(0275) 2974 127
Perkembangan teknologi membuat infrastruktur digital organisasi semakin kompleks. Penggunaan cloud, aplikasi SaaS, perangkat endpoint, sistem hybrid, layanan pihak ketiga, hingga akses remote membuat attack surface terus berkembang. Di sisi lain, tim keamanan harus menghadapi semakin banyak vulnerability, misconfiguration, identity risk, dan potensi attack path yang dapat dimanfaatkan oleh penyerang.
Masalahnya, menemukan banyak celah keamanan tidak selalu berarti organisasi sudah mampu mengurangi risiko secara efektif. Tim keamanan dapat memiliki ribuan temuan dari berbagai tools, tetapi sumber daya untuk memperbaikinya tetap terbatas.
Karena itu, organisasi membutuhkan pendekatan yang dapat menentukan exposure mana yang benar-benar berisiko dan harus ditangani terlebih dahulu. Salah satu pendekatan yang digunakan untuk menjawab kebutuhan tersebut adalah Continuous Threat Exposure Management (CTEM).
Continuous Threat Exposure Management (CTEM) adalah pendekatan keamanan siber yang membantu organisasi secara terus-menerus mengidentifikasi, memprioritaskan, memvalidasi, dan mengurangi exposure terhadap ancaman siber.
CTEM diperkenalkan Gartner sebagai kerangka kerja dengan lima tahapan utama, yaitu Scoping, Discovery, Prioritization, Validation, dan Mobilization. Kelima tahap tersebut membentuk siklus berkelanjutan yang bertujuan mengarahkan sumber daya keamanan pada risiko yang paling relevan terhadap bisnis.
Berbeda dengan pendekatan keamanan yang hanya melakukan vulnerability assessment secara berkala, CTEM menekankan proses yang berkelanjutan, berbasis risiko, dan berorientasi pada tindakan. Fokusnya bukan sekadar menghitung berapa banyak vulnerability yang ditemukan, tetapi menentukan exposure mana yang benar-benar dapat memberikan dampak terhadap organisasi.
Dengan kata lain, CTEM membantu menjawab pertanyaan penting seperti:
“Dari semua exposure yang ditemukan, mana yang paling mungkin dimanfaatkan attacker dan paling berbahaya bagi bisnis?”
Salah satu tantangan utama dalam cybersecurity modern adalah jumlah temuan keamanan yang sangat besar. Vulnerability scanner, cloud security tools, endpoint security, attack surface management, dan berbagai tools lainnya dapat menghasilkan banyak informasi. Namun, tidak semua temuan memiliki tingkat risiko yang sama.
Sebuah vulnerability dengan severity tinggi belum tentu menjadi ancaman terbesar jika aset tersebut tidak dapat dijangkau attacker atau berada di sistem yang tidak terlalu penting. Sebaliknya, vulnerability dengan severity lebih rendah dapat menjadi sangat berbahaya jika terdapat pada sistem penting yang terhubung dengan aset lain dan dapat menjadi bagian dari attack path.
CTEM membantu organisasi melihat risiko berdasarkan konteks, exploitability, criticality aset, attack path, dan kondisi keamanan lainnya, bukan hanya berdasarkan satu skor vulnerability. Pendekatan ini juga membantu mengurangi masalah alert fatigue dan backlog remediation karena tim dapat lebih fokus pada exposure yang memiliki dampak paling signifikan.
Tujuan utama CTEM adalah mengurangi exposure keamanan yang paling berisiko secara berkelanjutan. CTEM tidak bertujuan membuat organisasi memperbaiki semua vulnerability sekaligus. Hal tersebut biasanya tidak realistis, terutama pada organisasi dengan infrastruktur besar.
Sebaliknya, CTEM membantu menentukan prioritas berdasarkan kondisi nyata lingkungan organisasi. Dengan pendekatan tersebut, security team dapat mengalokasikan sumber daya untuk exposure yang paling mungkin dimanfaatkan dan paling berdampak terhadap aset atau proses bisnis penting. Secara sederhana, tujuan CTEM dapat dirangkum sebagai berikut:
| Tujuan | Penjelasan |
|---|---|
| Meningkatkan visibility | Mengetahui aset dan exposure yang ada dalam lingkungan organisasi |
| Menentukan prioritas | Memilih exposure yang paling penting untuk ditangani |
| Memvalidasi risiko | Memastikan exposure benar-benar dapat dieksploitasi atau memberikan risiko nyata |
| Mempercepat remediation | Menghubungkan temuan dengan tim yang bertanggung jawab untuk memperbaikinya |
| Mengurangi exposure | Mengukur apakah risiko keamanan benar-benar berkurang |
| Meningkatkan keamanan berkelanjutan | Mengulangi proses secara terus-menerus mengikuti perubahan attack surface |
CTEM bekerja sebagai sebuah siklus, bukan proses yang hanya dilakukan satu kali. Setelah organisasi menyelesaikan tahap mobilization dan melakukan remediation, lingkungan akan berubah kembali. Aset baru dapat muncul, konfigurasi dapat berubah, aplikasi dapat diperbarui, dan ancaman baru dapat berkembang.
