HOTLINE

(0275) 2974 127

CHAT WA 24/7
0859-60000-390 (Sales)
0852-8969-9009 (Support)
Blog

Apa Itu Account-Based Marketing (ABM)? Strategi Account-Based Marketing untuk Bisnis

Dalam pemasaran B2B, tidak semua calon pelanggan memiliki nilai bisnis yang sama. Ada perusahaan yang berpotensi menghasilkan transaksi kecil dan cepat, tetapi ada pula akun yang dapat memberikan nilai kontrak besar, peluang kerja sama jangka panjang, atau membuka akses ke pasar yang strategis.

Kondisi tersebut membuat perusahaan membutuhkan pendekatan pemasaran yang lebih terarah. Salah satu strategi yang digunakan untuk tujuan tersebut adalah Account-Based Marketing (ABM).

Berbeda dengan pemasaran yang berusaha menjangkau sebanyak mungkin prospek, ABM berfokus pada sejumlah akun perusahaan yang telah dipilih berdasarkan potensi dan kesesuaiannya dengan bisnis. Tim marketing dan sales kemudian bekerja bersama untuk memberikan pengalaman, pesan, konten, dan pendekatan yang relevan bagi akun tersebut.

Konsep ini membuat sebuah perusahaan tidak hanya bertanya, “Bagaimana mendapatkan lebih banyak leads?”, tetapi juga, “Akun mana yang paling layak mendapatkan perhatian dan bagaimana cara membangun hubungan dengan akun tersebut?”

Artikel ini membahas apa itu Account-Based Marketing (ABM), cara kerja, karakteristik, manfaat, jenis, strategi penerapan, metrik yang perlu diukur, hingga perbedaannya dengan pendekatan pemasaran lainnya.

Apa Itu Account-Based Marketing (ABM)?

Account-Based Marketing (ABM) adalah strategi pemasaran B2B yang berfokus pada akun atau perusahaan tertentu sebagai target utama, kemudian mengoordinasikan aktivitas marketing dan sales untuk memberikan pendekatan yang relevan dan dipersonalisasi kepada akun tersebut.

Dalam ABM, perusahaan tidak sekadar mengejar individu atau lead secara terpisah. Sebaliknya, sebuah perusahaan target dipandang sebagai satu akun yang dapat melibatkan banyak orang dalam proses pembelian, seperti manajer, pengguna produk, bagian procurement, hingga eksekutif atau pengambil keputusan.

Salesforce menjelaskan ABM sebagai pendekatan B2B yang berfokus pada akun bernilai tinggi dan memberikan pengalaman yang sangat dipersonalisasi. Sementara itu, HubSpot mendefinisikannya sebagai strategi pertumbuhan ketika marketing dan sales bekerja sama untuk menciptakan pengalaman pembelian yang dipersonalisasi bagi sejumlah perusahaan bernilai tinggi.

Secara sederhana, ABM dapat dipahami sebagai pendekatan “account first”. Perusahaan terlebih dahulu menentukan akun mana yang ingin dimenangkan atau dikembangkan, memahami kebutuhan bisnis akun tersebut, kemudian menyusun aktivitas marketing dan sales berdasarkan karakteristik akun tersebut.

Pendekatan ini sangat relevan untuk bisnis B2B dengan produk atau layanan yang memiliki nilai transaksi relatif besar, siklus penjualan panjang, serta melibatkan banyak pihak dalam pengambilan keputusan.

Mengapa Account-Based Marketing Penting dalam B2B?

Proses pembelian B2B sering kali berbeda dengan pembelian konsumen. Keputusan tidak selalu dibuat oleh satu orang. Sebuah perusahaan yang sedang mempertimbangkan software enterprise, layanan cloud, keamanan siber, atau solusi hosting, misalnya, dapat melibatkan tim IT, procurement, finance, manajemen, dan pengguna akhir. Jika perusahaan hanya berfokus pada satu lead, sebagian proses pengambilan keputusan dapat terlewat.

