melaporkan bahwa sejumlah brand menggunakan pesan “No AI” sebagai cara untuk menonjolkan authenticity di tengah meningkatnya penggunaan konten generatif. Cint, yang menjadi sumber data yang dikutip dalam pemberitaan tersebut, juga melaporkan meningkatnya perhatian konsumen terhadap pengungkapan penggunaan AI dalam pemasaran.
Dalam bisnis kuliner, hal ini dapat menjadi pertimbangan karena makanan memiliki karakter visual yang sangat berkaitan dengan identitas produk dan restoran.
Foto nasi goreng yang diambil langsung dari dapur restoran mungkin tidak terlihat sesempurna gambar AI, tetapi dapat membantu menunjukkan karakter penyajian dan identitas visual restoran tersebut.
5. Konsumen Dapat Mempertanyakan Usaha yang Diberikan Penjual
Ada faktor lain yang cukup menarik, yaitu perceived effort atau persepsi mengenai seberapa besar usaha yang diberikan penjual untuk menghasilkan produk dan materi promosinya.
Penelitian yang diterbitkan dalam British Food Journal menemukan bahwa label gambar AI tidak hanya berkaitan dengan penurunan perceived image authenticity, tetapi juga memengaruhi penilaian konsumen terhadap effort merchant. Perceived effort dan perceived image authenticity kemudian menjadi bagian dari mekanisme yang berkaitan dengan perceived taste dan purchase intention.
Hubungannya lebih tepat digambarkan sebagai:
Label AI → perceived authenticity/perceived effort → perceived taste → purchase intention
Namun, hubungan tersebut tidak selalu negatif pada setiap bentuk penggunaan AI.
Jika AI hanya digunakan untuk membantu sebagian proses desain, sedangkan foto makanan tetap berasal dari produk sebenarnya, respons konsumen dapat berbeda dari kondisi ketika seluruh gambar produk dibuat menggunakan AI. Penelitian mengenai AI-assisted content juga menunjukkan bahwa tingkat keterlibatan AI dapat menghasilkan persepsi yang berbeda dibandingkan konten yang sepenuhnya dibuat AI.
6. Harga Produk Bisa Memperkuat Efek Negatif
Menariknya, penelitian yang diterbitkan dalam British Food Journal menemukan bahwa efek negatif label gambar AI terhadap purchase intention menjadi lebih kuat ketika terdapat price premium.
Temuan ini penting untuk bisnis yang menjual produk dengan harga relatif tinggi.
Misalnya:
Restoran A
Harga: Rp20.000
Poster: foto makanan asli.
Restoran B
Harga: Rp45.000
Poster: gambar AI yang sangat sempurna, tetapi produk sebenarnya terlihat biasa.
Dalam situasi seperti ini, ketidaksesuaian antara visual promosi dan pengalaman nyata dapat menjadi lebih bermasalah karena konsumen membayar harga premium.
Namun, contoh tersebut merupakan ilustrasi, bukan hasil langsung dari perbandingan restoran seharga Rp20.000 dan Rp45.000. Temuan penelitian yang sebenarnya adalah bahwa price premium memperkuat efek negatif label AI terhadap purchase intention dalam eksperimen yang dilakukan.
Oleh karena itu, penggunaan AI untuk mempromosikan produk premium perlu dilakukan dengan lebih hati-hati.
7. AI Tidak Selalu Menurunkan Minat Beli
Penting untuk tidak membuat kesimpulan bahwa setiap penggunaan gambar AI pasti merugikan bisnis kuliner.
Sebuah studi konferensi tahun 2026 yang melibatkan 204 konsumen Indonesia melaporkan bahwa AI-generated food images secara signifikan meningkatkan trust dan purchase intention dalam konteks penelitian tersebut. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa perceived visual authenticity menjadi prediktor kuat terhadap trust dan secara langsung meningkatkan purchase intention.
Namun, hasil tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Penelitian menggunakan survei berbasis skenario dan memiliki keterbatasan dalam menggambarkan perilaku pembelian nyata.
Artinya, masalah utamanya bukan:
“Apakah gambar dibuat menggunakan AI?”
Melainkan:
“Apakah gambar tersebut terlihat autentik, kredibel, dan memberikan gambaran yang masuk akal mengenai produk sebenarnya?”
Perbedaan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dampak AI terhadap perilaku konsumen dapat berbeda berdasarkan konteks penelitian, bentuk keterlibatan AI, karakteristik visual, persepsi authenticity, dan karakteristik konsumen.
8. Jangan Menggunakan AI untuk Menggantikan Foto Produk Asli Sepenuhnya
Untuk bisnis kuliner, pendekatan yang lebih hati-hati adalah menjadikan AI sebagai alat bantu, bukan selalu sebagai pengganti total foto produk.
Contohnya:
Foto asli + AI untuk background
Foto makanan tetap menggunakan produk sebenarnya, sedangkan AI digunakan untuk mengubah atau membuat latar belakang. Teknologi seperti Adobe Firefly memang menyediakan fitur untuk menambah, mengganti, atau memperluas elemen tertentu pada foto menggunakan generative AI.
Foto asli + AI untuk editing
AI dapat digunakan untuk menghapus objek yang mengganggu atau melakukan perubahan tertentu pada foto. Adobe, misalnya, menyediakan fitur Generative Remove untuk menghapus objek atau area tertentu dari gambar.
Foto asli + desain AI
Produk tetap berasal dari foto nyata, sementara AI dapat membantu menghasilkan konsep visual, variasi desain, atau elemen pendukung.