Karena itu, siklus CTEM kembali dilakukan untuk menemukan exposure baru dan mengevaluasi apakah exposure sebelumnya benar-benar sudah berkurang.
Secara umum, alurnya adalah: Scoping → Discovery → Prioritization → Validation → Mobilization → kembali ke Scoping
Lima tahapan tersebut merupakan inti dari kerangka CTEM.
1. Scoping
Scoping adalah tahap untuk menentukan bagian mana dari lingkungan organisasi yang akan menjadi fokus CTEM. Pada tahap ini, organisasi tidak langsung mencoba menganalisis seluruh aset, tetapi menentukan area yang paling penting berdasarkan kebutuhan bisnis dan risiko.
Organisasi dapat menentukan aset kritis, aplikasi penting, layanan yang terhubung ke internet, lingkungan cloud, data sensitif, atau proses bisnis tertentu sebagai bagian dari scope.
Scoping penting karena CTEM seharusnya tidak berubah menjadi aktivitas untuk memeriksa segala sesuatu tanpa prioritas. Dengan menentukan scope yang jelas, organisasi dapat memusatkan sumber daya pada area yang memiliki dampak paling besar.
Sebagai contoh, perusahaan e-commerce dapat memulai CTEM dari sistem pembayaran, aplikasi utama, database pelanggan, dan aset yang dapat diakses dari internet.
2. Discovery
Setelah scope ditentukan, tahap berikutnya adalah Discovery. Pada tahap ini, organisasi berusaha mendapatkan gambaran mengenai aset dan exposure yang terdapat di dalam scope tersebut.
Discovery tidak hanya mencari CVE atau vulnerability. Exposure dapat mencakup misconfiguration, identity weakness, exposed services, cloud security issue, SaaS posture problem, third-party risk, maupun kondisi lain yang dapat meningkatkan peluang serangan.
Tujuan tahap ini adalah membangun visibility yang lebih baik mengenai apa yang dimiliki organisasi dan masalah keamanan apa saja yang terdapat di dalamnya. Hasil discovery kemudian menjadi dasar untuk menentukan exposure mana yang perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.
3. Prioritization
Jumlah exposure yang ditemukan dapat sangat banyak sehingga organisasi tidak mungkin memperbaiki semuanya dalam waktu yang sama. Karena itu, CTEM memiliki tahap Prioritization untuk menentukan exposure mana yang harus ditangani terlebih dahulu.
Prioritas tidak hanya ditentukan berdasarkan severity seperti CVSS. CTEM juga mempertimbangkan faktor seperti exploitability, business criticality, attack path, accessibility, threat intelligence, dan kontrol keamanan yang sudah tersedia.
Misalnya, sebuah vulnerability dengan skor tinggi pada server yang tidak dapat diakses dari jaringan luar mungkin memiliki prioritas berbeda dengan vulnerability yang lebih rendah tetapi terdapat pada server publik yang terhubung langsung dengan sistem penting. Dengan pendekatan ini, tim keamanan dapat lebih fokus pada exposure yang memiliki risiko nyata terhadap bisnis.
4. Validation
Validation merupakan salah satu bagian penting yang membedakan CTEM dari pendekatan vulnerability management tradisional.
Pada tahap ini, organisasi berusaha memastikan apakah exposure yang sudah diprioritaskan benar-benar dapat dieksploitasi dalam kondisi lingkungan yang sebenarnya. Validasi dapat dilakukan melalui penetration testing, attack simulation, red teaming, adversary emulation, atau metode pengujian lainnya yang sesuai dengan kebutuhan dan batasan organisasi.
Validation membantu menjawab pertanyaan seperti apakah aset benar-benar dapat dijangkau attacker, apakah vulnerability dapat dieksploitasi, apakah terdapat attack path menuju aset penting, dan apakah kontrol keamanan yang tersedia mampu mencegah atau mendeteksi serangan. Dengan demikian, organisasi tidak hanya mengandalkan asumsi berdasarkan hasil scanner.