ABM membantu perusahaan melihat akun secara lebih menyeluruh. Aktivitas marketing dan sales dapat diarahkan kepada berbagai pihak yang relevan dalam buying committee dengan pesan yang disesuaikan berdasarkan peran, kebutuhan, dan tahap perjalanan pembelian.

Gartner juga menjelaskan bahwa ABM mencakup proses mengidentifikasi akun target, mengaktifkannya melalui berbagai kanal, menyelaraskan marketing dengan sales melalui account plan, serta mengukur keberhasilan program.

Dengan demikian, ABM bukan sekadar metode mengirim iklan kepada perusahaan tertentu. ABM merupakan pendekatan strategis yang mencakup pemilihan akun, perencanaan, engagement, kolaborasi lintas tim, dan pengukuran hasil.

Karakteristik Utama Account-Based Marketing

Beberapa karakteristik utama yang membedakan ABM dari pemasaran B2B yang lebih umum adalah sebagai berikut.

Karakteristik Penjelasan
Berbasis akun Fokus utama adalah perusahaan atau akun tertentu, bukan sekadar kumpulan lead.
Target terbatas dan terpilih Perusahaan menentukan akun yang memiliki potensi bisnis atau nilai strategis tinggi.
Personalization Pesan, konten, penawaran, dan pengalaman disesuaikan dengan kebutuhan akun.
Sales dan marketing selaras Kedua tim bekerja menggunakan target, data, dan rencana yang lebih terkoordinasi.
Multi-channel Aktivitas dapat dilakukan melalui email, iklan digital, website, event, sales outreach, konten, dan kanal lainnya.
Berbasis data Pemilihan dan prioritas akun didukung data perusahaan, industri, engagement, serta informasi relevan lainnya.
Berorientasi pada revenue Keberhasilan tidak hanya dinilai dari jumlah leads, tetapi juga engagement akun, pipeline, peluang, dan pendapatan.

Gartner, misalnya, menjelaskan bahwa platform ABM dapat mendukung account discovery dan selection, planning, engagement, serta reporting. Aktivasi juga dapat dilakukan melalui berbagai kanal seperti display advertising, social advertising, email, dan sales engagement.

Bagaimana Cara Kerja Account-Based Marketing?

Secara umum, ABM berjalan dengan mengubah pola pemasaran dari mencari sebanyak mungkin lead menjadi menentukan akun yang paling bernilai dan membangun engagement secara terarah. Alurnya dapat digambarkan sebagai berikut yang setiap tahapnya memiliki peran penting:

Identifikasi akun → Prioritaskan akun → Riset akun → Identifikasi buying group → Susun strategi → Personalisasi konten → Jalankan kampanye → Sales follow-up → Ukur hasil → Optimasi

1. Menentukan Target Account

Langkah pertama adalah menentukan perusahaan mana yang layak menjadi target. Pemilihannya dapat mempertimbangkan berbagai faktor, seperti ukuran perusahaan, industri, lokasi, potensi pendapatan, kebutuhan terhadap produk, teknologi yang digunakan, tingkat kecocokan dengan ideal customer profile (ICP), dan peluang pertumbuhan.

Perusahaan sebaiknya tidak memilih akun hanya berdasarkan ukuran. Perusahaan besar belum tentu menjadi target terbaik jika kebutuhan dan karakteristiknya tidak sesuai dengan produk atau layanan yang ditawarkan.

2. Membuat Ideal Customer Profile (ICP)

ICP digunakan untuk menggambarkan karakteristik perusahaan yang paling sesuai dengan produk atau layanan. Misalnya, sebuah perusahaan menyediakan solusi keamanan jaringan untuk bisnis. ICP-nya dapat mencakup perusahaan dengan jumlah karyawan tertentu, memiliki infrastruktur IT yang kompleks, membutuhkan compliance tertentu, dan mempunyai kebutuhan keamanan yang tinggi. ICP kemudian digunakan sebagai dasar untuk menentukan akun mana yang perlu diprioritaskan.