Pendekatan seperti ini dapat membantu bisnis memperoleh manfaat efisiensi dari AI sambil tetap mempertahankan representasi produk yang lebih dekat dengan kondisi sebenarnya.
9. Gunakan AI Secara Transparan dan Proporsional
Transparansi menjadi semakin penting ketika teknologi generatif semakin umum.
Di Uni Eropa, kewajiban transparansi tertentu dalam Article 50 AI Act mulai berlaku pada 2 Agustus 2026. European Commission menjelaskan bahwa aturan tersebut mencakup kewajiban transparansi untuk kategori sistem dan konten tertentu, termasuk penandaan atau pendeteksian konten yang dibuat atau dimanipulasi AI serta kewajiban tertentu terkait deepfake.
Namun, aturan tersebut tidak berarti setiap gambar yang dibuat AI secara otomatis harus diberi label dengan cara yang sama. Article 50 memiliki cakupan, kewajiban, dan pengecualian tertentu. Misalnya, kewajiban bagi deployer terkait gambar atau video terutama berkaitan dengan konten yang termasuk deepfake, sedangkan provider memiliki kewajiban teknis tertentu untuk menandai output AI secara machine-readable.
Aturan Uni Eropa tersebut juga tidak berarti setiap bisnis kuliner di Indonesia secara otomatis wajib mematuhi AI Act. Penerapannya berkaitan dengan ruang lingkup hukum Uni Eropa dan pihak yang tercakup dalam regulasi tersebut.
Meskipun demikian, perkembangan regulasi ini menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap transparansi mengenai asal-usul konten digital.
Untuk bisnis kuliner, prinsip transparansinya dapat diterapkan secara sederhana: jangan membuat gambar AI seolah-olah merupakan foto produk sebenarnya jika gambar tersebut menampilkan karakteristik produk yang sebenarnya tidak tersedia.
10. Jadi, Apakah Poster AI Membuat Konsumen Tidak Mau Membeli?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Bukti penelitian saat ini menunjukkan hasil yang beragam.
Penelitian dalam British Food Journal menemukan bahwa label gambar AI dapat menurunkan purchase intention melalui perceived image authenticity dan perceived effort, yang kemudian berkaitan dengan perceived taste. Efek tersebut juga menjadi lebih kuat ketika terdapat price premium.
Namun, studi konferensi terhadap 204 konsumen Indonesia menemukan hasil berbeda dalam konteks penelitiannya: AI-generated food images dilaporkan meningkatkan trust dan purchase intention, dengan perceived visual authenticity sebagai salah satu prediktor penting.
Karena itu, kesimpulan yang lebih akurat adalah:
Poster AI dapat memengaruhi minat beli produk kuliner melalui persepsi konsumen terhadap keaslian, kredibilitas, kualitas, dan kepercayaan. Dampaknya dapat positif maupun negatif tergantung konteks dan bagaimana teknologi tersebut digunakan.
Hal ini berbeda dengan mengatakan bahwa:
“Poster AI menyebabkan daya beli masyarakat turun.”
Daya beli merupakan persoalan ekonomi yang jauh lebih luas dan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pendapatan, harga, inflasi, kondisi ekonomi, dan kebutuhan konsumen. Poster AI lebih tepat dibahas sebagai salah satu faktor komunikasi pemasaran yang dapat memengaruhi persepsi dan purchase intention terhadap produk tertentu.
Kesimpulan
Poster AI dapat menjadi alat pemasaran yang berguna, tetapi penggunaannya pada produk kuliner memiliki tantangan khusus. Konsumen tidak hanya melihat apakah makanan terlihat menarik, tetapi juga dapat mempertimbangkan apakah visual tersebut terlihat jujur, autentik, kredibel, dan sesuai dengan produk yang sebenarnya.
Riset terbaru menunjukkan bahwa perceived authenticity, perceived effort, perceived taste, trust, dan price premium dapat berperan dalam hubungan antara gambar AI dan purchase intention. Namun, arah dan besarnya efek tidak selalu sama pada setiap penelitian dan konteks.
Karena itu, bisnis kuliner sebaiknya tidak mengejar visual yang “paling sempurna”, tetapi visual yang menarik sekaligus memberikan representasi yang dapat dipercaya mengenai produk.
Dalam konteks ini, foto produk asli tetap memiliki nilai penting. AI dapat digunakan untuk mempercepat proses desain, membuat variasi kreatif, serta membantu melakukan editing tertentu, tetapi penggunaannya sebaiknya tidak menciptakan ekspektasi produk yang sulit dipenuhi.
Pada Bagian berikutnya, pembahasan dapat diarahkan pada pertanyaan yang lebih penting: apakah benar penurunan pembelian makanan disebabkan oleh poster AI, atau sebenarnya terdapat faktor ekonomi dan pemasaran lain yang lebih dominan?
Ingin mempelajari lebih banyak seputar web development, cloud computing, keamanan siber, server, hingga berbagai tren teknologi terbaru? Kunjungi blog Hosteko untuk mendapatkan artikel yang informatif, mudah dipahami, dan selalu diperbarui mengikuti perkembangan dunia digital.
Jangan lewatkan berbagai panduan, tips, serta tutorial yang dapat membantu Anda mengembangkan website, meningkatkan performa bisnis online, dan memperluas wawasan di bidang teknologi. Temukan artikel menarik lainnya hanya di Hosteko Blog dan terus ikuti informasi terbaru untuk mendukung perjalanan digital Anda.