5. Mobilization
Tahap terakhir adalah Mobilization, yaitu mengubah hasil analisis dan validasi menjadi tindakan nyata.
Pada tahap ini, exposure yang telah diprioritaskan dan divalidasi diteruskan kepada tim yang bertanggung jawab untuk melakukan remediation. Bentuk tindakannya dapat berupa patching, perubahan konfigurasi, penghapusan akses yang tidak diperlukan, penerapan security control, atau perbaikan arsitektur.
Mobilization juga membutuhkan koordinasi antara security team, IT, developer, infrastructure team, cloud team, dan pihak lain yang terkait. Karena itu, CTEM bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga berkaitan dengan proses kerja dan kolaborasi antar tim. Setelah remediation dilakukan, hasilnya perlu divalidasi kembali untuk memastikan exposure benar-benar sudah berkurang atau ditutup.
CTEM sering dikaitkan dengan vulnerability management, tetapi keduanya tidak sepenuhnya sama. Vulnerability management biasanya berfokus pada proses menemukan, menilai, memprioritaskan, dan memperbaiki vulnerability.
CTEM memperluas pendekatan tersebut dengan mempertimbangkan exposure yang lebih luas, validasi terhadap risiko nyata, konteks bisnis, dan proses remediation secara berkelanjutan.
| Aspek | Vulnerability Management | CTEM |
|---|---|---|
| Fokus | Vulnerability | Security exposure secara lebih luas |
| Pendekatan | Identifikasi dan remediation | Identifikasi, prioritas, validasi, dan remediation |
| Prioritas | Sering menggunakan severity | Mempertimbangkan risiko dan konteks bisnis |
| Validation | Tidak selalu menjadi bagian utama | Menjadi salah satu tahap penting |
| Attack path | Dapat digunakan, tetapi tidak selalu menjadi fokus | Dapat menjadi bagian penting dalam penilaian exposure |
| Siklus | Dapat dilakukan secara berkala | Dirancang sebagai siklus berkelanjutan |
| Tujuan | Mengurangi vulnerability | Mengurangi exposure yang paling berisiko |
CTEM juga bukan pengganti penetration testing. Penetration testing merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk melakukan validation dalam CTEM.
Penetration testing biasanya berfokus pada pengujian keamanan tertentu dalam scope yang telah ditentukan. Sementara itu, CTEM merupakan program yang lebih luas karena mencakup scoping, discovery, prioritization, validation, hingga mobilization.
| Aspek | Penetration Testing | CTEM |
|---|---|---|
| Bentuk | Aktivitas pengujian keamanan | Program pengelolaan exposure |
| Fokus | Menemukan dan membuktikan kelemahan | Mengurangi exposure secara berkelanjutan |
| Frekuensi | Umumnya dilakukan secara berkala | Berjalan sebagai siklus berkelanjutan |
| Prioritization | Biasanya berdasarkan scope pengujian | Berbasis risiko dan konteks bisnis |
| Remediation workflow | Tidak selalu menjadi fokus utama | Menjadi bagian dari mobilization |
| Validation | Merupakan aktivitas utama | Salah satu dari lima tahap |
Dengan demikian, penetration testing dapat menjadi salah satu aktivitas pendukung CTEM, khususnya pada tahap validation.
CTEM dapat diterapkan untuk berbagai jenis exposure di lingkungan teknologi modern. Exposure tersebut tidak terbatas pada vulnerability software. Beberapa contoh area yang dapat menjadi bagian dari CTEM antara lain:
Vulnerability pada sistem operasi, aplikasi, library, dan komponen perangkat lunak dapat dianalisis sebagai bagian dari exposure management. Selain itu, misconfiguration pada server, cloud, firewall, database, dan layanan lainnya juga dapat menjadi perhatian.
CTEM juga dapat mencakup identity exposure, seperti akun dengan hak akses berlebihan, credential yang terekspos, atau akses yang tidak diperlukan. Pada lingkungan cloud dan SaaS, posture dan konfigurasi layanan juga dapat menjadi bagian dari discovery.
Selain itu, organisasi dapat menganalisis attack path yang menunjukkan bagaimana attacker berpotensi berpindah dari satu aset ke aset lainnya hingga mencapai sistem atau data yang lebih penting.
CTEM bukan sebuah produk atau satu jenis software tertentu. CTEM merupakan kerangka atau pendekatan operasional yang dapat menggunakan berbagai teknologi keamanan sebagai bagian dari prosesnya.