3. Melakukan Account Research

Setelah target ditentukan, perusahaan perlu memahami akun tersebut secara lebih mendalam. Informasi yang dapat dianalisis antara lain:

  • industri dan model bisnis;
  • ukuran perusahaan;
  • produk atau layanan utama;
  • kondisi dan tantangan bisnis;
  • teknologi yang digunakan;
  • struktur organisasi;
  • pihak yang terlibat dalam keputusan pembelian;
  • kebutuhan atau pain point;
  • aktivitas digital;
  • hubungan perusahaan dengan vendor saat ini;
  • peluang ekspansi atau perubahan kebutuhan.

Riset tersebut membantu perusahaan menghindari pesan pemasaran yang terlalu umum.

4. Mengidentifikasi Buying Committee

Dalam B2B, orang yang pertama kali berinteraksi dengan perusahaan belum tentu merupakan pengambil keputusan akhir. Karena itu, ABM perlu memperhatikan buying committee, yaitu kelompok orang yang terlibat dalam proses pembelian. Contohnya:

Peran Kemungkinan kepentingan
User Kemudahan penggunaan dan manfaat operasional
IT Integrasi, keamanan, performa, dan teknis
Finance Biaya, efisiensi, dan business case
Procurement Harga, kontrak, dan ketentuan pembelian
Manager Dampak terhadap tim dan target bisnis
Executive ROI, risiko, dan dampak strategis

Pesan yang diberikan kepada setiap pihak tidak harus sama. Pendekatan tersebut memungkinkan perusahaan menyampaikan value proposition yang sesuai dengan kepentingan masing-masing.

5. Menyusun Account Plan

Account plan berisi strategi untuk mendekati dan mengembangkan akun tertentu. Rencana tersebut dapat mencakup:

  • tujuan akun
  • stakeholder utama
  • kebutuhan dan pain point
  • kompetitor
  • peluang bisnis
  • pesan utama
  • konten yang relevan
  • kanal komunikasi
  • aktivitas marketing
  • aktivitas sales
  • target engagement
  • indikator keberhasilan.

Dengan adanya account plan, marketing dan sales mempunyai acuan yang sama.

6. Membuat Konten yang Relevan

Konten ABM sebaiknya tidak berhenti pada personalisasi nama perusahaan. Personalisasi yang lebih bermakna dapat dilakukan dengan menghubungkan konten dengan industri, tantangan, kebutuhan, atau kondisi bisnis akun.

Sebagai contoh, perusahaan cybersecurity dapat membuat: “Panduan Keamanan Infrastruktur Cloud untuk Perusahaan Finansial”
dibandingkan hanya membuat: “Panduan Keamanan Cloud untuk Semua Bisnis.”

Konten pertama lebih spesifik apabila target akun berasal dari industri finansial dan memiliki kebutuhan yang berkaitan dengan keamanan cloud.

7. Menjalankan Engagement Multi-Channel

ABM dapat menggunakan berbagai kanal secara terkoordinasi. Beberapa contohnya adalah:

  • email marketing;
  • content marketing;
  • website personalization;
  • paid advertising;
  • LinkedIn atau social media;
  • webinar;
  • event;
  • direct mail;
  • sales outreach;
  • retargeting;
  • account-specific landing page.

Adobe juga menunjukkan bahwa strategi ABM dapat menggabungkan personalisasi website, email, advertising, event, sales outreach, webinar, dan berbagai aktivitas lainnya berdasarkan tingkat prioritas akun.

8. Melakukan Follow-Up oleh Sales

Ketika engagement mulai menunjukkan sinyal positif, sales dapat melakukan pendekatan yang lebih langsung. Misalnya, akun tertentu berulang kali mengakses konten tentang migrasi cloud. Sales dapat menggunakan informasi tersebut sebagai konteks untuk membuka percakapan yang lebih relevan.

Namun, engagement tidak selalu berarti akun sudah siap membeli. Karena itu, sinyal digital sebaiknya digunakan sebagai konteks untuk membantu sales, bukan sebagai satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan.

