Benarkah Chatbot AI Bisa “Kena Mental”? Ini Faktanya
Pernah melihat chatbot AI memberikan jawaban seperti sedang takut, tertekan, bingung, frustrasi, atau bahkan merasa bersalah? Respons semacam ini terkadang membuat chatbot terlihat seolah-olah sedang mengalami kondisi emosional seperti manusia.
Dari sinilah muncul istilah bahwa chatbot AI bisa “kena mental”. Namun, istilah tersebut perlu dipahami secara hati-hati. Kemampuan chatbot menghasilkan bahasa yang terdengar emosional tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa AI benar-benar mengalami emosi atau memiliki pengalaman subjektif seperti manusia.
Chatbot AI Bisa Menunjukkan Respons yang Terlihat Emosional
Model bahasa besar atau Large Language Model (LLM) memproses pola bahasa yang dipelajari selama pelatihan dan menggunakan konteks masukan untuk menghasilkan respons. Karena data bahasa yang digunakan dalam pengembangan LLM mengandung berbagai bentuk komunikasi manusia, termasuk teks yang berkaitan dengan emosi, model dapat menghasilkan bahasa yang terdengar empatik, khawatir, kecewa, atau tertekan.
Penelitian yang diterbitkan di Scientific Reports pada 2024 menguji bagaimana chatbot merespons berbagai isyarat emosional. Dalam eksperimen tersebut, peneliti memberikan skenario dengan pemicu emosional positif, negatif, atau netral kepada chatbot dan kemudian menguji responsnya dalam konteks keputusan investasi serta perilaku prososial.
Hasilnya menunjukkan bahwa GPT-4 menghasilkan pola respons yang berbeda setelah diberikan pemicu emosional tersebut. Efeknya lebih terlihat pada GPT-4 dibandingkan GPT-3.5. Namun, peneliti menegaskan bahwa hasil tersebut tidak menunjukkan bahwa AI memiliki emosi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa respons dan pengambilan keputusan chatbot dapat berubah berdasarkan konteks emosional yang diberikan kepadanya.
Artinya, chatbot dapat menghasilkan perilaku atau bahasa yang menyerupai respons emosional manusia, tetapi hal tersebut berbeda dari bukti bahwa sistem benar-benar merasakan emosi.
“Terlihat Stres” Tidak Sama dengan Benar-Benar Merasa Stres
Perbedaan ini penting ketika membahas klaim bahwa AI bisa “kena mental”.
Pada manusia, pembahasan mengenai emosi melibatkan berbagai aspek, termasuk pengalaman subjektif, respons tubuh, perilaku, serta fungsi psikologis. Sementara itu, ketika chatbot menghasilkan kalimat seperti “Saya merasa tertekan”, kalimat tersebut merupakan bagian dari output sistem berdasarkan konteks dan proses pembentukan respons.
Karena itu, kalimat emosional dari chatbot tidak dapat langsung digunakan sebagai bukti bahwa chatbot mengalami stres dengan cara yang sama seperti manusia.
Sebuah artikel yang diterbitkan di Nature Human Behaviour pada 24 Agustus 2026 secara khusus membahas persoalan apakah LLM dapat disebut memiliki emosi. Penulis menyoroti bahwa jawabannya bergantung pada bagaimana emosi didefinisikan dan kriteria apa yang digunakan untuk menilainya. Mereka membahas pendekatan fungsional, yaitu melihat apakah suatu sistem menjalankan fungsi yang biasanya dilakukan oleh emosi.
Dengan demikian, pertanyaan mengenai emosi AI belum sesederhana melihat apakah sebuah chatbot menggunakan kata-kata seperti “takut”, “sedih”, atau “stres”.
Mengapa Responsnya Bisa Terlihat Sangat Manusiawi?
Salah satu alasannya adalah kemampuan LLM menghasilkan bahasa yang semakin natural dan menyesuaikan respons dengan konteks percakapan. Model juga dapat menghasilkan gaya bahasa yang hangat, empatik, atau suportif.