Beberapa teknologi yang dapat mendukung program CTEM antara lain Attack Surface Management (ASM), vulnerability management, cloud security tools, security posture management, identity security, penetration testing, breach and attack simulation (BAS), red teaming, threat intelligence, dan sistem ticketing atau ITSM.
Teknologi tersebut dapat menyediakan data yang kemudian digunakan dalam proses discovery, prioritization, validation, hingga mobilization.
Karena itu, organisasi tidak harus membeli satu produk bernama CTEM untuk mulai menerapkan prinsip CTEM. Yang lebih penting adalah membangun proses yang mampu menghubungkan data exposure dengan keputusan dan tindakan remediation.
Penerapan CTEM dapat memberikan beberapa manfaat bagi organisasi. Salah satunya adalah prioritas keamanan yang lebih jelas. Tim tidak harus memperlakukan semua vulnerability atau exposure dengan tingkat urgensi yang sama.
CTEM juga membantu meningkatkan visibility terhadap attack surface karena discovery dilakukan secara berkelanjutan. Perubahan infrastruktur, aset baru, konfigurasi baru, dan exposure baru dapat lebih cepat diketahui.
Manfaat lainnya adalah kemampuan untuk memvalidasi risiko secara lebih nyata. Tim keamanan dapat mengetahui apakah exposure tertentu benar-benar dapat dieksploitasi dan apakah kontrol keamanan yang diterapkan sudah efektif.
CTEM juga membantu memperkuat kolaborasi antara security dan IT karena hasil security assessment dapat diterjemahkan menjadi pekerjaan remediation yang memiliki owner dan prioritas yang jelas.
Pada akhirnya, keberhasilan CTEM seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah vulnerability yang ditemukan atau jumlah laporan yang dibuat, tetapi dari seberapa besar exposure yang benar-benar berhasil dikurangi.
Meskipun memiliki banyak manfaat, CTEM bukan pendekatan yang dapat diterapkan hanya dengan memasang sebuah security tool.
Salah satu tantangannya adalah data security yang tersebar di banyak sistem. Informasi mengenai aset, vulnerability, identity, cloud, endpoint, dan konfigurasi dapat berada pada tools yang berbeda sehingga diperlukan integrasi dan normalisasi data.
Tantangan berikutnya adalah menentukan prioritas yang tepat. Tim perlu memahami konteks bisnis dari setiap aset agar dapat membedakan exposure yang benar-benar kritis dari temuan yang memiliki risiko lebih rendah.
Validasi juga membutuhkan proses yang hati-hati. Pengujian exploitability harus dilakukan dengan memperhatikan scope, keamanan sistem produksi, aturan pengujian, dan kemungkinan dampaknya terhadap operasional.
Selain itu, CTEM membutuhkan kolaborasi lintas tim. Jika security team menemukan exposure tetapi tidak ada tim yang bertanggung jawab untuk melakukan remediation, proses CTEM tidak akan menghasilkan pengurangan risiko yang nyata.
Organisasi yang ingin menerapkan CTEM tidak harus langsung mencakup seluruh infrastruktur. Pendekatan yang lebih realistis adalah memulai dari scope yang terbatas tetapi memiliki nilai bisnis tinggi, kemudian memperluasnya secara bertahap.
Langkah pertama adalah menentukan aset dan proses bisnis yang paling penting. Setelah itu, organisasi dapat mengumpulkan informasi exposure melalui tools yang sudah tersedia dan melakukan discovery terhadap area yang telah ditentukan.
Tahap berikutnya adalah membuat metode prioritas berdasarkan faktor seperti criticality aset, exploitability, exposure, attack path, threat intelligence, dan kontrol yang tersedia. Exposure dengan risiko paling tinggi kemudian divalidasi untuk memastikan tingkat risikonya.
Hasil validasi diteruskan kepada tim yang bertanggung jawab untuk melakukan remediation. Setelah perbaikan dilakukan, organisasi perlu memastikan bahwa exposure benar-benar sudah tertutup dan kemudian mengulangi siklus tersebut. Dengan cara ini, CTEM dapat berkembang secara bertahap tanpa harus mengubah seluruh proses keamanan organisasi sekaligus.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan memiliki aplikasi e-commerce yang terhubung dengan database pelanggan dan sistem pembayaran.
Pada tahap Scoping, perusahaan menentukan aplikasi e-commerce dan sistem pembayaran sebagai area prioritas karena keduanya berhubungan langsung dengan proses bisnis penting.