9. Mengukur dan Mengoptimalkan

Tahap terakhir adalah mengukur performa. Tim dapat mengevaluasi akun mana yang mengalami peningkatan engagement, akun mana yang masuk pipeline, berapa banyak peluang yang dihasilkan, dan apakah aktivitas tersebut memberikan kontribusi terhadap revenue. Hasil pengukuran kemudian digunakan untuk memperbaiki strategi berikutnya.

Jenis-Jenis Account-Based Marketing

ABM dapat diterapkan dengan tingkat personalisasi dan jumlah akun yang berbeda. Secara praktik, pendekatan yang sering digunakan dapat dibagi menjadi tiga bentuk utama.

1. One-to-One ABM

One-to-One merupakan bentuk ABM dengan tingkat personalisasi paling tinggi. Tim membuat strategi khusus untuk akun tertentu. Riset akun lebih mendalam dan aktivitas dapat melibatkan konten khusus, event, komunikasi langsung, atau pendekatan sales yang sangat terarah. Model ini cocok untuk akun yang memiliki nilai bisnis sangat tinggi sehingga investasi waktu dan sumber daya untuk personalisasi dapat dibenarkan.

2. One-to-Few ABM

Pada model One-to-Few, perusahaan mengelompokkan beberapa akun yang mempunyai karakteristik serupa. Contohnya, perusahaan dapat membuat satu program khusus untuk 10–20 perusahaan dalam industri manufaktur dengan kebutuhan teknologi yang relatif sama. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan mempertahankan personalisasi tanpa harus membuat strategi yang sepenuhnya berbeda untuk setiap akun.

3. One-to-Many atau Programmatic ABM

One-to-Many menggunakan teknologi dan data untuk menjalankan prinsip ABM terhadap jumlah akun yang lebih besar. Personalisasi biasanya dilakukan berdasarkan atribut seperti industri, ukuran perusahaan, lokasi, teknologi yang digunakan, atau karakteristik tertentu. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan menggabungkan prinsip account-based marketing dengan automation dan digital advertising.

Manfaat Account-Based Marketing

ABM dapat memberikan beberapa manfaat bagi perusahaan B2B apabila diterapkan pada konteks dan target akun yang tepat.

1. Memfokuskan Sumber Daya

Alih-alih mengalokasikan anggaran secara merata kepada semua prospek, perusahaan dapat memusatkan sumber daya pada akun yang dianggap paling bernilai. Hal ini membantu tim memprioritaskan aktivitas yang mempunyai hubungan lebih dekat dengan tujuan bisnis.

2. Meningkatkan Relevansi Komunikasi

Karena informasi mengenai akun digunakan dalam penyusunan pesan, komunikasi dapat dibuat lebih relevan. Calon pelanggan tidak hanya menerima informasi umum tentang produk, tetapi dapat menerima materi yang berhubungan dengan masalah bisnis yang kemungkinan mereka hadapi.

3. Mendorong Kolaborasi Marketing dan Sales

ABM membutuhkan koordinasi yang lebih erat antara marketing dan sales. Keduanya perlu menyepakati akun target, informasi akun, strategi engagement, serta indikator keberhasilan. HubSpot mencantumkan alignment antara marketing dan sales sebagai salah satu manfaat utama ABM.

4. Membantu Meningkatkan Kualitas Pipeline

ABM tidak hanya mengejar jumlah lead. Fokusnya adalah akun yang mempunyai potensi dan kesesuaian lebih tinggi dengan bisnis. Karena itu, pendekatan ini dapat membantu perusahaan mengarahkan perhatian kepada peluang yang lebih strategis.

5. Mendukung Hubungan Jangka Panjang

ABM tidak harus berhenti ketika transaksi berhasil. Pendekatan berbasis akun dapat dilanjutkan untuk customer retention, upselling, cross-selling, dan pengembangan hubungan dengan akun yang sudah menjadi pelanggan. Dengan demikian, ABM dapat diterapkan pada berbagai tahap customer lifecycle.

6. Mempermudah Pengukuran Berdasarkan Akun

Pendekatan berbasis akun memungkinkan perusahaan melihat performa berdasarkan akun, bukan hanya berdasarkan jumlah leads atau campaign. Perusahaan dapat melihat bagaimana aktivitas marketing berkontribusi terhadap engagement, opportunity, pipeline, hingga revenue.