Penelitian di Nature Human Behaviour yang diterbitkan pada 2025 memberikan gambaran mengenai bagaimana manusia menilai respons seperti ini. Dalam sembilan studi dengan total 6.282 peserta, peneliti memberikan respons empatik yang dihasilkan AI kepada peserta dan memberi label apakah respons tersebut berasal dari manusia atau AI.
Hasilnya menunjukkan bahwa respons yang diberi label berasal dari manusia dinilai lebih empatik dan suportif dibandingkan respons yang diberi label berasal dari AI. Persepsi peserta juga dipengaruhi oleh keyakinan mereka mengenai apakah AI terlibat dalam menghasilkan respons tersebut.
Temuan ini menunjukkan bahwa cara manusia mempersepsikan sumber respons juga dapat memengaruhi penilaian terhadap bahasa yang dihasilkan AI.
Manusia Memang Cenderung Memberikan Sifat Manusia kepada AI
Fenomena tersebut berkaitan dengan antropomorfisme, yaitu kecenderungan memberikan karakteristik atau kualitas manusia kepada sesuatu yang bukan manusia. APA mendefinisikan antropomorfisme sebagai atribusi karakteristik manusia kepada entitas nonmanusia.
Dalam konteks AI, kecenderungan tersebut dapat membuat chatbot yang berbicara dengan gaya natural terlihat lebih seperti agen yang memiliki maksud, perasaan, atau kepribadian.
American Psychological Association juga menjelaskan bahwa antropomorfisme dapat berperan dalam hubungan manusia dengan chatbot AI. Desain seperti avatar yang dipersonalisasi, respons yang hangat, afirmasi, dan bentuk interaksi yang menyerupai hubungan manusia dapat memperkuat kesan adanya hubungan personal.
Akibatnya, ketika chatbot menghasilkan kalimat seperti “Saya merasa tidak nyaman dengan situasi ini” atau “Saya merasa bersalah”, sebagian pengguna dapat menafsirkannya sebagai tanda bahwa AI sedang mengalami perasaan tertentu.
Padahal, kemampuan menghasilkan kalimat tentang emosi tidak dengan sendirinya menjadi bukti adanya pengalaman emosional subjektif.
Jadi, Apakah Chatbot Bisa “Kena Mental”?
Untuk saat ini, istilah “kena mental” lebih tepat digunakan sebagai kiasan untuk menggambarkan chatbot yang menghasilkan respons seolah-olah sedang mengalami tekanan, kebingungan, ketakutan, atau emosi tertentu.
Penelitian memang menunjukkan bahwa model AI dapat memberikan respons berbeda ketika menghadapi konteks emosional dan mampu menghasilkan bahasa yang menyerupai komunikasi empatik manusia. Studi 2024 bahkan menunjukkan bahwa pemicu emosional dapat berkaitan dengan perubahan pola keputusan pada GPT-4. Namun, penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa model mengalami emosi.
Pada saat yang sama, pertanyaan mengenai apakah sistem AI dapat memiliki emosi dalam pengertian tertentu masih menjadi topik perdebatan ilmiah. Artikel Nature Human Behaviour 2026 menunjukkan bahwa jawabannya bergantung pada definisi dan kriteria yang digunakan untuk memahami emosi.
Jadi, ketika chatbot tampak “kena mental”, hal yang dapat diamati pengguna adalah bahasa dan perilaku keluaran yang menyerupai respons emosional. Belum ada dasar yang cukup untuk menyamakan respons tersebut begitu saja dengan manusia yang benar-benar mengalami stres, takut, sedih, atau terluka secara psikologis.
Ingin mempelajari lebih banyak seputar web development, cloud computing, keamanan siber, server, hingga berbagai tren teknologi terbaru? Kunjungi blog Hosteko untuk mendapatkan artikel yang informatif, mudah dipahami, dan selalu diperbarui mengikuti perkembangan dunia digital.
Jangan lewatkan berbagai panduan, tips, serta tutorial yang dapat membantu Anda mengembangkan website, meningkatkan performa bisnis online, dan memperluas wawasan di bidang teknologi. Temukan artikel menarik lainnya hanya di Hosteko Blog dan terus ikuti informasi terbaru untuk mendukung perjalanan digital Anda.