Pada tahap Discovery, tim menemukan beberapa vulnerability, konfigurasi yang kurang aman, akun dengan hak akses berlebihan, dan server yang dapat diakses dari internet.
Selanjutnya, pada tahap Prioritization, tim menentukan bahwa exposure pada server publik yang memiliki jalur menuju sistem pembayaran memiliki prioritas lebih tinggi dibandingkan vulnerability pada server internal yang terisolasi.
Pada tahap Validation, tim melakukan pengujian untuk mengetahui apakah exposure tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan dan apakah kontrol keamanan yang tersedia mampu menghentikan serangan.
Setelah itu, tahap Mobilization dilakukan dengan mengoordinasikan patching, perubahan konfigurasi, pembatasan akses, atau perbaikan kontrol keamanan. Setelah remediation selesai, exposure diuji kembali dan siklus CTEM dilanjutkan.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa CTEM bukan hanya tentang menemukan vulnerability, tetapi tentang menentukan risiko yang paling penting, membuktikannya, dan memastikan tindakan perbaikan benar-benar mengurangi exposure.
CTEM dan exposure management memiliki hubungan yang sangat erat, tetapi istilah tersebut tidak selalu berarti hal yang sama.
Exposure management dapat dipahami sebagai pendekatan atau disiplin yang lebih luas untuk mengurangi kondisi keamanan yang dapat dimanfaatkan attacker. Sementara itu, CTEM merupakan kerangka operasional lima tahap yang membantu organisasi menjalankan exposure management secara terstruktur dan berkelanjutan.
Dengan demikian, CTEM dapat membantu mengubah konsep exposure management menjadi proses yang lebih sistematis, mulai dari menentukan scope hingga memastikan remediation dilakukan.
Bagi organisasi yang mengelola website, aplikasi, server, cloud, dan berbagai layanan digital, attack surface dapat berubah dengan cepat. Aplikasi baru dapat dirilis, server dapat ditambahkan, konfigurasi dapat berubah, pengguna baru dapat memperoleh akses, dan layanan pihak ketiga dapat terhubung ke lingkungan internal.
Kondisi tersebut membuat security assessment yang hanya dilakukan sesekali berpotensi tidak memberikan gambaran terbaru mengenai exposure organisasi.
CTEM menawarkan pendekatan yang lebih berkelanjutan dengan mengulang proses scoping, discovery, prioritization, validation, dan mobilization. Dengan begitu, organisasi dapat menyesuaikan pengelolaan keamanan dengan perubahan lingkungan dan ancaman yang terus berkembang.
Continuous Threat Exposure Management (CTEM) adalah pendekatan keamanan siber yang membantu organisasi mengidentifikasi, memprioritaskan, memvalidasi, dan mengurangi security exposure secara berkelanjutan. CTEM menggunakan lima tahapan utama, yaitu Scoping, Discovery, Prioritization, Validation, dan Mobilization.
CTEM bukan sekadar vulnerability scanning dan bukan pula sebuah produk keamanan tertentu. Pendekatan ini membantu organisasi menghubungkan berbagai informasi keamanan dengan konteks bisnis sehingga tim dapat fokus pada exposure yang memiliki risiko paling tinggi.
Dengan menerapkan CTEM secara konsisten, organisasi dapat membangun proses keamanan yang lebih terarah, proaktif, dan berorientasi pada pengurangan exposure nyata. Untuk memperluas wawasan mengenai cybersecurity, attack surface, threat intelligence, keamanan server, cloud, dan teknologi lainnya, Anda dapat membaca berbagai artikel informatif di Blog Hosteko yang membahas beragam topik teknologi dan keamanan digital.
Dalam jaringan komputer, sebuah server yang berada di dalam jaringan lokal biasanya dapat diakses menggunakan…
Setelah mengetahui apa itu Accurate, hal berikutnya yang perlu dipahami adalah fitur apa saja yang…
Dalam menjalankan bisnis, pencatatan transaksi menjadi salah satu aktivitas penting. Penjualan, pembelian, pengeluaran, persediaan, kas,…
Ketika mengakses sebuah website, kecepatan halaman untuk tampil di browser tidak hanya dipengaruhi oleh kualitas…
Dalam pengembangan software modern, tim developer dituntut untuk merilis perubahan dengan cepat tanpa mengorbankan stabilitas…
Salah satu keunggulan Termux adalah pengguna dapat menambahkan berbagai package sesuai kebutuhan. Package tersebut dapat…