Perbedaan ABM dan Lead-Based Marketing

ABM sering dibandingkan dengan pendekatan lead-based marketing. Keduanya memiliki tujuan bisnis yang sama, tetapi cara menentukan prioritasnya berbeda.

Aspek ABM Lead-Based Marketing
Fokus Akun/perusahaan Individu atau lead
Target Akun yang telah diprioritaskan Lead yang memenuhi kriteria
Pendekatan Account-centric Lead-centric
Personalisasi Berdasarkan akun dan buying group Berdasarkan karakteristik lead
Sales & marketing Sangat terkoordinasi Dapat lebih terpisah
Cocok untuk B2B dengan akun bernilai tinggi Lead generation dalam skala luas
Pengukuran Engagement akun, pipeline, revenue Leads, MQL, SQL, conversion
Skala Lebih selektif Umumnya lebih luas

Perbedaan ABM dan Inbound Marketing

ABM dan inbound marketing juga tidak harus diposisikan sebagai dua strategi yang saling bertentangan. Inbound marketing umumnya berusaha menarik audiens melalui konten, SEO, edukasi, dan pengalaman digital. ABM lebih dahulu menentukan akun prioritas kemudian mengarahkan aktivitas pemasaran kepada akun tersebut.

Aspek ABM Inbound Marketing
Titik awal Target account Audiens atau buyer persona
Arah pendekatan Sangat terarah Menarik audiens melalui konten
Target Akun tertentu Audiens yang lebih luas
Personalisasi Tinggi Berdasarkan persona/segmen
Skala Selektif Relatif luas
Tujuan utama Memenangkan atau mengembangkan akun strategis Menarik dan mengonversi prospek
Hubungan Dapat berjalan bersama Dapat mendukung ABM

HubSpot juga menekankan bahwa inbound dan ABM dapat digunakan secara komplementer, bukan harus dipilih salah satu.

Contoh Penerapan Account-Based Marketing

Misalnya sebuah perusahaan menyediakan layanan managed cloud hosting untuk perusahaan B2B.

Perusahaan tersebut memiliki daftar 50 calon akun yang dianggap memiliki potensi tinggi. Setelah dianalisis, 10 akun berasal dari industri e-commerce, memiliki trafik tinggi, dan menggunakan infrastruktur cloud yang membutuhkan skalabilitas lebih baik. Perusahaan kemudian membuat strategi ABM.

Pertama, tim menentukan 10 perusahaan tersebut sebagai target account. Setelah itu, tim mempelajari kebutuhan setiap akun, termasuk teknologi yang digunakan, potensi masalah performa, kebutuhan keamanan, dan pihak yang mungkin terlibat dalam keputusan. Marketing kemudian membuat konten mengenai optimasi infrastruktur cloud untuk e-commerce skala besar. Beberapa akun juga mendapatkan undangan webinar khusus mengenai peningkatan reliability dan scalability.

Pada saat yang sama, sales mempelajari stakeholder pada masing-masing perusahaan. Ketika terdapat akun yang menunjukkan engagement tinggi, sales melakukan pendekatan yang relevan berdasarkan konteks interaksi tersebut. Dalam skenario ini, perusahaan tidak sekadar berusaha mendapatkan sebanyak mungkin leads. Perusahaan berusaha memenangkan akun tertentu dengan pendekatan yang terkoordinasi antara marketing dan sales.

Cara Membuat Strategi ABM yang Efektif

Penerapan ABM sebaiknya dimulai secara terstruktur dan tidak langsung menggunakan personalisasi ekstrem pada semua akun.

1. Tentukan Tujuan Bisnis

Tentukan terlebih dahulu tujuan ABM. Contohnya:

  • mendapatkan akun enterprise baru;
  • meningkatkan pipeline;
  • meningkatkan conversion pada akun strategis;
  • meningkatkan customer retention;
  • meningkatkan cross-selling;
  • meningkatkan upselling;
  • memasuki industri tertentu.

Tujuan tersebut akan menentukan akun, kampanye, dan metrik yang digunakan.

2. Tentukan ICP dan Target Account

Gunakan data historis pelanggan terbaik untuk menemukan karakteristik akun yang paling sesuai. Setelah itu, buat daftar target account berdasarkan tingkat prioritas.

3. Selaraskan Marketing dan Sales

Marketing dan sales harus memiliki pemahaman yang sama mengenai:

  • siapa targetnya;
  • mengapa akun tersebut penting;
  • siapa stakeholder-nya;
  • apa kebutuhan akun;
  • bagaimana pendekatan dilakukan;
  • kapan sales perlu terlibat;
  • bagaimana keberhasilan diukur.

4. Buat Account Plan

Setiap akun prioritas perlu memiliki informasi dan rencana yang cukup untuk membantu tim memahami konteks bisnisnya. Tidak semua akun membutuhkan account plan dengan tingkat kedalaman yang sama. Akun bernilai sangat tinggi dapat memperoleh riset dan personalisasi lebih mendalam.

5. Pilih Kanal yang Tepat

Tidak semua akun harus didekati melalui semua kanal. Pemilihan kanal sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik audiens dan tujuan kampanye. Kanal yang dapat digunakan antara lain email, website, paid media, social media, event, webinar, content marketing, dan sales outreach.

6. Buat Konten yang Spesifik

Konten harus memberikan alasan yang jelas mengapa akun tersebut perlu memperhatikan solusi yang ditawarkan. Personalisasi sebaiknya didasarkan pada insight nyata, bukan hanya mengganti nama perusahaan pada template email.

7. Gunakan Teknologi Secukupnya

Teknologi dapat membantu proses account identification, lead-to-account matching, personalization, campaign orchestration, engagement tracking, dan reporting. Namun, teknologi bukan inti dari ABM. Strateginya tetap harus dimulai dari target akun, kebutuhan bisnis, dan koordinasi antar-tim.

Adobe Marketo, misalnya, menjelaskan komponen target account management yang mencakup account discovery, lead-to-account matching, named account lists, personalization, cross-channel engagement, serta pengukuran account engagement dan pipeline.

8. Mulai dengan Pilot

Daripada langsung menerapkan ABM pada ratusan atau ribuan akun, perusahaan dapat memulai dari kelompok akun prioritas. Pilot membantu tim memahami:

  • jenis pesan yang paling efektif;
  • kanal yang menghasilkan engagement;
  • hambatan koordinasi;
  • kualitas data;
  • efektivitas sales follow-up;
  • metrik yang paling relevan.

Setelah proses semakin matang, program dapat diperluas.

Metrik yang Perlu Diukur dalam ABM

Pengukuran ABM sebaiknya tidak hanya menggunakan metrik marketing tradisional.

Metrik Apa yang Diukur
Account engagement Seberapa aktif target account berinteraksi
Engaged contacts Jumlah stakeholder dalam akun yang terlibat
Meeting Jumlah pertemuan dengan stakeholder target
Opportunity Jumlah peluang yang terbentuk
Pipeline value Nilai pipeline dari target account
Win rate Persentase opportunity yang berhasil menjadi pelanggan
Sales cycle Lama proses dari opportunity hingga closing
Deal size Nilai transaksi rata-rata
Customer retention Kemampuan mempertahankan akun
Expansion revenue Pendapatan tambahan dari akun yang sudah ada
Revenue Pendapatan yang berhubungan dengan program ABM
ROI Perbandingan hasil bisnis dengan investasi program

Pengukuran berdasarkan revenue menjadi penting karena tujuan akhir ABM bukan sekadar meningkatkan engagement, tetapi menghasilkan dampak bisnis yang nyata. Adobe Marketo Measure juga menyediakan pendekatan account-based attribution untuk menghubungkan touchpoint marketing dengan akun dan peluang, sehingga aktivitas marketing dapat dianalisis dalam konteks pipeline dan revenue.

Tantangan dalam Menerapkan ABM

Meskipun menawarkan pendekatan yang lebih terarah, ABM bukan strategi yang selalu mudah diterapkan.

  • Data Tidak Akurat

ABM membutuhkan informasi akun yang cukup baik. Data perusahaan, jabatan, struktur organisasi, atau informasi engagement yang tidak akurat dapat membuat targeting menjadi kurang tepat.

  • Marketing dan Sales Tidak Selaras

ABM membutuhkan kerja sama yang erat. Jika marketing dan sales menggunakan definisi target akun atau prioritas yang berbeda, program dapat berjalan tidak efektif.

  • Personalisasi Membutuhkan Sumber Daya

Semakin tinggi tingkat personalisasi, semakin besar pula kebutuhan waktu, data, kreativitas, dan koordinasi. Karena itu, perusahaan perlu menyesuaikan tingkat personalisasi dengan nilai dan prioritas akun.

  • Sulit Mengukur Dampak Secara Instan

Siklus pembelian B2B dapat berlangsung cukup lama. Engagement yang terjadi hari ini belum tentu langsung menghasilkan transaksi. Pengukuran ABM sebaiknya mempertimbangkan perjalanan akun dari engagement hingga pipeline dan revenue.

  • Terlalu Bergantung pada Teknologi

Platform ABM dapat membantu mengotomatisasi berbagai aktivitas, tetapi penggunaan software tidak otomatis membuat sebuah program menjadi ABM yang efektif. Strategi, kualitas data, relevansi pesan, dan koordinasi tim tetap menjadi fondasi utama.

Apakah Semua Bisnis Membutuhkan ABM?

Tidak semua bisnis membutuhkan Account-Based Marketing (ABM). Strategi ini umumnya lebih sesuai untuk perusahaan B2B yang memiliki nilai kontrak relatif tinggi, target account yang dapat diidentifikasi, proses pembelian yang kompleks, serta melibatkan beberapa stakeholder dalam pengambilan keputusan. ABM juga cocok bagi bisnis yang memiliki sales cycle panjang dan peluang untuk melakukan upselling atau cross-selling kepada akun strategis.

Sebaliknya, bisnis yang mengandalkan akuisisi pelanggan dalam jumlah besar dengan nilai transaksi relatif rendah dan proses pembelian sederhana mungkin lebih efektif menggunakan inbound marketing atau pemasaran dengan jangkauan yang lebih luas. Meskipun demikian, ABM dan inbound marketing tidak harus dipilih salah satu. Perusahaan dapat menggunakan ABM untuk akun strategis, sementara inbound marketing dan lead generation digunakan untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Peran Teknologi dalam Account-Based Marketing

Perkembangan teknologi membuat ABM semakin mudah dijalankan dalam skala besar. Beberapa kategori teknologi yang dapat mendukung ABM antara lain:

  • CRM
    Digunakan untuk menyimpan informasi akun, kontak, aktivitas sales, dan peluang.
  • Marketing automation
    Membantu menjalankan email, workflow, segmentasi, dan nurturing.
  • Analytics dan attribution
    Membantu memahami engagement serta kontribusi aktivitas marketing terhadap pipeline dan revenue.
  • Advertising platforms
    Dapat digunakan untuk menjangkau audiens dari akun yang telah ditentukan.
  • Website personalization
    Dapat menyesuaikan pengalaman berdasarkan karakteristik akun atau segmen.
  • Data enrichment
    Membantu melengkapi informasi perusahaan dan kontak.
  • ABM platforms
    Menggabungkan berbagai kemampuan untuk membantu proses account selection, engagement, orchestration, dan reporting.

Gartner menjelaskan bahwa platform ABM pada dasarnya mendukung tim marketing dan sales dalam menjalankan program ABM pada skala yang lebih besar, termasuk account discovery, selection, planning, engagement, dan reporting.

Hubungan ABM dengan Account-Based Experience (ABX)

Istilah Account-Based Experience (ABX) sering digunakan untuk menggambarkan pendekatan yang lebih luas terhadap pengalaman akun. Jika ABM menekankan aktivitas pemasaran berbasis akun, ABX memperluas prinsip tersebut ke berbagai interaksi sepanjang customer journey.

Tujuannya adalah memastikan akun mendapatkan pengalaman yang konsisten dan relevan dari berbagai fungsi perusahaan, bukan hanya dari marketing. Karena itu, ABM dapat menjadi bagian dari pendekatan account-centric yang lebih luas.

Prinsip Penting agar ABM Tidak Menjadi Spam

Personalisasi bukan berarti mengirim pesan sebanyak mungkin kepada target account. ABM yang baik tetap memperhatikan relevansi dan konteks ⇒ Beberapa prinsip yang perlu diterapkan adalah:

  1. Jangan memilih akun hanya karena ukurannya besar ⇒  Pastikan ada kesesuaian dengan ICP.
  2. Jangan mengandalkan satu kontak ⇒ Pahami buying group jika proses pembelian melibatkan banyak pihak.
  3. Jangan membuat personalisasi palsu ⇒ Pesan harus memiliki relevansi nyata.
  4. Jangan mengirim komunikasi berlebihan ⇒ Frekuensi harus mempertimbangkan engagement dan konteks.
  5. Jangan mengukur keberhasilan hanya dari klik ⇒ Hubungkan aktivitas dengan pipeline dan hasil bisnis.
  6. Jangan memisahkan marketing dan sales ⇒ Keduanya harus memiliki account strategy yang selaras.
  7. Jangan menganggap semua akun membutuhkan pendekatan yang sama ⇒ Prioritaskan berdasarkan nilai dan kebutuhan.

Kesimpulan

Account-Based Marketing (ABM) adalah strategi pemasaran B2B yang berfokus pada akun atau perusahaan tertentu dengan pendekatan yang relevan dan dipersonalisasi. Strategi ini mengutamakan kualitas akun, koordinasi marketing dan sales, serta potensi pipeline dan revenue dibandingkan sekadar mengejar jumlah leads.

ABM dapat diterapkan dengan menentukan Ideal Customer Profile (ICP), memilih target account, memahami kebutuhan akun, membuat konten yang relevan, menjalankan engagement, dan mengukur hasilnya. Strategi ini juga dapat berjalan bersama inbound marketing dan lead generation sesuai kebutuhan bisnis.

Untuk memperdalam wawasan tentang SEO, digital marketing, website, dan teknologi, Anda dapat membaca berbagai panduan di Blog Hosteko. Jika membutuhkan layanan hosting untuk mendukung website bisnis, Hosteko Hosting Indonesia juga menyediakan solusi hosting yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan website Anda.

5/5 - (1 vote)
Fitri Ana

Recent Posts

AnyDesk untuk Kerja Remote: Pengertian, Fungsi & Kelebihan

Perkembangan pola kerja jarak jauh membuat kebutuhan untuk mengakses komputer kantor dari rumah atau lokasi…

8 hours ago

Apa Itu Rolling Deployment? Panduan Lengkap dan Cara Kerjanya

Dalam pengembangan aplikasi modern, pembaruan software perlu dilakukan secara berkala untuk memperbaiki bug, meningkatkan performa,…

12 hours ago

Fungsi Command Prompt: Pengertian dan Kegunaan CMD

Apa Saja Fungsi Command Prompt? Command Prompt memiliki berbagai fungsi yang memungkinkan pengguna menjalankan tugas…

12 hours ago

Command Prompt Adalah: Pengertian, Fungsi, dan CMD

Command Prompt atau yang sering disingkat CMD adalah antarmuka baris perintah (command-line interface/CLI) pada Windows…

1 day ago

Optimasi Website E-Commerce agar Siap Jualan

Setelah domain, hosting, WordPress, tema, WooCommerce, produk, pembayaran, dan pengiriman berhasil dikonfigurasi, website e-commerce sebenarnya…

1 day ago

Ransomware as a Service (RaaS): Ancaman Siber yang Perlu Diwaspadai

Ransomware merupakan salah satu ancaman siber yang dapat mengganggu operasional organisasi dengan cara mengenkripsi data…

1 day ago